
Dimas yang mendengar apa yang dikatakan Arabella dari balik telinganya merasakan debaran jantungnya semakin cepat dan raut wajah Dimas menjadi merah.
"Deg! Deg! Deg!" suara detak jantung Dimas.
"Kenapa aku merasa sangat panas dan detak jantungku berdebar semakin tak terkendali! Aku harus bisa mengendalikan diriku. Arabella tidak boleh tau jika aku merasa sangat gugup saat ini!" ucap Dimas dengan wajah memerah sambil mencoba mengendalikan emosinya dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Arabella yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Dimas dengan tatapan wajah yang polos dengan nada rendah.
"Tidak ada! Apa kita mulai sekarang aktingnya?" tanya Dimas dengan senyum menggoda dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius yang membuat Arabella tiba-tiba menjadi terpesona.
"Aaaggghhh!" teriak Arabella dalam hati dengan wajag memerah setelah melihat pesona Dimas.
"Gila! Kenapa disaat seperti ini, dia terlihat sangat tampan!" ucap Arabella dalam hati sambil menarik kedua tangannya yang ada di leher Dimas dan meletakkannya di wajahnya dan dada Dimas sambil melihat ke arah yang berlawanan dengan wajah yang semakin memerah.
"Saat ini wajahmulah yang sangat merah. Apa kau sakit?" tanya Dimas dengan wajah yang cemas sambil melihat ke arah Arabella dan mencoba meletakkan tangannya di dahi Arabella yang langsung ditolak oleh Arabella dengan lembut.
"Kendalikan dirimu Arabella! Balas dendamu adalah yang terpenting saat ini!"ucap Arabella dalam hati sambil memejamkan matanya dan mencoba mengendalikan fikkrannya yang telah liar karena ketampanan Dimas.
"A-aku baik-baik saja!" ucap Arabella dengan terbata-bata sambil melihat ke arah mata Dimas.
"Bisa kita mulai aktingnya!" ucap Arabella lagi yang telah fokus kembali dengan tujuannya.
Arabella pun meletakkan kedua tangannya kembali ke leher Dimas dan Dimas pun menarik Arabella ke ujung balkon lalu bersandar di pagar dengan sudut pandang yang masih dapat dilihat oleh Heru dengan jelas.
Dimas pun meletakan tanganya di pipi Arabella dan menciumnya dengan lembut. Arabella pun menerimanya dengan senang hati sambil memejamkan kedua matanya.
Dimas yang awalnya mencium Arabella dengan sangat lembut tiba-tiba berubah menjad semakin dalam dan panas hingga membuat lidah mereka berdua saling bertautan.
Arabella yang merasa ciuman mereka telah menjadi semakin intens pun membuka matanya perlahan dan mencoba melepaskan diri tapi karena karisma dan hebatnya ciuman Dimas membuat Arabella tidak berdaya dan menikmati ciuman mereka.
"Agh! A-Aku harus bisa melepaskan diri dari Dimas segera jika tidak aku pasti akan ..." ucap Arabella dalm hati yang terputus karena telah kehilangan kerasionalannya.
"Agh!" erang Arabella dengan wajah yang memerah.
Heru yang melihat Dimas mencium Arabella dengan sangat ganas menjadi sangat marah hingga membuat wajahnya menjadi sangat gelap dengan alis yang naik ke atas.
"Sial! Beraninya Dimas mencium wanitaku! Aku pasti akan membalasmu. Lihat saja!" ucap Heru dalam hati yang sangat marah dan kesal sambil melihat ke arah Dimas dan Heru yang berpelukan semakin erat dan berciuman semakin intens.
__ADS_1
Heru yang tidak bisa mengendalikan dirinya pun memukul dinding yang ada di dekatnya dengan tinjunya hingga membuat tangannya mengeluarkan darah segar.
Heru yang sangat marah pun berbalik arah dan pergi meninggalkan tempatnya dengan darah yang menetes di sepanjang jalannya.
Dimas yang bisa merasakan jika Heru telah pergi pun mengendurkan pelukannya dan perlahan melepaskan ciumannya.
Arabella yang telah sadar kembali saat Dimas melepaskan ciuman dan pelukannya pun tidak tau merasakan sedikit perasaan tidak senang dan saat menyadari Dimas menatapnya pun langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Dimas.
"Ke-kenapa aku merasa kecewa? Apa aku sangat menikmati ciuman ini?" tanya Arabella dalam hati dengan hati yang sedikit berat melepaskan pelukannya pada Dimas.
"Bagaimana dengan aktingku tadi? Sangat bagus bukan?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah menggoda denga wajah tampannya sambil tersenyum lembut ke arah Dimas.
"Ah! Aku mengendalikan diriku!" ucap Arabella lagi dalam hati sambil melihat ke arah belakang Dimas.
Arabella yang melihat jika Heru sudah tidak ada lagi menjadi sangat senang dan merasa malu di saat yang bersamaan.
"Ah!" gumam Arabella dengan wajah terkejut lalu mendorong Dimas agar menjauh darinya.
"Apakah dia sudah pergi?" tanya Dimas dengan santai sambil menatap wajah Arabella dengan tatapan penuh kasih.
"A-ah! I-iya! Dia sudah pergi!" ucap Arabella dengan suara bergetar dan terbata-bata dengan wajah memerah seperti udang rebus.
Dimas pun berjalan semakin merapat mendekati Arabella dan berdiri di depannya dengan senyum lembut di bawah sinar bulan yang membuat aura dan karisma Dimas terlihat semakin bersinar.
"Bagaimana tadi? Apakah sangat bagus?" tanya Dimas yang mendekatkan kepalanya ke telinga Arabella dengan suara rendah dengan senyum misterius sambil melihat ke arah telinga Arabella yang memerah.
"Ba-bagus sekali!" jawab Arabella dengan wajah yang memerah yang seketika hilang kerasionalannya dengan debaran jantung yang semakin berdetak kencang hingga mungkin dapat di dengar oleh Dimas.
"Deg! Deg! Deg!" suara detak jantung.
"Apanya yang bagus? Aktingnya atau ... ciumannya!" ucap Dimas dengan menekankan suaranya pada pilihan kata yang diberikannya pada Arabella dengan nada yang menggoda.
Arabella yang mendengar pertanyaan Dimas yang tidak sanggup diutarakannya pun langsung mendorong Dimas lalu berlari pergi menjauh dengan dua tangan menutupi wajahnya yang telah menjadi sangat merah dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang.
"Dag! Dug! Dag! Dug!" suara detak jantung Arabella.
Dimas yang melihat kepergian Arabella tidak berencana mengejarnya dan membiarkan Arabella menenangkan dirinya sendiri.
"Hah!" helaan nafas Dimas sambil tersenyum lembut melihat kepergian Arabella yang semakin jauh.
__ADS_1
"Aku harus berhenti menggodanya karena jika tidak mungkin Arabella akan menjadi marah padaku!" ucap Dimas dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak sanggup menolak untuk melihat sikap Arabella yang salah tingkah dan malu-malu kucing tapi meong.
Dimas pun berbalik dan bersandar di pagar sambil melihat ke arah langit dan bintang-bintang sambil membayangkan kenangan-kenangan indahnya bersama Permaisuri Shiena dan Arabella di dua kehidupannya.
Sementara itu, Arabella yang berlari menjauh dari Dimas bertemu dengan Pak Antoni dan Edo yang sedang mengkoordinir tamu yang perlahan meninggalkan Acara.
Arabella yang wajahnya sangat merah dan masih merasa malu pun memilih pergi mengabaikan keduanya.
"No-Nona!"
"Nona muda!"
"Syut!"
"Tao! Tap! Tap!"
Arabella pun berlari menuju ke keruangan dirinya menunggu dipanggil lalu membuka pintu dan menutupnya dengan sangat cepat seolah tak ingin membiarkan ada orang yang mencoba masuk ke dalam ruangan itu juga kemudian berdiri di belakang pintu.
"Kenapa aku menjadi sangat malu dengan pertanyaan Dimas?" ucap Arabella dalam hati sambil pandangan mata yang menatap lurus ke depan dengan wajah yang memerah dan suara nafas yang terengah-engah karena terus berlari.
"Aaggghhh!" teriak Arabella dengan ekspresi wajah yang frustasi.
"Aku pasti sudah gila! Kenapa aku berani melakukan itu?" tanya Arabella pada dirinya sendiri dengan dengan ekspresi wajah yang sangat malu dengan keringat yang mengalir di pipinya.
Arabella yang masih berdiri di belakang pintu pun terdiam dan termenung sesaat lalu tanpa sadar mengingat kembali adegan ciuman panas antara dirinya dan Dimas.
"Aaarrrggg! Aku pasti sudah gila!" teriak Arabella yang langsung menggerakkan tangannya ke atas kepala seolah sedang menghapus bayangan-bayangan ingatan yang tak ingin diingatnya.
Lalu tiba-tiba pintu pun terbuka, Edo yang membuka pintu melihat Arabella bertingkah aneh menjadi sangat bingung dengan Dimas yang hanya tersenyum seolah menahan tawa.
"Aduh! Kenapa panas sekali? Apa AC-nya tidak hidup?" tanya Arabella yang langsung bergerak mengipasi wajahnya yang telah berubah merah merona seperti udang.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1