CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 95. Kecurigaan Pak Antoni


__ADS_3

Ketua Pereman yang mendengar perintah dari Clara merasa sangat senang dan langsung mematikan handphonenya.


"Nona tidak perlu khawatir, semua tugas yang telah diberikan kepada kami pasti akan berhasil dilaksanakan." ucap Ketua Perampok dengan senyum sinis sambil menjilati bibirnya dengan lidahnya lalu mengelapnya dengan jempolnya dengan tatapan mata seolah sedang memikirkan sesuatu yang tidak benar.


"Tak!" suara telepon dimatikan.


Setelah menyimpan handphonenya, Ketua Pereman itu pun segera memanggil anggotanya yang lain dan memberikan perintah sesuai yang diinginkan Clara.


“Kalian semua datang kemari! Bos besar sudah memberi perintah dan sepertinya aku tidak perlu mengatakan apapun lagi karena kalian pasti sudah tau apa yang menjadi isi perintahnya, bukan?” tanya Ketua Pereman dengan senyum misterius dan sorot mata yang memikirkan hal yang tidak pantas.


“Hahaha... Sepertinya malam ini kita akan bersenang-senang!” ucap salah seorang Pereman dengan tawa keras yang terdengar sangat menjijikkan.


“Tentu saja dan karena aku adalah Ketuanya maka aku yang akan memulainya terlebih dulu dan kalian berjaga disini jangan sampai ada orang yang datang untuk mengganggu kesenanganku.” Ucap Ketua Pereman dengan nada mengancam dan sorot mata yang tajam dengan mata melotot seolah memberi peringatan kepada rekan-rekannya yang lain.


“Setelah aku selesai maka aku akan memberikannya pada kalian dan kalian bisa melakukan apapun padanya sesuka hati. Bagaimanaa?” tanya Ketua Pereman dengan senyum menjijikkan sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah menjelaskan apa maksud dari perkataannya.


"Jangan khawatir, Kak. Kami akan melakukannya dengan baik. Jangan lupa sisakan untuk kami. Hahaha..." ucap salah seorang anggota pereman dengan senyum bahagia sambil melemparkan dirinya ke sofa yang ada di dekatnya.


Ketua Pereman yang sudah sangat tergoda dengan kecantikan dan keindahan tubuh Arabella sejak awal bertemu, membuatnya semakin tidak sabar saat mengetahui jika malam ini Arabella akan menjadi miliknya.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.


“Gadis kecil! Malam ini aku jamin kau akan merasa sangat senang dan puas! Hahaha...” gumam Ketua Perampok sambil berjalan dengan santai menuju lantai dua tempat Arabella dikurung.


Sementara itu, Pak Antoni yang tidak mendapatkan kabar apapun tentang Arabella yang telah pergi hingga matahari hampir tenggelam membuatnya menjadi semakin khawatir dan cemas.


“Kemana Nona pergi? Ini sudah mau gelap tapi tidak ada tanda-tanda kepulangannya. Jangan sampai terjadi hal buruk karena jika tidak Tuan Muda pasti akan sangat marah.” Ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang cemas dengan keringat yang mengalir di pipi dan dahinya.


Pak Antoni yang merasa sangat cemas dan khawatir dengan keadaan Arabella seketika teringat dengan beberapa kejadian buruk yang pernah dialami Arabella setelah kematian kedua orangtuanya.


"Hah, Nona Arabella harus baik-baik saja." ucap Pak Antoni dalam hati dengan perasaan was-was.

__ADS_1


Akhirnya Pak Antoni pun memanggil beberapa Bodyguard dan memberi perintah kepada beberapa Bodyguard itu untuk segera bergerak mencari tau keberadaan Arabella tanda diduga ada suara benda yang terjatuh yang menganggu fikiran Pak Antoni.


“Kalian berenam segera menyebar ke sekitar Taman dan beberapa tempat yang lain lalu cari keberadaan Nona Muda Arabella dan Pelayan Pribadinya! Jangan lupa cari tau dimana dua orang bodyguard yang diperintahkan Tuan Muda untuk melindungi Nona Muda!” perintah Pak Antoni dengan nada tinggi dan penuh penekanan di setiap katanya dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.


“Prang!” suara vas pecah.


“Siapa itu?” teriak Pak Antoni dengan suara tinggi dengan ekspresi wajah terkejut dan lalu memberi kode kepada Bodyguard untuk menangkap pelakunya.


"Kenapa tiba-tiba ada suara benda yang pecah? Apakah ada orang yang sengaja menguping lalu tidak sengaja menjatuhkan benda?" ucap Pak Antoni dalam hati sambil berfikir tentang kemungkinan yang ada dengan hati yang tidak tenang.


Dalam waktu lima menit, Bodyguard-bodyguard itu pun telah menangkap seorang pelayan wanita yang masih muda yang duduk jongkok memunguti pecahan beling dari vas bunga yang pecah karena dirinya ternyata tidak sengaja menjatuhkan vas itu.


“Ma-maafkan saya Tuan! Maafkan saya Tuan! Saya mohon maafkan saya! Sa-saya tidak sengaja, Tuan! Percayalah!” ucap Pelayan wanita muda itu dengan ekspresi wajah gelap dengan keringat yang mengalir ke seluruh bagian tubuhnya yang menandakan ketakutannya dengan air mata yang mengalir ke pipinya.


Pak Antoni yang ingat dengan Siti yang merupakan mata-mata Clara yang memiliki umur yang sama dengan pelayan yang terduduk di depannya pun menjadi semakin curiga.


“Kenapa Pelayan Muda ini berada di sini? Apa yang sedang dilakukannya? Jangan-jangan ...” ucap Pak Antoni dalam hati dengan ekspresi gelap sambil menatap Pelayan Muda itu dengan tatapan membunuh.


“Kau tetap disini dan sisanya segera pergi dan laksanakan tugas kalian!” ucap Pak Antoni dengan wajah tanpa ekspresi dan sorot mata yang tajam dan serius sambil sesekali melihat sekilas ke arah Pelayan yang terduduk lemas.


Pelayan yang merasa jika dirinya akan ada dalam masalah jika tidak bisa lepas dari keadaann yang tidak menguntungkannya ini dan yang paling penting dirinya akan kehilangan sejumlah uang jika tidak memberikan informasi yang penting untuk Clara sehingga pelayan itu pun tak henti-hentinya memohon pengampunan kepada Pak Antoni yang masih diam berdiri di depannya.


“Aku harus segera memohon dan meminta ampun. Aku harus bisa bebas dari tempat ini jika tidak aku akan kehilangan uangku!” ucap Pelayan Muda itu dalam hati sambil menundukkan kepala dengan tangan mengepal dengan sangat keras di lantai.


"Maafkan saya Tuan. Saya janji saya akan lebih berhati-hati. Jangan pecat saya, Tuan." ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah menangis sambil terus memohon dibawah kaki Pak Antoni.


Pak Antoni yang sudah merasa curiga ingin sekali menyekap dan menginterogasi Pelayan itu tapi jika dirinya melakukan itu maka dirinya tidak akan mendapatkan apapun sehingga Pak Antoni memilih cara lain.


“Aku tidak bisa melakukan kekerasan. Aku harus menggunakan cara lembut jika ingin mendapatkan apa yang aku inginkan.” Ucap Pak Antoni dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius dan tanpa ekspresi sambil melihat ke bawah ke arah Pelayan dengan tatapan merendahkan dan meremehkan.


“Maafkan saya, Tuan. Saya mohon Tuan. Tolong jangan pecat saya, Tuan.” Ucap Pelayan Wanita itu berulang-ulang sambil menangkupkan tangannya ke depan sambil berlutut dengan ekspresi wajah takut dan cemas dengan keringat yang mengalir ke seluruh tubuhnya.

__ADS_1


“Kau akan dihukum dengan pemotongan gaji 50% selama enam bulan. Kau bisa pergi sekarang!” ucap Pak Antoni dengan nada datar dan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Pak Antoni itu merasa sangat lega dan tanpa sadar membuat Pak Antoni melihat ekspresi yang sangat mencurigakan.


“Akhirnya aku bisa bebas juga. 50% gaji bukan lah hal besar, jika aku bisa pergi dari sini sekarang dan memberi tau Nona Clara informasi ini maka aku pasti akan mendapatkan jumlah uang yang sangat banyak dan bahkan mungkin lebih banyak dari jumlah gajiku yang dipotong.” Ucap Pelayan wanita itu dengan perasaan lega dengan senyum bahagia hingga membuat giginya terlihat.


“Anak ini benar-benar mencurigakan. Tidak ada orang yang akan merasa bahagia jika mendapatkan pemotongan gaji sebagai itu. Anak ini pasti mata-mata dari seseorang sama seperti Siti.” Ucap Pak Antoni dalam hati sambil menatap tajam ke arah Pelayan wanita dengan ekspresi wajah yang serius.


Tak butuh waktu lama, Pelayan itu langsung bergegas pergi dan meninggalkan Pak Antoni dan tanpa disadarinya Pak Antoni juga ikut pergi membuntuti dibelakangnya.


“Kemana dia akan Pelayan ini akan pergi?” tanya Pak Antoni dalam hati denagn eksrpesi wajah yang gelap dan sorot mata yang sangat tajam seperti pisau.


Pelayan itu pun berjalan dengan sangat cepat menuju ke sebuh ruangan yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang yang tidak dipakai lagi dengan tergegasa-gesa.


“Tap! Tap! Tap!”


Pelayan itu pun masuk ke ruangan dan berjalan dengan pandangan mata yang terus bergerak ke kiri dan kanan hingga kesekitarnya dan saat menyadari jika dirinya sudah sendri langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Clara.


“Ini sudah aman. Aku akan mendapatkan untung. Uang kemarilah.” Ucap Pelayan Muda itu dalam hati dengan ekspresi wajah yang bahagia.


“Apa yang dilakukan Pelayan Muda itu? Aku harus berdiri lebih dekat untuk tau informasi apa yang diketahui Pelayan itu.


“Nona Clara, ini saya, Lia Nona apa saya bicara? Karena ada beberapa informasi yang ingin saya sampaikan.” Ucap pelayan Muda bernama Lia dengan ekspresi wajah bahagia.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2