CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 129. Solusi Tak Terduga


__ADS_3

Ibu Clara yang mendengar perkataan kasar Putrinya merasa semakin khawatir. Ibu Clara pun memutuskan untuk mengunjungi Clara di Apartemennya dan meninggalkan suaminya setelah Asisten pribadi Ayah Clara datang.


"Saya mau keluar sebentar. Kau temani Bapak disini dan jika ada sesuatu terjadi segera hubungi saya." ucap Ibu Clara dengan terburu-buru dan ekspresi wajah yang serius lalu pergi menyetir mobilnya sendiri.


"Sepertinya Nyonya ingin pergi ke tempat Nona Clara dan Perusahaan ini sepertinya tidak punya harapan lagi. Aku harus segera mencari pekerjaan baru sebelum aku benar-benar diberhentikan." ucap Asisten Pribadi dengan ekspresi wajah yang putus asa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.


Ibu Clara yang telah sampai di halaman parkir Apartemen tidak menyangka jika di lapangan Apartemen Clara ternyata sangat ramai dengan wartawan.


"Apakah wartawan-wartawan ini ingin demo? Kenapa mereka semua berkumpul disini?" tanya Ibu Clara pada dirinya sendiri sambil melihat kerumunan wartawan dari dalam mobil sambil memarkirkan mobilnya.


"Aku merasakan firasat buruk. Aku harus segera menemui Clara." ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang cemas sambil bergegas keluar mobil dan masuk ke dalam Apartemen dengan memakai kacamata hitam dan topi yang besar serta syal yang dililitkan dilehernya.


Ibu Clara yang tidak pernah terlibat dengan dunia hiburan yang selama ini membesarkan nama putrinya dapat melewati sekelompok wartawan yang menunggu.


Ibu Clara yang sangat cemas akan keadaan putrinya segera menaiki lift dan menuju ke lantai tempat Clara tinggal.


"Tunggu Ibu, putriku! Ibu datang menjengukmu." ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang cemas sambil terus berjalan dengan langkah besar.


Ibu Clara yang telah sampai di depan pintu Apartemen Clara pun memencet bel berkali-kali tapi tidak ada tanggapan apapun hingga akhirnya Ibu Clara mencoba mendokbrak pintu itu dengan tenaganya sendiri.


"Clara! Buka pintunya. Ini Ibu, sayang!" panggil Ibu Clara dengan suara yang keras karena Clara tidak menjawab panggilannya.


"Apakah terjadi sesuatu pada putriku di dalam? Tidak! Aku hanya memiliki seorang anak dan aku tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Clara harus baik-baik saja." gumam Ibu Clara dengan wajah yang khawatir dan cemas dengan nada suara yang bergetar.


"Satu...Dua...Tiga... Hmmm!" ucap Ibu Clara sebanyak tiga kali sambil berjalan mundur lalu berlari maju menabrakkan punggung bahunya ke pintu dengan tenaga yang besar.


Setelah usaha yang ketiga akhirnya pintu itu pun terbuka, Ibu Clara yang sangat khawatir akan keadaan putrinya segera masuk dan mencari keberadaan Clara.


"Clara!" teriak Ibu Clara denga suara yang keras sambil berlari dari pintu depan menuju ke tempat Clara terbaring.

__ADS_1


"Clara sayang! Sadarlah! Ini Ibu, Ibu ada di sini putriku!" ucap Ibu Clara dengan nada suara yang pilu dan ekspresi wajah yang sedih hingga meneteskan air mata.


Clara yang merasakan sakit kepala yang sangat hebat pun mencoba membuka matanya saat mendengar suara orang yang sangat dirindukannya.


"Ibu! Huhhh...Huhhh...Huuuhh!" teriak Clara sambil memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat dan menangis tersedu-sedu.


Ibu Clara yang tau jika beban yang sedang dihadapi Clara saat ini sangatlah besar mencoba membiarkan Clara menangis di dalam pelukannya hingga Clara dapat merasa lebih baik.


"Keluarkan semua kesedihanmu, putriku! Jangan takut! Ibu ada disini!" ucap Ibu Clara sambil menepuk-nepuk punggung belakang Clara dengan nada bicara yang lembut dan penuh perhatian.


"Ibu, karirku sudah tamat! Aku tidak bisa menjadi model lagi. Aku tidak bisa catwalk lagi! A-aku tidak bisa berakting di depan kamera lagi! Aku hancur!" ucap Clara dengan ekspresi wajah yang sangat sedih dan air mata yang terus mengalir tanpa henti.


"Tenanglah. Jika sekarang kau harus meninggalkan dunia yang membesarkan namamu. Ibu yakin kau pasti dapat kembali ke dunia itu lagi. Kau adalah Clara Pricilia, Model Internasional. Kau pasti bisa bangkit dari keterpurukan ini." ucap Ibu Clara dengan nada suara yang tegas serta ekspresi wajah yang serius sambil melepaskan pelukan Clara dan memegang bahu Clara dengan kedua tangannya lalu menatap mata Clara dengan sangat fokus.


"Apakah aku benar-benar bisa kembali ke Dunia Model, Ibu?" tanya Clara dengan ekspresi wajah yang penuh harap sambil menatap mata Ibunya.


"Tentu saja asalkan Perusahaan Keluarga kita dapat kembali pulih karena jika tidak jangankan karirmu bahkan nasib kita semua akan hancur!" ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang sedih sambil memijat kepalanya yang terasa mulai sakit.


"Ibu baik-baik saja hanya sedikit pusing karena masalah yang datang tiada hentinya. Ayahmu masih terbaring di Rumah Sakit dan masih belum sadar." ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang sedih sambil meneteskan air mata.


"Apakah kondisi Perusahaan sedang sangat buruk saat ini?" tanya Clara dengan hati-hati sambil melihat perubahan wajah Ibunya yang terlihat semakin memburuk.


"Ibu akan mengatakan semuanya tapi disini bukanlah tempat yang tepat. Kita harus pindah dari sini." ucap Ibu Clara sambil melihat ke sekeliling yang tidak banyak barang di dalam Apartemen Clara dan melihat pintu Apartemen yang telah jebol.


Clara yang mengerti maksud Ibunya pun pergi ke kamarnya dan bergegas mengganti pakaiannya sementara Ibu Clara menghubungi Asisten Pribadi Ayah Clara.


"Apakah kau masih berjaga di Rumah Sakit?" tanya Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Iya, Nyonya. Saya masih ada di Rumah Sakit." ucap Asisten Pribadi dengan nada bicara yang santai.

__ADS_1


"Aku akan segera kesana. Tolong kirimkan orang ke Apartemen Clara untuk memperbaiki pintu Apartemennya yang jebol karena dibuka secara paksa." ucap Ibu Clara dengan nada bicara yang memerintah dan penuh dengan arogansi.


Clara dan Ibunya yang telah siap pun pergi menuju Rumah Sakit tempat Ayah Clara dirawat dan hanya mengaitkan pintu Apartemen yang telah jebol.


Tak butuh waktu lama, keduanya pun telah sampai di depan Rumah sakit dan bergegas menuju Ruang Rawat VIP.


"Halo, Paman. Apa kabar?" tanya Clara pada Asisten Pribadi yang berdiri menyambut kedatangannya dan Ibunya.


"Kabar sedikit kurang baik. Masuklah. Kau pasti ingin melihat kondisi Ayahmu." ucap Asisten Pribadi dengan senyum ramah lalu menutup pintu.


Clara yang melihat kondisi Ayahnya yang sedang terbaring dengan berat badan yang turun secara drastis karena hanya mengadalkan asupan nutrisi dari infus merasa sangat sedih.


"Ayah! Maafkan putrimu yang tidak berbakti ini. Ayah, kau harus segera sembuh agar kita dapat berkumpul lagi dan untuk masalah Perusahaan Ayah tidak perlu khawatir Clara dan Ibu akan melakukan apapun agar dapat menyelamatkan Perusahaan." ucap Clara dengan nada pilu dan ekspresi wajah yang sedih sambil menangis dengan menggenggam tangan Ayahnya yang sedang sakit.


Asisten Pribadi yang mendengar perkataan Clara pun mengatakan sesuatu yang membuat Clara dan Ibunya menjadi sangat terkejut.


"Sebenarnya kita masih punya satu cara terakhir untuk menyelematkan Perusahaan, Nona." ucap Asisten Pribadi dengan nada dan ekspresi wajah yang serius.


"Cara apa, Paman? Cepat katakan! Clara bersedia melakukan apapun asalkan Perusahaan Keluarga dapat kembali seperti semula." ucap Clara dengan tergesa-gesa sambil berlari menuju Asisten Pribadi yang berdiri di depan jendela di sudut Ruangan.


"Benar. Katakan saja. Jika kau punya solusi untuk masalah ini." ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang cemas dan was-was.


"Nona Clara pergi menemui Tuan Muda Dimas, Pewaris Tunggal Arthama Jaya Group, yang merupakan mantan kekasih Nona Clara sendiri. Nona Clara harus bisa meyakinkan Tuan Muda Dimas untuk mau menanamkan modal atau saham ke Perusahaan kita." ucap Asisten Pribadi dengan ekspresi wajah yang serius sambil menatap mata Clara dengan serius.


"Ap-Apa? Aku harus memohon pada Dimas!" ucap Clara dengan kata yang diulang dengan ekspresi wajah yang terkejut.


#Bersambung#


Jangan lupa Like, Komen dan tekan love ya..

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2