CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 78. Pukulan Akhir Pembalasan


__ADS_3

Pak Antoni yang mencari tau tentang Arabella segera bertanya pada Ria yang merupakan Pelayan Pribadi Arabella dan setelah mendapatkan hasilnya Pak Antoni pun langsung pergi menemui Dimas.


“Tap! Tap! Tap!”


“Pak! Apa anda memanggil saya?” tanya Ria yang langsung berdiri di depan Pak Antoni dengan patuh sambil mengeluarkan keringat dari dahinya.


“Ya, aku memanggilmu karena ingin tau apakah Nona Arabella sudah bangun?” tanya Pak Antoni secara langsung dan tanpa basa-basi dengan wajah datar dan tanpa ekspresi.


“Nona Arabella belum bangun dan sepertinya saat ini Nona Arabella sedang tertidur sangat lelap mungkin capek karena Acara kemarin.” Jawab Ria dengan jawaban tegas dengan ekspresi bingung.


“Baiklah, segera kabarkan jika Nona Arabella bangun!” perintah Pak Antoni yang langsung pergi meninggalkan Ria yang masih berdiri di tempatnya.


“Srak!”


“Tok! Tok! Tok!” suara ketukan pintu.


“Tuan Muda, ini saya Antoni!” ucap Pak Antoni dengan sopan dari balik pintu sambil menunggu izin dari Dimas untuk masuk.


“Masuklah!” perintah Dimas dengan tegas dan tanpa ekspresi.


“Saya melapor Tuan Muda bahwa Nona Arabella saat ini masih tertidur tapi Pelayan yang bertugas melayani Nona Arabella akan segera melapor jika Nona Arabella sudah terbangun dari tidurnya.” Jawab Pak Antoni dengan sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit tanpa ekspresi.


“Baiklah. Kau boleh pergi!” jawab Dimas dengan dingin.


Dimas yang menyadari jika Arabella masih tertidur pun kembali ke kamarnya untuk terlelap sebentar karena dirinya tidak istirahat semalaman.


Sementara itu, Edo yang telah menyelesaikan tugasnya berniat menemui Dimas tapi langsung dihentikan oleh Pak Antoni.


“Akhirnya selesai juga, waktunya aku melapor lalu pulang dan pergi tidur!” ucap Edo yang menguap karena merasa sangat lelah dan mengantuk disaat bersamaan.


“Tok! Tok!” suara ketukan pintu.


“Siapa?” tanya Edo dengan nada malas sambil bersandar di kursinya dengan wajah yang lelah dan lingkaran mata yang berwarna hitam.


“Ini saya Antoni. Apa saya boleh masuk?” tanya Pak Antoni dengan sopan dengan nada suara yang lembut.


“Masuklah Pak Antoni!” jawab Edo dengan nada malas dan menguap beberapa kali.

__ADS_1


“Klik!” suara pintu terbuka


“Pak Edo, Tuan Muda memberikan perintah jika anda boleh beristirahat disini jika tugas anda telah selesai.” Ucap Pak Antoni sambil melihat ke arah Edo yang sedang  berbaring di meja kerjanya dengan wajah yang malas.


“Aku mengerti. Aku akan istirahat di sini saja jadi jika Tuan Muda membutuhkanku maka aku akan cepat segera menemuinya!” jawab Edo yang langsung berdiri dari mejanya setelah mematikan Perangkat Komputernya.


“Baiklah, saya akan mengantar anda menuju kamar yang telah disiapkan!” ucap Pak Antoni yang berjalan di depan sambil mengantar Edo menuju ke kamar yang telah disediakan.


Edo yang sangat mengantuk tidak memandang disekitarnya dan terus berjalan tapi Pak Antoni terus melihat bahwa banyak Pelayan Muda yang lajang melihat ke arah Edo dan mencoba mendapatkan perhatiannya tapi sayangnya tidak ada yang berhasil sehingga membuat Pak Antoni hanya menggeleng dan memberika tatapan menyedihkan kepada beberapa pelayan itu.


“Sepertinya banyak Pelayan yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan!” ucap Pak Antoni yang terus berjalan di depan memimpin Edo.


Setelah berjalan beberapa menit akhirnya Edo dan Pak Antoni telah sampai di sebuah pintu. Pak Antoni pun membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Edo untuk masuk.


“Klak!” suara pintu terbuka.


“Pak Edo ini adalah kamar yang telah disiapkan untuk anda.” Ucap Pak Antoni sambil menunjukkan setiap sudut ruangan kamar yang tidak mendapatkan respon apapun dari Edo.


Edo yang sangat lelah karena harus bekerja lembut di hari yang seharusnya dia dapat beristirahat tidak menginginkan apapun selain tidur sehingga membuat Edo menolak semua tawaran Pak Antoni.


“Aku tidak membutuhkan apapun. Terima kasih.” Ucap Edo yang langsung berjalan menuju tempat tidurnya yang telah tertawa dengan sangat rapi.


“Baiklah, saya akan pergi dahulu dan jika membutuhkan sesuatu tarik saja tali yang ada di samping tempat tidur!” ucap Pak Antoni sambil mengingatkan Edo tentang semua hal meskipun Pak Antoni sadar jika Edo sudah mengetahui pengaturannya karena dirinya sudah berkali-kali tinggal dan menginap di Kediaman Arthama Jaya.


“Hmm!” gumam Edo yang sudah terbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap sambil mengangkat satu tangan sambil menunjukkan jari berbentuk kata “OK” dengan mata terpejam.


Pak Antoni pun keluar kamar dan tidak berencana tetap didalam sana dan meninggalkan Edo sendiri menikmati waktu istirahatnya.


Sementara itu, di dua tempat berbeda terjadi kegaduhan dan kehebohan yang sangat hebat. Salah satunya adala Kediaman Bu Selena dan Pak Bambang.


Bu Selena yang merupakan orang yang selalu menjadi pusat Perhatian karena menjadi Nyonya dari Tuan Besar Kedua dari Perusahaan Arthama Jaya Group menjadi sangat terkejut dan marah saat meliat semua berita skandal antara Heru dan Clara.


“Apa-apaan berita ini?” teriak Bu Selena yang marah dengan alis yang naik ke atas dan sorot mata yang memberikan aura yang menakutkan.


Bu Selena yang marah langsung melempar Handphonenya yang berada di tangannya ke dinding dengan sangat kerasa dan cepat tapi langsung ditangkap oleh Asisten Pribadinya yang berada tidak jauh darinya karena Asisten Pribadi Bu Selena tidak ingin agar Handphone itu rusak karena akan menambah masalah baru nantinya.


“Untunglah Handphonenya berhasil diselamatkan jika tidak akan ada masalah lain lagi yang datang. Bagaimana jika kolega dan beberapa orang penting menghubungi Nyonya tapi malah nomornya tidak aktif!” Ucap Asisten Pribadi dalam hati sambil memeluk handphone Bu Selena dengan erat di genggaman tangannya dengan wajah yang lega dan ekspresi syukur serta keringat yang mengalir ke dahi dan pipinya.

__ADS_1


Bu Selena yang melihat Asisten Pribadinya dengan sangat cekatan menangkap Handphonenya meminta kembali Handphonenya tapi langsung dijawab dengan gelengan kepala yang membuat darah Bu Selena mendidih kembali.


"Serahkan handphonenya!" pinta Bu Selena sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil Handphonenya kembali dengan ekspresi wajah yang kesala.


"Syut!"


"Kau sudah bisa berani melawanku sekarang! Apa kau ingin aku pecat!" teriak Bu Selena yang marah dengan wajah yang merah padam dan alis yang naik dengan sorot mata yang tajam seperti singa.


"Saya tidak berani tapi daripada Handphone ini dilempar kembali akan lebih baik kalau saya saja yang menyimpannya Nyonya karena Nyonya tidak boleh lupa kalau Nyonya adalah orang yang sangat penting. Bagaimana jika ada seseorang yang penting menghubungi anda tapi tidak bisa menghubungi anda karena Handphone anda rusak disebabkan oleh kemarahan sesaat!" ucap Asisten Pribadi Bu Selena dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir serta sorot mata yang sendu dan keringat yang mengalir di pipi dan dahinya.


"Aku tidak akan melemparkannya lagi jadi kembalikan handponeku sebelum kesabaranku habis!" jawab Bu Selena yang kesal sambil memegang kepalanya yang sakit karena terus berteriak dan marah-marah.


Asisten itu pun memberikan Handpone Bu Selena dengan perasaan was-was tapi kekhawatiran itu tidak terjadi dan Bu Selena menyimpan kembali Hanphonenya.


Tiba-tiba Pak Bambang masuk ke Ruangan dengan wajah yang bingung sambil bertanya kepada Bu Selena apa yang telah terjadi.


"Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah sangat berisik?" tanya Pak Bambang yang langsung duduk di sofa sambil menghisap rokoknya dengan ekspresi wajah yang serius.


Bu Selana yang tau jika apa yang dilakukannya sudah mengganggu pagi hari suaminya segera mencairkan suasana dan menjelaskan semua yang terjadi tapi hanya mendapatkan tanggapan sinis dari Pak Bambang.


"Ah sayang! Sepertinya pagimu terganggu, maafkan aku tapi pagi ini aku baru saja mendapat berita buruk yang berhubungan dengan putra kita. Ada banyak sekali berita tentang hubungan perselingkuhan Clara mantann pacar Dimas dengan Heru. Semua orang menuduh Heru sebagai Orang Ketiga yang telah mencoba menghancurkan hubungan Dimas dan Clara!" ucap Bu Selena yang duduk di samping Pak Bambang sambil menjelaskan apa yang terjadi dengan singkat dan jelas dengan senyum lembut.


"Kau membuat keributan di pagi hari hanya karena masala kecil. Apa kau tidak bisa mengurusnya sendiri dan ingin  aku yang turun langsung menyelesaikannya?" tanya Pak Bambang dengan wajah yang datar dan dingin dan nada yang sinis sambil melihat ke ara Bu Selena yang langsung terdiam memberku setelah mendengar sindiran yang dikatakan ole Pak Bambang padanya.


"Jangan khawatir! Aku akan mengurusi hal ini dengan baik. Aku janji tidak akan ada masalah nantinya!" ucap Bu Selena sambil tersenyum terpaksa melihat ke arah Pak Bambang yang langsung berdiri meninggalkan Bu Selena.


"Aku tidak ingin mendengar keributan apapun! Sebagai Nyonya di ruma ini, itu suda menjadi tugasmu untuk mengurus semua hal yang terjadi termasuk masalah ini jadi selesaikan dengan baik!" ancam Pak Bambang yang berhenti tepat di depan pintu keluar tanpa melihat ke belakang lagi dan langsung pergi setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


"Sila! Kurang ajar! Hanya karena kau merupakan Anggota Keluarga Arthama Jaya Group, aku mau menikah denganmu dan aku fikir aku akan menjadi Nyonya Pertama dari Keluarga Arthama Jaya tapi ternyata..." ucap Bu Selana dalam hati dengan ekspresi marah sambil melempar bantal sofa ke pintu yang tertutup dengan mata melotot tajam.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2