
Dimas yang merasa jika Walikota telah melakukan sesuatu yang kelewatan pun menyindir Walikota hingga membuta Walikota langsung berlari pergi dari tempat Acara.
"Ternyata Katak dalam sumur sudah mulai berani melompat keluar dari sumur tapi tidak tau sedalam apa sumur tersebut." sindir Dimas dengan kata-kata yang tajam serta sorot mata yang tajam dan aura membunuh yang sangat dingin dapat dirasakan orang-orang yang ada di sana.
"Tuan Muda Dimas! Saya hanya mencoba melindungi reputasi putri saya, saya harap Tuan Muda tidak memasukkan kata-kata saya ke dalam hati." ucap Walikota dengan senyum terpaksa dan pergi meninggalkan tempatnya berada lalu mengejar Putri tersayangnya.
"Silahkan nikmati pestanya." ucap Dimas dengan penuh percaya diri kepada semua Tamu yang datang dengan mengangkat gelas anggur sebagai tanda bahwa tidak akan ada masalah apapun ke depannya.
Dimas pun berjalan menjauh dari kerumunan menuju ke belakang panggung dan Edo yang melihat Dimas pergi menemukan kode rahasia yang ditinggalkan Dimas untuknya.
Edo pun langsung bergerak pergi menjauh dari orang-orang dan langsung menemui Dimas tanpa diketahui orang-orang yang ada disana.
Dimas yang mengetahui kedatangan Edo langsung mengatakan apa yang ingin dikatakannya tanpa menunda waktu lagi.
"Tap! Tap! Tap!"
"Klik!"
"Sruk!"
"Kau melihat apa yang baru saja terjadi?" tanya Dimas kepada Edo sambil melihat ke arah Edo dengan dua tangan yang ada di dalam saku celananya.
"Saya melihatnya dengan sangat jelas, Tuan Muda. Apa saya harus menyelesaikan Nona Liliana?" tanya Edo yang penasaran sambil memegang sebuah map plastik yang berisikan beberapa berkas mengenai Acara yang akan dilaksanakan.
"Bukan dia!" ucap Dimas dengan senyum sinis dengan berbalik arah melihat ke arah depan tempat dimana Tamu berkumpul.
"Lalu? Siapa?" tanya Edo yang kebingungan sambil melihat ke arah dimana fokus Dimas berada dengan wajah yang penuh penasaran.
"Walikota! Hancurkan karirnya! Dia terlalu sombonh, bahkan dia berani mengancam orang-orang yang menjadi Tamuku di tempatku sendiri! Dia harus tau bahwa di atas langit masih ada langit!" ucap Dimas yang marah dengan wajah yang gelap dengan senyum licik.
"Kalau begitu, saya akan memberikan semua bukti suap yang dilakukan Bapak Walikota ke KPK agar dia ditangkap dan ditahan!" ucap Edo dengan senyum licik dengan ekspresi wajah seolah menikmati.
"Tidak hanya itu, bongkar juga kejahatannya di dunia maya, buat berita itu menjadi heboh dan semua orang mengetahui semua kejahatannya!" ucap Dimas sambil menunjuk ke arah Walikota yang sedang berdiri dengan angkuh di hadapan Tamu yang lain dari balik panggung.
__ADS_1
"Satu lagi, tunjukkan juga perbuatan jahat dan curang putrinya kepada semua orang. Aku ingin Keluarga Walikota harus hancur dalam semalam!" ucap Dimas dengan wajah yang marah dan kesal hingga membuat urat nadi di dahi kepalanya keluar.
Edo yang mendengar apa yang dikatakan Dimas hanya bisa melongo dengan mata dan mulut terbuka karena tidak menyangka Tuan Mudanya yang dulu telah berubah menjadi Manusia yang Kejam kepada orang-orang yang telah melakukan kejahatan padanya dan orang terdekatnya.
"Untung aku berada di pihak Tuan Muda! Jika tidak akan habis aku sampai tujuh keturunan karena pembalasan Tuan Muda." ucap Edo dengan tubuh merinding hingga bulu-bulu di tubuhnya berdiri dengan ekspresi wajah yang gelap dan takut.
Dimas pun keluar menuju ke tempat Acara dan meninggalkan Edo sendirian di belakang panggung dengan ekspresi wajah yang takut.
Edo yang sendiri langsung mengambil laptop yang ada di dalam tasnya yang telah di simpannya dengan baik agar tidak ditemukan orang lain.
Tangan Edo yang sudah terbiasa dengan keyboard laptop bergerak dengan indah seolah sedang menari berirama. Edo memasuki halaman Weibo dan menjelajahi dunia maya.
"Tak! Tik! Tuk!"
Edo dengan lincah meretas cctv, email dan beberapa hal lainnya yang dapat membantunya menghancurkan Keluarga Walikota.
"Srak! Sruk!"
Hanya dalam waktu lima belas menit, Edo telah berhasil mengumpulkan bukti rekaman video dan foto-foto tentang suap, penyelundupan dan transaksi ilegal yang dilakukan Walikota. Edo juga berhasil menemukan rekaman pembulian dan penyuapan yang dilakukan oleh Liliana.
"Hahaha"
Tanpa membutuhkan usaha yang banyak, Edo berhasil menyebar semua kejahatan yang dilakukan Keluarga Walikota hingga menjadi viral di dunia maya dan sosial media.
Edo juga tidak memiliki rasa ampun langsung menyerahkan semua kejahatan Walikota ke KPK, DPRD, KEMENDAGRI hingga Kapolri yang membuat semuanya menjadi heboh.
Edo yang merasa tugasnya telah selesai langsung keluar dari belakang panggung seolah sedang melakukan banyak hal mempersiapkan semuanya.
Sementara itu, Walikota yang sedang berbincang tiba-tiba menjadi sangat panik saat putrinya menelpon dengan nada yang sangat takut.
"A-ayah! To-tolong aku!" ucap Liliana yang ada di balik telepon dengan nada yang ketakutan.
"Ada apa , Putriku? Kau dimana? Ayah akan kesana sekarang!" ucap Walikota dengan ekspresi wajah yang takut dan cemas dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
__ADS_1
"Huuh... A-aku ada di unjung koridor di lantai bawah ayah. A-aku tidak berani keluar ayah. Banyak sekali wartawan datang yang mengincarku!" ucap Liliana dengan air mata yang mengalir di pipinya dan ekspresi wajah yang ketakutan.
"Wartawan? Kenapa?" tanya Walikota yang bingung sambil berjalan meninggalkan Ruang Acara dengan tergesa-gesa.
Namun saat Walikota ingin pergi turun menaiki lift tiba-tiba asisten Walikota datang dengan wajah yang cemas serta keringat yang sangat banyak mengalir dari dahinya ke pipinya.
"Pak Walikota gawat! KPK dan Polisi sedang dalam perjalanan kemari ingin menangkap Bapak. Tak hanya itu rumah dan kantor juga sedang di periksa oleh KPK, katanya Bapak Menerima Suap sebesar 1 Triliun dan buktinya juga telah tersebar di sosial media." ucap Asisten Walikota dengan nada penuh ketakutan tanpa jeda dengan keringat yang terus mengalir tanpa hentinya.
"A-apa? Bagaimana ini bisa terjadi?" guman Walikota yang sudah terduduk lemas di tempatnya berdiri dengan ekspresi wajah yang gelap.
Walikota yang masih mengingat nasib Putri Kesayangannya bergegas turun ke Lobby melalui tangga dan berniat menjemput Liliana namun tidak disangka saat dirinya menemukan Liliana, Walikota langsung diamankan oleh Polisi bersama Putrinya dan dibawa ke Kantor Polisi.
"Ti-tidak! Aku tidak mau dipenjara! Aku mohon lepaskan aku. Jika ingin membawa, bawa saya ayahku. Dia yang melakukan semua itu!" teriak Liliana dengan sangat keras saat di tarik oleh beberapa Polisi masuk ke dalam mobil.
Walikota yang mendengar apa yang dikatakan putri yang sangat disayanginya melebihi apapun dengan teganya mengatakan hal yang sangat tidak berprikemanusiaan menjadi sangat marah.
Jadi sebelum Liliana masuk ke dalam mobil, Walikota menarik lengan Liliana dengan kasar lalu menamparnya dengan sangat keras.
"Dasar anak tidak tau diuntung! Kau bahkan berani menjual ayahmu sendiri demi kebebasanmu." ucap Walikota yang marah dengan ekspresi wajah yang marah dengan tangan bergetar karena telah menampar putri yang selama ini selalu ditimang dan digendongnya dengan penuh kasih sayang.
"Apakah ini hukuman bagiku? Karirku dan keluargaku hancur!" ucap Walikota dengan wajah yang sedih dan sorot mata yang tidak memiliki semangat hidup lagi.
Sementara itu, Tamu-tamu yang mengetahui kejadian yang menimpa Walikota dan Putrinya tidak ada yang bersimpati bahkan mereka dengan terang-terangan menghina dan mengatakan hal buruk tentang perilaku Walikota dan Putrinya saat Acara belum di mulai.
"Ternyata Walikota telah menghabiskan banyak sekali uang negara!"
"Benar sekali! Dasar koruptor!"
"Putrinya juga tidak punya etika dengan beraninya membuli orang lain!"
"Hush! Jangan berbisik lagi sepertinya ini hukuman dari Tuan Muda Dimas!"
"Aku juga berfikiran sama!"
__ADS_1
#Bersambung#