
Malam pun datang, Dimas yang telah datang lebih dulu menunggu Arabella di Ruang Makan sambil membuka berita yang ada di Handphonenya.
"Sepertinya Edo telah melaksanakan tugas yang aku berikan. Aku harus menghukum Clara agar dia berhenti bertindak sesukanya pada Arabella." ucap Dimas dalam hati dengan senyum sinis di wajahnya sambil meletakkan satu tangan di sakunya dan tangan lainnya memegang handphone.
Tak lama kemudian, Arabella pun datang dengan memakai baju kaos berwarna merah muda dan celana jins berwarn hitam. Arabella yang sudah mulai terbiasa dengan Kediaman Arthama Jaya tidak merasa asing lagi dalam berpakaian.
"Maafkan aku telat."ucap Arabella sambil menundukkan kepala sambil berjalan menunju kursinya dengan senyum di wajahnya.
"Kau tidak terlambat. Aku baru saja datang. Ayo kita mulai makannya." ucap Dimas dengan senyum lembut melihat ke arah Arabella dengan menunjukkan menu makan malam yang telah terhidang di meja makan.
Mereka berdua pun makan bersama dalam keadaan diam. Arabella yang tidak menyukai suasana yang begitu tenang mencoba mencairkan suasana.
"Ehem, kau bilang ada yang ingin dibicarakan denganku?" tanya Arabella dengan santai sambil memakan makanannya sambil menatap Dimas yang masih fokus dengan piring makanan yang ada di depannya.
"Aku akan mengatakan sesuatu yang pastinya akan menghancurkan moodmu yang sedang bagus saat ini. Aku juga tidak ingin kau kehilangan nafsu makanmu setelah mendengarnya sekarang." ucap Dimas dengan nada tegas dan tanpa ekspresi yang sedang melanjutkan makan malamnya tanpa terganggu.
"Jadi aku putuskan akan memberi taumu setelah kita menyelesaikan makan malam ini terlebih dahulu. Bagaimana Arabella?" tanya Dimas lagi yang mengangkat kepalanya lalu melihat ke mata Arabella sambil tersenyum lembut.
"Baiklah. Ayo kita habiskan makanan ini dengan cepat kalau begitu!" ucap Arabella sambil tersenyum lembut dan kemudian melanjutkan makannya.
"Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Dimas sehingga hal itu akan menghancurkan suasana hatiku? Aku jadi penasaran!" ucap Arabella dalam hati dengan senyum simpul dan rasa ingin tau yang tinggi.
Hanya dalam waktu 15 menit, makanan yang ada di piring Arabella telah habis hingga akhirnya Arabella dan Dimas memutuskan untuk pergi ke Taman Kaca untuk berbicara.
"Bisa kau katakan apa yang ingin kau katakan? Sejujurnya aku sudah sangat penasaran!" desak Arabella yang berhenti berjalan dan berbalik hingga Arabella berdiri tepat di depan Dimas dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.
"Baiklah. Aku akan mengatakannya sekarang. Apa kau ingat salah satu pelayan yang pergi bersamamu saat kau tidak sengaja bertemu Clara?" tanya Dimas yang seolah sedang bermain teka-teki dengan Arabella sambil tersenyum licik dengan dua tangan berada di dalam sakunya, Dimas perlahan berjalan ke kursi yang ada di Taman Kaca itu.
"Aku ingat. Kenapa?" tanya Arabella yang binggung dengan ekspresi meminta penjelasan yang kemudian mengikuti Dimas berjalan ke kursi dam kemudian duduk di samping Dimas.
"Siti! Dia adalah mata-mata Clara!" ucap Dimas dengan nada yang cukup tinggi saat mengatakan (mata-mata).
"Apa? Tidak mungkin!" teriak Arabella yang tidak percaya yang langsung berdiri karena terkejut dengan dua tangan ada di atas meja dengan mata dan mulut yang terbuka lebar.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Buktinya aku bisa menghentikan waktu." ucap Dimas dengan penuh percaya diri sambil menatap ke langit melihat bintang-bintang dengan dua tangan berada di saku celananya.
__ADS_1
"Kau harus sadar jika tidak semua orang baik begitu pula denganku. Aku bukanlah orang yang 100% baik." ucap Dimas lagi yang kemudian melihat Arabella yang terdiam menundukkan kepalanya.
"Kau pun bukan orang baik?" ucap Arabella yang bingung sambil menatap Dimas dengan wajah terkejut.
"Benar! Aku adalah orang yang jahat dan kejam kepada orang yang berniat buruk dan orang yang telah melakukan hal buruk padaku. Kau pun harus tau cara menghadapi orang yang tidak memperlakukanmu dengan baik meskipun dia sangat dekat denganmu awalnya." ucap Dimas memperingati Arabella dengan wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.
"Aku tidak berniat membuatmu menjadi orang jahat bella. Aku hanya membantumu mengenal dirimu sebenarnya, kau adalah Shiena Ve Cerrole, Permaisuriku, Wanitaku satu-satunya." ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi sedih dan mata yang senduh karena mengingat kenangan indah dirinya dan Arabella di kehidupan yang lalu.
"Aku mengerti! Aku ingin bertemu dengan Siti!" pinta Arabella yang telah menetapkan keputusan dengan wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.
"Ikuti aku!" perintah Dimas kepada Arabella yang kemudian berdiri dari kursinya.
Dimas pun mengajak Arabella pergi Ruang Bawah Tanah di Kediaman Arthama Jaya. Tempat dimana orang-orang yang melakukan kejahatan kepada Anggota Keluarga Arthama Jaya disiksa.
Arabella yang sampai di sebuah pintu yang jalan menuju pintu itu pun sudah tidak dia ingat karena terlalu banyak belokan. Arabella pun masuk ke dalam pintu itu dan berjalan menyusuri sebuh lorong yang gelap dan juga lembab.
Dimas yang melihat Arabella merasa ketakutan pun berhenti dan mendekati Arabella kemudian melepaskan Jasnya lalu memasangkannya ke pundak Arabella.
"Srak!"
"Disini sangat lembab dan dingin. Aku tidak ingin kau terkena flu lalu sakit." ucap Dimas dengan senyum hangat sambil memegang tangan Arabella untuk berjalan bersamanya.
"Terima kasih." ucap Arabella sambil tersenyum dengan wajah memerah sambil menundukkan kepala dengan satu tangan menggenggam Jas Dimas dan tangan yang lain menggenggam tangan Dimas dengan sangat erat.
Dimas dan Arabella yang telah berjalan cukup lama akhirnya sampai di sebuah pintu kayu yang berada di ujung lorong. Dimas pun membuka dan menutup pintu.
"Krak!"
"Klik!"
Arabella yang telah berada di dalam melihat ada seseorang yang memakai pakaian pelayan yang sedang duduk dengan tangan dan kaki yang terikat serta mulut yang di sumpal dengan sesuatu di bawah lampu berwarna kuning.
Arabella yang bingung dengan identitas orang tersebut pun langsung melihat ke arah Dimas yang berada di sampingnya untuk meminta penjelasan.
"Apakah itu Siti?" tanya Arabella yang melihat ke arab Dimas dengan ekapresi wajah yang penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu yang tinggi.
__ADS_1
"Benar!" jawab Dimas dengan singkat sambil melihay ke arah Siti dengan tatapan mata yang sangat tajam dan aura membunuh yang sangat kuat.
Arabella yang mendapatkan kepastian dari jawab Dimas pun berjalan perlahan maju ke depan menuju Siti. Arabella pun akhirnya dapat melihat wajah Siti dengan sangat jelas dengan jarak hanya 2 langkah.
Seketika Arabella pun mengingat semua yang terjadi padanya beberapa hari ini. Arabella mengingat setiap kejadian yang menimpanya yang bahkan merusak nama dan reputasinya.
Arabella pun membuka penutup mulut Siti dan mencoba bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi namun bukan penjelasan yang di dapat tapi permohonan untuk dibebaskan dan permintaan belas kasihan dari Arabella.
"No-Nona Muda, Sa-saya mohon ampuni saya. Sa-saya sudah bersalah. Saya mohon bebaskan saya. Saya janj8 tidak akan melakukan hal ini lagi." ucap Siti berulang-ulang kali tanpa henti hingga membuat Arabella menjadi kesal.
"Plak!" tamparan ke pipi kanan Siti.
"Tak ada satu kata maaf pun yang terucap dari mulutmu! dan masih kau tanpa rasa malu terus meminta ampun dan memintaku untuk membebaskanmu!" ucap Arabella dengan nada sini dan tatapan mata yang merendahkan dengan ekspresi wajah yang marah terlihat jelas di wajahnya.
"Ma-maafkan saya Nona muda. Maafkan saya. Saya bersalah. Ini semua salah saya. Saya mohon maafkan saya." ucap Siti dengan uraian air mata yang mengalit dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan dan ekspresi wajah yang gelap.
"Plak!" tamparan ke pipi kiri Siti.
"Kau benar-benar tidak tahu malu. Kau meminta maaf setelah aku mengatakannya tapi tidak mengatakannya di awal. Kau mengatakan itu hanya untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Kau berharap dengan kau menurut dan langsung meminta maaf maka aku akan langsung memaafkanmu dan membebaskanmu!" ucap Arabella dengan nada tinggi dan sorot mata yang tajam dengan dua tangan bersilang di dadanya.
"Jangan pernah bermimpi! Kau akan merasakan hidup dimana dibenci semua orang untuk sesuatu yang tidak kau lakukan seumur hidupmu sama seperti yang diinginkan oleh Clara karena kau yang akan menggantikan posisiku itu!" ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sangat marah sambil membungkukkan tubuhnya dan mengatakan itu dengan nada rendah di balik telinga Siti.
Arabella pun berbalik arah dan berjalan menuju Dimas dan mengajak Dimas pergi dari sana karena dirinya tidak ingin berada di dalam sana lebih lama lagi.
"Ayo, kita pergi!" ucap Arabella dengan ekspresi wajah tanpa ekspresi.
"Tentu saja, Permaisuriku!" ucap Dimas dengan senyum lembut di wajahnya dengan sorot mata yang tajam ke arah Siti.
"Tidak Nona!"
"Saya mohon ampunis saya, Nona!"
"Saya mohon Nona jangan lakukan ini, Nona!"
"Maafkan sayaa....!"
__ADS_1
#Bersambung#