CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 137. Kanker Stadium Empat


__ADS_3

Heru yang telah dijadwalkan untuk berangkat keesokan paginya telah berada di Bandara menunggu Pesawatnya berangkat sambil melihat berita yang ada di handphonenya.


Heru yang sebenarnya tidak ingin pergi terpaksa harus pergi demi semua yang harusnya menjadi miliknya.


“Aku tidak akan menyerah mendapatkanmu Arabella. Aku akan kembali dan menjadikanmu milikku.” Ucap Heru dalam hati sambil foto Arabella yang ada di ponselnya lalu bangun dari kursinya dan berjalan menuju Pesawat yang akan segera lepas landas.


Sementara itu, Clara yang terpuruk karena tidak memiliki apapun lagi tiba-tiba mendengar berita yang sangat mengejutkan.


“Ada apa?” tanya Clara dengan nada suara yang dingin ekspresi wajah yang berantakan serta tatapan mata yang kosong.


“Maafkan saya Nona tapi anda harus segera ke Rumah Sakit karena keadaan Tuan Besar sedang kritis.” Ucap Asisten Pribadi Ayah Clara dengan ekspresi wajah yang sedih dengan nada suara yang datar dan juga dingin.


“A-ayah!” ucap Clara dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang sedih dengan tatapan mata terkejut dan siap menangis saat itu juga dengan handphone yang telah lepas dari genggaman.


Clara yang sangat panik langsung mengambil handphonenya dan mengucapkan terima kasih yang tidak pernah dikatakannya selama beberapa tahun terakhir.


“Aku akan segera kesana!” ucap Clara dengan ekspresi wajah yang sedih dan cemas secara bersamaan dengan nada suara yang bergetar karena khawatir.


“Hmmm, Pak....” panggil Clara dengan nada suara yang rendah karena melupakan nama Asisten Pribadi Ayahnya dengan ekspresi wajah yang murung.


“Ada apa Nona? Apakah saya harus mengantarkan mobil untuk menjemput anda?” tanya Asisten Pribadi dengan nada suara yang lembut dan ekspresi wajah yang datar.


“Hmmm, boleh jika tidak keberatan dan terima kasih!” ucap Clara dengan sangat jelas hingga membuat Asisten Pribadi itu terdiam karena terkejut.

__ADS_1


Dalam waktu singkat Clara telah berada di Rumah Sakit. Clara yang sangat cemas langsung berlari masuk ke dalam dengan detak jantung yang terus berdetak sangat kecang.


“Semoga ayahku baik-baik saja. Aku tidak mau kehilangan Ayahku, Tuhan!” ucap Clara dengan ekspresi wajah yang penuh harap dan juga cemas.


Clara yang terus berlari di koridor tidak menghiraukan peringatan perawat yang berjaga karena aksinya yang bisa mengganggu orang lain pun terus melanjutkan aksinya hingga sampai di depan Pintu Ruangan tempat Ayahnya dirawat.


Clara yang datang karena sangat mengkhawatirkan keadaan Ayahnya pun akhirnya membuka pintu dan dan masuk dengan keringat yang mengalir sangat banyak serta rambut dan pakaian yang berantakan karena terlalu terburu-buru.


“Ayah!” panggil Clara dengan nada suara yang tinggi sambil berlari menuju ke tempat Ayahnya terbaring dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir serta air mata yang terus mengalir ke pipinya.


Clara yang melihat Ibunya berdiri di sampingnya pun langsung menoleh dan bertanya tapi Ibu Clara tidak mengatakan apapun dan hanya diam di tempatnya.


“Ibu! Bagaimana kondisi ayah?” tanya Clara dengan ekspresi wajah yang cemas sambil melihat ke arah Ibunya yang sedang berdiri.


“Ibu!” panggil Clara lagi dengan ekspresi wajah yang bingung dan cemas sambil terus menatap mata Ibunya yang hanya diam melihat Ayahnya yang sedang terbaring di tempat tidur.


“Agh! Maaf Clara! Ibu sedang tidak fokus. Ibu butuh udara segar. Apa kau bisa menjaga Ayahmu sebentar?” tanya Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat lelah sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


“Hmmm, baiklah.” Ucap Clara dengan ekspresi wajah yang bingung dan tatapan mata yang menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran yang tinggi.


Asisten Ayah Clara yang masih berdiri di dalam ruangan itu pun membantu Ibu Clara untuk membuka pintu dan menceritakan kepada Clara semua yang telah terjadi karena Ibu Clara tidak berpesan untuk menutupi semua yang dikatakan dokter dan yang telah terjadi.


“Ada apa Paman?” tanya Clara yang langsung mengubah cara bicaranya kepada Pria Paruh Baya yang sedang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Nona, maaf jika saya lancang tapi jika Nona ingin tau keadaan Tuan Besar, Nona bisa membaca hasil dari Laporan Kesehatan Tuan Besar.” Ucap Asisten Pribadi Ayah Clara dengan ekspresi wajah yang datar sambil menyerahkan sebuah amplop besar dan tebal berwarna coklat kepada Clara.


Clara yang penasaran dengan isi dari Amplop Cokelat tersebut pun mengambilnya dan membukanya lalu membacanya perlahan.


Clara yang membaca isi Laporan Kesahatan Ayahnya pun menjadi sangat terkejut saat mengetahui bahwa Ayahnya memiliki Penyakit Kanker Stadium Akhir yang artinya tidak memiliki harapan hidup lagi.


“I-ini... Tidak mungkin! Ayahku tidak mungkin terkena Kanker! Ayahku baik-baik saja!” teriak Clara yang tidak terima dengan isi Laporan Kesehatan yang ada di tangannya dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal di saat bersamaan.


“Maaf Nona. Tapi ini adalah kenyataannya.” Ucap Asisten Pribadi dengan nada suara yang rendah dan tenang dengan ekspresi wajah yang sopan.


“Kalau begitu kita hanya perlu mengangkat Kankernya dan Ayahku pasti akan sembuh kembali bukan?” ucap Clara yang menolak untuk menyerah dengan ekspresi wajah yang khawatir dengan nada suara yang tinggi.


“Itu tidak mungkin terjadi karena Sel Kanker telah menyebar ke seluruh bagian tubuh dan itu lah yang menyebabkan Tuan Besar lumpuh setengah bagian tubuhnya.” Ucap Asisten Pribadi dengan tenang yang membuat Clara semakin kesal melihatnya.


“Ayah! Tidak! Ayah tidak boleh mati! Jika Ayah mati, bagaimana dengan Clara dan Ibu?” teriak Clara dengan ekspresi wajah yang sedih dan air mata yang terus mengalir sambil menggenggam tangan Ayahnya yang sedang tidak sadarkan diri dan dalam kondisi kritis.


Sementara itu, Arabella yang telah mendapatkan ketenangannya kembali pun memutuskan untuk melanjutkan cita-citanya yang tertunda selama ini.


“Hmmm, Clara tidak akan menjadi hambatan lagi untukku dan saat ini aku telah bertunangan dengan Dimas. Dalam waktu setengah tahun, aku akan resmi menjadi Istrinya dan memulai rencana balas dendamku atas kematian Kedua Orang Tuaku.” Gumam Arabella dengan ekspresi wajah yang datar sambil memandang langit yang sangat cerah dari atas balkon kamarnya.


“Dalam jangka waktu tersebut, aku tidak bisa hanya diam seperti ini dan tidak melakukan apapun dan hanya menerima semua yang diberikan Dimas padaku. Aku juga tidak bisa lagi kembali bekerja di Kantor Dimas karena semua orang pasti akan mencoba menjilatku.” Ucap Arabella lagi sambil menghela nafas lelah.


“Hmmm, apa mencoba menjual makanan saja ya?” gumam Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung dengan satu tangan di letakkan di dagunya sambil berpikir.

__ADS_1


“Benar! Aku bisa mencoba untuk membuat makanan dan menjualnya di sosial media. Semua orang juga sudah banyak yang mengenalku dan aku bisa memanfaatkan itu untuk mendapatkan uang.” Ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang ceria sambil berdiri dengan dua tangan yang mengepal eras dengan tatapan mata yang menunjukkan tekad yang kuat.


#Bersambung#


__ADS_2