
Dengan memakai Gaun panjang berwarna biru dan putih dan sepatu high heels berwarna biru serta pita biru yang menghiasi rambutnya, Arabella yang berdiri di bawah lampu yang menyala terlihat sangat cantik dan anggun sehingga membuat mata semua orang yang datang tidak bisa berpaling.
Arabella yang berdiri sendiri merasa sangat gugup tapi mencoba untuk tetap tenang memilih untuk melihat ke depan ke arah Dimas berada hingga akhirnya mata mereka pun saling bertatapan.
Dimas yang menyadari kegugupan Arabella mencoba menenangkannya. Dengan senyum lembut dan tatapan penuh kasih, Dimas membuat Arabella menjadi percaya diri kembali.
"Kau pasti bisa!" ucap Dimas dengan menggunakan bahasa isyarat bibir yang langsung direspon dengan anggukan kecil oleh Arabella.
"Aku pasti bisa! Demi bisa membalaskann dendam kedua orang tuaku, aku tidak boleh melakukan kesalahan." ucap Arabella dalam hati dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.
Arabella yang mendapatkan kepercayaan dirinya kembali pun menarik nafas panjang dan berjalan maju menuju Dimas yang ada di atas panggung dengan langkah pasti dan anggun membuat semua orang yang melihatnya tidak bisa menghentikan diri mereka untuk memuji dan menhina Arabella di saat bersamaan.
"Siapa wanita itu?"
"Aku tidak tau tapi dia sangat cantik bahkan lebih cantik daripada Clara!"
"Hei, sepertinya dia adalah wanita yang dikabarkan menjadi penyebab hancurnya hubungan Tuan Muda Dimas dan Clara!"
"Benarkah? Tapi aku juga merasa pernah melihat wajahnya.
Disaat bersamaan, Clara yang sedang duduk ditempatnya merasa sangat marah saat melihat kedatang Arabella di Acara tersebut bahkan Arabella memakai Gaun Biru Putih yang sudah diincarnya untuk dipakai di Acara Penghargaan Internasional namun tak dapat didapatkannya karena telah menjadi pesanan orang lain.
"Sial! Kenapa selalu Gadis Kampungan itu? Sepertinya jika aku tidak menyingkirkannya maka semua yang menjadi milikku pasti akan hancur. Aku tidak bisa membiarkannya terus berada di depanku! Aku harus menghancurkannya!" ucap Clara dalam hati dengan ekspresi wajah yang gelap dan senyum sinis dengan sorot mata yang tajam seperti pisau ke arah Arabella.
Alea yang melihat Clara melihat Arabella dengan senyum yang jahat membuat Alea merasa kasihan pada Clara karena hatinya selalu dipenuhi dengan rasa benci dan iri kepada orang lain yang lebih baik darinya.
__ADS_1
"Dia sepertinya tidak akan pernah bisa berubah! Mungkin hanya kematian yang bisa membuatnya menghilangkan penyakit hatinya!" ucap Alea dalam hati sambil melihat Clara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi wajah yang merendahkan.
Clara yang melihat apa yang dilakukan Alea menjadi semakin marah dan langsung berdiri meninggalkan kursinya menuju keluar Acara dan tak ada seorang pun yang menghentikannya padahal Clara ada orang yang mencoba menghentikannya bahka Heru yang pernah berjanji akan selalu bersamanya pun menatap Arabella dengan mata yang penuh kerinduan dan cinta.
Namun saat Arabella berdiri di bawah lampu yang dimatikan tiba-tiba saat Arabella mulai berjalan lampu tersebut pun mulai menyala satu per satu menerangi jalan Arabella menuju Dimas yang berdiri di atas panggung.
Arabella yang berjalan dengan sangat anggun akhirnya berjalan melewati meja Clara dan Alea dengan ekspresisenyum yang indah untuk Dimas sehingga membuat Clara menembakkan tatapan tajam ke punggung Arabella yang hanya dibalas dengan abaian. Clara yang diabaikan memilih untuk segera pergi dari Acara tersebut karena tak ingin melihat Dimas dan Arabella bersama.
"Sial! Lihat saja. Aku pasti akan membalasmu Arabella! Jangan panggil aku Clara Priscilia jika tidak bisa memberikan pelajaran pada Gadis Kampung itu!" ucap Clara dalam hati sambil berjalan keluar dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal serta sorot mata yang penuh dengan kebencian.
Clara yang pergi meninggalkan acara dalam keadaan marah pun melihat ada sebuah botol minuman didepannya. Clara yang marah pun berencana menendang botol tersebut tapi tidak sengaja malah terpeleset hingga terjatuh yang menyebabkan salah satu heelsnya patah.
"Augh!" teriak Clara yang kesakitan.
"Pinggangku! Sakit sekali! Aduh!" ucap Clara yang merinti kesakitan sambil mencoba berdiri sambil bersandar dengan tembok dengan ekspresi wajah penuh dengan kesakitan.
"Tidak! Sepatuku!" teriak Clara dengan ekspresi wajah sedih dan ingin menangis di saat bersamaan sambil mengambil sepatunya yang telah patah.
Clara yang sangat mengetahui keadaan dan situasinya langsung mematahkan sepatunya yang lain dan berjalan tanpa menggunakan hak menuju ke kamar yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Aku harus pergi dari sini sekarang. Aku tidak boleh membiarkan orang-orang melihatku dalam keadaan seperti ini jika tidak maka aku akan menjadi bahan pembicaraan orang di seluruh tempat." ucap Clara dalam hati sambil berjalan dengan tertatih-tatih sambil memegang dinding yang ada di sampingnya.
Clara yang telah berada di dalam toilet langsung mengeluarkan handphnenya dan mencoba meminta bantuan Alea namun tidak disangka Alea sudah berencana tidak akan membalas panggilan Clara sampai Acara berakhir.
"Apa yang harus aku lakukan! Aku tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini? Aku harus menghubungi Alea dan memintanya membawakanku sepatu high heelas yang baru." ucap Clara dalam hati dengan ekspesi wajah yang tidak dapat dijelaskan.
__ADS_1
"Kring! Kring! Kring!"
"Sial, anak tidak tau malu dan tidak tau diri! Beraninya dia mengabaikanku! Aku pastikan akan membalasnya nanti!" ucap Clara lagi dengan ekspresi wajah yang marah hingga membuat urat-urat nadi yan terlihat jelas di dahinya.
Clara yang tidak punya pilihan lain pun berjalan menuju ke lantai dasar dan langsung pergi meninggal Hotel temoat Acara Peresmian Perusahaan Cabang Group Arthama Jaya Group.
"Tap! Tap! Tap!"
Sementara itu, Heru dan keluarganya yang juga datang ke Acara tersebut menjadi sangat terkejut saat melihat kedatangan Arabella hingga tidak ada yang mengedipkan mata sampai beberapa menit ke depan.
Heru yang sudah yakin jika Arabella akan datang di Acara tersebut menjadi sangat senang tapi saat mengetahui bahwa sorot mata Arabella hanya tertuju pada Dimas membuat darah Heru pun mendidih dengan ekspresi wajah yang marah dan gelap namun demikian Heru tidak bisa membalas Dimas saat itu juga karena jika Heru tidak maka nama baik Clara akan semakin hancur.
Bu Selena yangmelihat jika fokus mata Heru hanya tertuju pada Arabella menjadi sangat marah dan ingin sekali menyeret Arabella keluar dari tempat itu lalu menamparnya berkali-kali hingga dirinya merasa apa puas!" ucap Bu selena dengan ekspresi wajah yang sangat marah.
"Apakah dia orangnya?" tanya Pak Bambang dengann ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam dengan dua tangan berada di dalam saku celananya serta keringat yang mengalir ke pipinya padahal cuaca sedang sangt cerah.
"Ya! Dia lah orangnya. Kta harus menyingkirkannya sebelum dia menjadi penghalang!" saran Bu Selena dengan ekspresi wajah yang gelap dan sorot mata yang penuh dengan kebencian.
"Aku harus menyingkirkannya jika tidak maka Putraku, Heru tidak akan bisa move on dari cintanya pada anak kampung itu!" ucap Bu Selena dalam hati sambil melihat ke arah Arabella yang sedang berjalan dengan sangat anggun menuju ke arah Dimas.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih