
Dimas yang sedang berada di Markas Intelligent Khusus yang mendengar kabar bahwa Rumah Arabella mendapatkan serangan mendadak langsung pergi menuju kediaman Arabella bersama beberapa Anggota dari Intelligent Khusus.
“Tunggu aku, bel! Aku akan segera sampai dan menolongmu!” ucap Dimas dalam hati sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.
Namun, di saat jarak antar mobil Dimas dan Rumah Arabella tinggal beberapa ratus meter lagi orang-orang yang menyerang kediaman Arabella mundur.
“Eh, tunggu Nona! Kenapa aku tidak mendengar suara apapun di bawah? Apakah orang-orang jahat itu telah disingkirkan?” tanya Ria dengan ekspresi wajah yang bingung sambil menatap Arabella yang berada di pelukannya saat ini.
“A-aku tidak tau!” ucap Arabella singkat dengan ekspresi wajah yang sama bingungnya dan tatapan mata ketakutan dan cemas serta tubuh yang bergetar sangat hebat karena trauma.
“Aku akan keluar! Aku akan memeriksa yang telah terjadi!” ucap Ria dengan wajah yang percaya diri dan nada suara yang tegas.
“Tidak! Kau tidak boleh pergi! Itu sangat berbahaya!” ucap Arabella dengan cepat dengan ekspresi wajah yang cemas dengan nada suara yang tinggi sambil memegang lengan Ria sambil mencoba menghentikannya untuk tidak keluar.
“Nona jangan khawatir dan cemas! Aku akan baik-baik saja. Aku akan sangat berhati-hati!” ucap Ria yang mencoba menenangkan Arabella dengan senyum yang lembut.
“Tidak! Kau tidak boleh pergi sendiri! Kita pergi bersama!” ucap Arabella dengan nada suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam.
“Ta-tapi Nona... Anda akan ....” ucap Ria yang tidak berani melanjutkan kata-katanya saat melihat mata Arabella yang penuh dengan tekad yang besar.
“Kita pergi bersama atau tidak sama sekali!” ucap Arabella yang telah membuat keputusan dengan ekspresi wajah yang tegas.
__ADS_1
“Baiklah. Jika itu yang Nona inginkan maka kita akan pergi bersama!” ucap Ria dengan ekspresi wajah yang pasrah dan tatapan mata yang cemas dan khawatir.
Arabella dan Ria yang telah membuat keputusan bersama untuk keluar dari tempat persembunyian mereka dan melihat kondisi di luar pun saling menganggukkan kepala seperti mencapai sebuah persetujuan.
Arabella dan Ria yang berjalan menuju ke pintu keluar dengan ekpsresi wajah yang serius dan tatapan mata yang waspada pun terus berjalan.
Ria yang tidak ingin sesuatu hal buruk lagi terjadi pada Arabella pun berjalan di depan dengan tatapan mata yang waspada.
Sementara Arabella yang berjalan di belakang Ria pun berjalan mengikuti dalam diam tanpa mengeluarkan suara apapun dengan payung kecil yang dipegang erat di dalam pelukannya.
Arabella yang tiba-tiba melihat adanya siluet seseorang yang datang mendekat ke arahnya pun tanpa sadar mengayunkan payung yang ada di tangannya dan memukul siluet orang yang ada di depannya.
“Tidak! Nona! Jangan pukul lagi!”
“Nona! Hentikan! Anda tidak boleh memukul!”
Arabella yang sangat ketakutan dan cemas serta trauma penculikan yang pernah diterimanya beberapa kali membuat Arabella kesulitan untuk percaya hingga terdengar suara seorang pria yang sangat familiar baginya.
“Bel! Berhenti! Ini aku Dimas!”
“Jangan takut! Ada aku di sini!”
__ADS_1
“Agh! Hentikan! Aauuhh! Bel, sakit!”
Arabella yang mendengar suara Dimas yang berteriak dengan nada suara kesakitan pun menghentikan tindakannya dan mencoba membuka matanya kembali.
Arabella yang awalnya sangat takut pun tiba-tiba merasa sangat lega saat melihat Dimas berdiri di depannya memegang bahunya dengan tatapan mata yang cemas dan penuh kasih.
“Di-Dimas!” panggil Arabella dengan nada suara yang gagap dengan tubuh yang bergetar dengan nada suara yang rendah.
“Ya! Ini aku Dimas. Tidak apa-apa. Semua sudah berakhir! Tidak ada lagi penculik ataupun perampok di sini! Kau aman!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah dan nada suara yang percaya diri dengan tatapan mata yang tajam penuh keyakinan.
Arabella yang sangat takut pun akhirnya dapat merasakan kembali kelegaannya hingga kehilangan keseimbangan kakinya yang membuatnya terjatuh ke lantai.
Arabella yang sangat senang melihat Dimas pun memeluk Dimas dengan sangat erat dan menangis dengan tersedu-sedu di dalam pelukan Dimas.
Dimas yang merasakan kesedihan dan ketakutan Arabella pun memeluk Arabella dengan sangat erat dan tidak ingin melepaskannya meski hanya sebentar saja.
“Kau aman! Ada aku di sini!” ucap Dimas yang mencoba menenangkan Arabella dari ketakutan dan kegelisahannya dengan suara yang rendah di balik telinga Arabella.
Bersambung
Apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang yang ingin mencelakai Arabella? Kenapa mereka semua tiba-tiba menghilang? Tunggu di BAB selanjutnya ya...
__ADS_1