
Pak Antoni yang membuka pintu Ruang Rapat Perusahaan dengan ekspresi wajah yang dingin dengan sangat lebar membuat semua orang yang ada di dalamnya menjadi terkejut tidak terkecuali Pak Bambang dan Heru.
“Pak Antoni! Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak tau tempat apa ini?” teriak Heru dengan ekspresi wajah yang kesal dengan gangguan yang tiba-tiba muncul di saat semua sudah hampir di tangan.
“Dimana Penjaga? Seret orang ini keluar, sekarang! Dia tidak punya hak untuk berada di sini!” teriak Pak Bambang dengan suara yang sangat keras dan tinggi dengan ekspresi wajah yang marah dengan mata yang melotot tajam.
Namun tidak ada Seorang pu Penjaga yang datang sehingga membuat Pak Bambang semakin kesal dan memukul meja yang ada di depannya dengan sangat keras.
Lalu tiba-tiba Dimas yang bersembunyi di balik tembok tiba-tiba berjalan masuk ke dalam Ruang Rapat Perusahaan dan mengagetkan semua orang.
“Ada apa Paman? Kenapa kau marah-marah? Apakah ada yang membuat Paman marah?” sindir Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dengan tatapan mata yang tajam dan kata-kata yang pedas.
“Di-Dimas!” ucap Heru dengan nada suara yang gagap dan ekspresi wajah yang pucat seperti mayat dengan mata yang terbuka sangat lebar
__ADS_1
“Halo, Heru! Kenapa wajahmu seperti itu? Kenapa kau terlihat sangat terkejut? Apakah kau tidak menyangka jika aku bisa selamat dari Kecelakaan Pesawat?” sindir Dimas dengan tatapan mata yang dingin dan menusuk.
Pak Bambang yang mendengar perkataan Dimas pun mencoba untuk membela dirinya dan Heru lalu berpura-pura senang akan kembalinya Dimas.
“Agh! Dimas! Jangan salah paham! Heru tentu saja sangat senang melihatmu ada di sini. Dia hanya sedang terkejut dan tidak bisa mempercayai penglihatannya!” ucap Pak Bambang dengan nada suara yang gugup dengan ekspresi wajah yang cemas dengan keringat yang mengalir ke dahinya
“Benarkan?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang curiga serta nada suara yang tidak percaya.
“Tentu saja. Aku sangat senang melihatmu selamat. Aku hanya terkejut dan kehilangan kata-kata karena terlalu senang.” Ucap Heru sambil tertawa kecil dengan senyum yang hambar.
Dimas yang telah berhasil menggagalkan rencana Pak Bambang dan Heru yang ingin menguasai Perusahaan milik Orangtuanya pun memulai serangan balasan bagian kedua.
“Hmmm, jika kau begitu senang berarti Paman pasti tidak masalah dengan mengembalikan dua puluh persen saham milik Kakek kepadaku!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum lembut dan jahat yang disembunyikan dibalik wajahnya yang tampan.
__ADS_1
Pak Bambang yang tidak bisa menyerahkan Saham yang diberikan oleh Ayahnya kepada Dimas pun mencoba menolak.
“Tidak! Itu tidak bisa! Bagaimana bisa kau meminta Saham yang telah diberikan Kakekmu pada Paman begitu saja?” tanya Pak Bambang dengan ekspresi wajah yang terkejut.
“Hmmm, kenapa tidak? Bukankah Saham tersebut memang seharusnya menjadi milikku yang merupakan Pewaris Sah dari Perusahaan Arthama Jaya Group!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang dingin dengan nada suara yang tegas dengan penuh penekanan.
Dimas yang tidak ingin kehilangan kesempatan yang sangat berharga pun berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di samping Pak Bambang.
“Paman! Orang yang kau perintahkan untuk membuatku Kecelakaan Pesawat sudah berada di tanganku!” ucap Dimas dengan nada suara yang sangat rendah di balik telinga Pak Bambang.
Pak Bambang yang mendenganya pun menjadi pucat tapi langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi tenang kembali dan mencoba untuk mengelak tapi Dimas mengeluarkan sesuatu yang membuat Pak Bambang akhirnya menyerah.
Bersambung
__ADS_1
Apa yang dikeluarkan Dimas ya? Tebak di kolom komentar ya..