
Dimas yang tidak sadarkan diri karena kehilangan tenaga disebabkan kekuatan yang dimilikinya membuat Arabella menjadi cemas terlebih melihat kedatangan Edo jauh-jauh ke Villa Pribadi.
"Apakah Dimas baik-baik saja?" tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang cemas sambil duduk di samping Dimas yang terbaring di tempat tidurnya.
"Tuan Muda baik-baik saja. Tuan Muda sudah sering seperti ini dan biasanya Tuan Muda akan kembali sehat lagi setelah beberapa hari lagi. Nona tidak perlu khawatir." ucap Edo mencoba menenangkan Arabea yang ternyata semakin membuat Arabella semakin cemas dan khawatir.
"Apa? Ini sering terjadi. Apakah kalian tidak membawanya ke Rumah Sakit untuk mengecek kondisinya?" tanya Arabella dengan nada suara yang tinggi dan ekspresi wajah ketakutan.
"Tuan Muda tidak mau dibawa ke Rumah Sakit dan kami dilarang membawa Tuan Muda ke Rumah Sakit karena Tuan Muda adalah Pewaris Perusahaan terbesar di Indonesia. Jika berita dirinya jatuh sakit tersebar maka akan ada perubahan besar di Perusahaan." ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius dan nada bicara yang tinggi penuh penekanan di beberapa kata.
"Perubahan? Apakah Keluarga Heru?" gumam Arabella dengan suara rendah sambil menatap wajah Dimas yang terbaring dengan wajah pucat.
"Benar sekali. Tidak hanya Keluarga Tuan Muda Heru tapi juga musuh dari Perusahaan-Perusahaan lain yang ingin menghancurkan dan mengambil alih Perusahaan jika berita Tuan Muda Sakit tersebar." ucap Edo sambil menatap mata Arabella berharap Arabella mengerti.
"Konsekuensi yang lebih parah akan adanya serangan pembunuhan secara diam-diam untuk mempercepat kematian Tuan Muda!" ucap Edo dengan wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.
"A-apa? Ta-tapi apakah Dimas tidak perlu diperikaa oleh Dokter? Lihatlah kondisinya saat ini." ucap Arabella dengan nada khawatir dan ekspresi wajah yang sedih seolah siap menangis kapanpun.
"Untuk itu Nona tidak perlu khawatir. Dokter sudah dalam perjalanan kemari dan akan segera memeriksa kondisi Tuan Muda." ucap Edo penuh percaya diri samb meletakkan tangan di dadanya seolah bersumpah.
"Ba-baguslah kalau begitu. Semoga Dimas cepat sadar." ucap Arabella dengan wajah yang sedih sambil menggenggam tangan Dimas yang tidak sadarkan diri.
Arabella yang ditinggal berdua bersama Dimas menemukan Arloji milik Dimas. Arloji yang selalu dibawa dan disimpan Dimas di sisinya.
"Arloji! Bukankah ini Arloji yang pernah Dimas tunjukkan padaku? Apa jangan jangan terjadi sesuatu semalam dan Dimas menggunakan Kekuatannya makanya dia jadi seperti ini?" ucap Arabella dengan berbagai asumsi yang ada di kepalanya sambil mengambil Arloji milik Dimas dan melihatnya dengan seksama tapi tidak menemukan keanehan.
__ADS_1
Arabella yang tidak bisa mendapatkan jawaban apapun hingga Dimas tersadar pun hanya bisa berdoa agar Dimas dapat segera sadar dan menjelaskan semuanya.
"Semoga kau cepat sadar. Aku tidak mengerti dengan hati ini, melihatmu seperti ini rasanya sangat sakit. Aku mohon sadarlah!" ucap Arabella dengan suara rendah sambil membisikkan kata di telinga Dimas lalu mencium pipi Dimas yang masih tidak sadarkan diri.
Arabella yang pergi ke Villa bersama Dimas dengan tujuan menenangkan diri dari masalah yang dihadapi Clara tidak menyangka jika perasaan bersalah dan kasihan terhadap Clara telah menghilang digantikan perasaan takut akan kehilangan seseorang.
Sementara itu, Clara yang tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan masalah Konferensi Pers yang akan dilakukannya di pagi hari membuat Clara terjaga semalaman.
Shaha yang melihat kondisi Clara merasa sangat senang dan penuh semangat dan tidak sabar menunggu Konferensi Pers dimulai.
"Jangan terlalu sedih karena ini baru awalnya Clara! Masih banyak hal yang akan terjadi dalam waktu dekat. Jadi persiapkan mental dan fisikmu." ucap Shaha dalam hati sambil melihat mata Arabella yang menghitam seperti panda.
Shaha yang sangat yakin jika akan ada banyak sekali wartawan yang datang dan menunggu Clara di depan Apartemennya pun meminta bantuan Penjaga Keamanan agar dapat keluar tanpa ada gangguan.
"Clara kau harus pakai kacamata hitam dan topi ini. Matamu sangat gelap dan sepertinya kau tidak tidur semalaman padahal aku sudah memintamu untuk istirahat." ucap Shaha dengan nada pura-pura cemas sambil memberikan kacamata hitam dan topi berwarna putih yang senada dengan baju kaos yang dipakai Clara.
"Terima kasih." ucap Clara dengan wajah tanpa ekspresi seolah tidak ada niatan mengatakan kata itu.
Shaha yang mendengar perkataan Clara tidak menganggapnya sama sekali karena menurut Shaha, semua yang dilakukan Clara tidak ada yang tulus.
"Ayo kita pergi. Penjaga Keamanan sudah ada di depan pintu." ucap Shaha dengan penuh percaya diri dan semangat yang menggebu-gebu.
Shaha dan Clara pun pergi keluar dari Apartemen menuju lokasi Konferensi Pers menaiki mobil yang telah disiapkan dengan kecepatan yang sedang.
Di tempat Konferensi Pers, Pihak Agensi yang berencana membantu Clara membersihkan namanya tidak menyangka mendapatkan berita tentang perlakuan-perlakuan buruk Clara.
__ADS_1
"Apa-apaan berita ini? Darimana datangnya semua informasi ini?" tanya Manager Agensi tempat Clara mengembangkan sayap keartisannya.
"Kenapa semua berita ini baru keluar sekarang? Siapa yang telah menyebarkan berita ini?" tanya Manager Agensi lagi sambil membaca berita online dari perangkat elektronik yang ada di tangannya.
"Sepertinya ada seseorang yang sengaja ingin menghancurkan karir Clara makanya semua informasi buruk ini tersebar." ucap salah seorang pekerja yang membantu melakukan Konferensi Pers.
"Saya juga berfikiran yang sama. Sepertinya masalah ini tidaklah sesederhana itu dan jika kita masuk lalu membantu Clara saya takut Agensi kita akan dalam masalah cepat atau lambat." ucap salah seorang wanita dengan rambut pendek memegang beberapa lembar berkas penting di tangannya.
Pihak Agensi yang mulai merasa dijebak oleh Clara pun menjadi sangat marah dan membuat keputusan sepihak yang berdampak besar pada karir Clara.
"Clara Pricilia! Sebenarnya siapa yang telah kau provikasi?" tanya salah seorang yang ada di ruang rapat sebelum Acara Konferensi Pers dimulai.
"Orang ini tidak hanya memiliki uang tapi juga kekuasaan dan pengaruh yang besar. Kita bisa ikut memprovokasi orang ini, Pak. Jika tidak Agensi ini akan ikut hancur bersamaan dengan karir Clara." ucap salah seorang pria muda yang juga ada di ruangan itu.
"Baiklah. Kalau begitu kita mulai saja Konferensi Pers ini tanpa menunggu kedatangan Clara dan kita harus mengambil sikap untuk memecat Clara dari Agensi." ucap Manager Agensi dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang lurus ke depan.
"Baik!" dijawab serempak oleh semua orang yang ada di ruangan dengan ekspresi wajah yang serius.
Setelah melakukan rapat, semua orang pun segera menjalankan tugasnya masing-masing dan bersiap memulai Konferensi Pers tanpa kehadiran Clara.
Shaha yang berada di dalam mobil bersama Clara mendapatkan informasi mengenai semua pembicaraan yang terjadi di ruang rapat pun akhirnya mendapatkan informasi yang sudah sangat ditunggu olehnya.
"Tidak sia-sia aku mentraktir Kakak Senior makan dan membelikannya tas brended ternyata hasil kerjanya sangat bagus. Kali ini aku sangat yakin tamat sudah karirmu, Clara Pricilia!" ucap Shaha dalam hati sambil mendengar suara rekaman percakapan hasil rapat yang dikirim ke handphonenya.
#Bersambung#
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..
Terima kasih