
"Bagaimana kabarmu sekarang Clara? Apa kau menyukai hadiah dariku?" tanya Shaha dengan tawa yang terdengar sangat keras dari balik telepon.
"Dasar wanita sialan! Beraninya kau melakukan ini padaku! Jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja." ucap Clara dengan nada yang tinggi dan ekspresi wajah yang penuh amarah dan kebencian.
"Melepaskanku? Kau fikir kau itu siapa? Kau itu bukan siapa-siapa lagi sekarang dan tidak akan ada seorangpun yang akan menolong dan menyelematkanmu." ucap Shaha dengan tawa yang keras sambil mengelurkan sedikit air mata dengan ekspresi wajah yang sangat gembira.
"Hah! Kau tidak tau siapa aku? Wajar saja kau tidak tau, orang miskin sepertimu tidak pantas mengetahui tentangku karena dunia kalian berdua denganku itu berbeda!" ucap Clara dengan tawa yang terlihat seperti orang yang sudah tidak waras lagi.
"Dunia yang berbeda? Apa kau sedang bermimpi? Apa kau tidak membuka layar ponselmu dan membaca berita baru-baru ini. Keluargamu sudah BANGKRUT!" ucap Shaha dengan penekanan di satu kata terakhir dengan senyum sinis dan ekspresi wajah yang merendahkan yang ditunjukkan untuk Clara.
"Bangkrut? Tidak mungkin! Keluargaku itu sangat kaya dan Perusahaan keluargaku tidak akan bangkrut semudah itu serta kami memiliki banyak aset. Jangan berkata yang tidak-tidak." ucap Clara mencoba menyangkal perkataan Shaha dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri tentang keadaan keluarganya.
Alea yang awalnya hanya diam dan mendengarkan percakapan Clara dan Shaha akhirnya tidak sabar lagi dan mengambil handphone itu dari tangan Shaha lalu membuat Clara menjadi sangat terkejut.
"Apa kau fikir Keluargamu itu Dewa? Sehingga dapat melakukan sesukanya dan tidak akan bisa tersentuh orang-orang." ucap Alea dengan nada sinis dan sorot mata yang tajam.
"Itu salahmu yang memprovokasi orang yang salah sehingga orang tersebut merencanakan semua ini. Kami hanyalah pion yang digunakannya. Jadi jika ingin marah maka marahlah pada dirimu sendiri dan jika ingin menyalahkan orang tentu saja salahkan dirimu sendiri." ucap Alea dengan nada sinis dan sorot mata yang menghina sambil meliht foto Clara.
"Jangan bohong. Aku tau kau pasti berbohong. Aku tau jika kau sakit hati karena aku kah memecatmu dan karena itu lah kau melakukan ini." ucap Clara sambil tertawa hambar dengan ekspresi wajah yang pucat dan siap menangis.
"Mau percaya atau tidak, itu semua adalah urusanmu." ucap Alea dengan santai sambil menyerahkan handphone itu kembali kepada Shaha.
Shaha yang menerima kembali handphone itu pun menumphka kebencinnya pada Clara.
"Ehem, bagaimana dengan hadiahnya? Apa kau menyukainya?" tanya Shaha dengan nada menghina sambil tertawa sinis.
__ADS_1
"Kau! Dasar anjing yang tidak tau diuntung. Beraninya kau menggigit tuanm!" teriak Clara yang marah dengan nada dan kata yang kasar dan tinggi.
"Aku bukan anjingmu! Aku adalah Managermu yang telah kau tekan dengan nyawa ayahnya." ucap Shaha dengan nada sarkastik dan tatapan mata penuh dengan kebencian dan amarah.
"Kau membuat ayahku menderita karena semua bantuan hidupnya kau hentikan dan sekarang kau dan keluargamu akan merasakan apa yang aku rasakan." ucap Shaha dengan senyum puas karena dapat membalaskan dendam.
Clara yang tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan Shaha dan Alea pun mematikan teleponnya lalu melempar handphonenya ke lantai.
Clara yang sangat kesal dan marah pun melemparkan tas serta sepatunya dan berteriak dengan sangat keras.
"Aarrrgghh!" teriak Clara dengan suara yang sangat keras dan ekspresi wajah yang penuh dengan amarah.
Shaha dan Alea yang telah berhasil menyelesaikan dendamnya pun merasa sangat bahagia.
"Akhirnya aku dapat membuatnya dan keluarganya menderita. Ayah, ibu, aku telah membalas mereka yang telah membunuhmu." ucap Alea dengan nada rendah dan lirih sambil memegang foto kedua orang tuanya lalu meneteskan air mata.
"Kau benar. Aku telah membalas perbuatan mereka berkali-kali lipat. Aku yakin ayah dan ibuku pasti sudah bahagia di sana."ucap Alea dengan senyum bahagia sambil memeluk foto kedua orangtuanya di dalam dekapannya dengan sangat erat sambil menghapus air matanya dengan jari-jarinya.
"Tentu saja. Sekarang kita hanya tinggal melihat akhir dari pembalasan dendam ini." ucap Shaha dengan senyum sinis sambil melihat ke arah acara gosip yang sedang berlangsung menayangkan berita tentang skandal yang dilakukan Clara.
Sementara itu, Ibu Clara yang sedang berada di rumah sakit menemani Ayah Clara yang sedang terbaring di ranjang Rumah Sakit menonton berita skandal tentang Clara tidak bisa berhenti melihat berita tersebut.
"Clara! Putriku! Huuhh...Huuhh...Huuhh..." ucap Ibu Clara sambil meneteskan air mata dengan ekspresi wajah yang sangat sedih dan pilu.
"Maafkan kedua oragtuamu yang tidak bisa membantumu di saat seperti ini. Semoga kau baik-baik saja. Ibu sangat merindukanmu." gumam Ibu Clara dengan suara rendah sambil menutup mulutnya dengan tangan sambil terus menangis dalam diam.
__ADS_1
Saat Ibu Clara sedang menangis pilu dan mengkhawatirkan nasib Clara, Asisten dan Manager Pribadi Ayah Clara datang dengan ekspresi wajah yang sangat bingung.
"Selamat pagi, Nyonya!" ucap Asisten dan Manager secara bersamaan sambil berdiri di depan pintu ruang VIP dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Duduklah. Kenapa wajah kalian seperti itu? Apa yang terjadi dengan Perusahaan?" tanya Ibu Clara sambil buru-buru menghapus air matanya dan mematikan layar televisi lalu buru-buru memperbaiki perasaannya yang sedang gelisah dan sedih menjadi lebih baik kemudian meminta dua orang bawahannya yang telah datang untuk duduk di sofa yang disediakan di ruangan VIP Rumah Sakit itu.
"Hmmm, Para Investor yang telah menanamkan uangnya di Perusahaan kita satu per satu telah menarik dananya hingga membuat keuangan Perusahaan menjadi hancur." ucap Manager dengan ekapresi wajah yang sedih sert kecewa tapi tetap berusaha profesional.
"Apa kau tidak bisa meyakinkan investor itu untuk tidak menarik dananya? atau apa kau tidak bisa mencari orang lain yang mau berinvestasi di Perusahaan kita?" tanya Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal sambil menatap lurus ke arah Manager yang sedang duduk di tempatnya.
"Saya sudah meyakinkan mereka semua tapi berita tentang kasus yang dilakukan Nona Clara serta berita tentang Perusahaan yang mengalami masalah telah bocor ke telinga Investor, membuat semua Investor berfikir ulang untuk tetap melakukan investasi di Perusahaan kita." ucap Manager dengan ekspresi wajah yang serius sambil menatap mata Ibu Clara.
"Apa maksudmu berita itu bocor? Bukankah masalah yang terjadi di Perusahaan ini baru diketahui semalam?" tanya Ibu dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Saya rasa ada mata-mata di dalam Perusahaan dan mata-mata itu lah yang membocorkan masalah ini kepada para investor dan musuh kita." ucap Manager dengan ekspresi wajah yang sedih dan menundukkan kepalanya tanda dirinya telah gagal menyadari gagal menghentikan mata-mata menyebarkan informasi rahasia Perusahaan.
Ibu Clara yang mendengar masalah yang terjadi secara beruntun merasa kepalanya terasa sangat pusing hingga membuatnya harus memijat pelipisnya dengan perlahan.
"Maaf Nyonya tapi saya harus memberikan kabar buruk bahwa pengiriman barang kita ke daerah lain melalui jalur laut dan darat mendapatkan masalah sehingga membuat Perusahaan mengalami kerugian dan harus mengganti rugi ke Perusahaan yang telah melakukan Perjanjian Kerjasama dengan kita karena kita tidak bisa memenuhi isi Perjanjian di waktu yang telah disepakati." ucap Asisten Pribadi Ayah Clara sambil membaca data yang ada di layar tabletnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu berapa jumlah kerugian kita dan jumlah uang yang harus kita bayar karena melanggar perjanjian?" tanya Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan.
Ibu Clara yang menjadi pengganti sementara untuk memimpin Perusahaan saat suaminya sedang terbaring di atas ranjang merasakan tekanan yang sangat besar di saat semua masalah datang bertubi-tubi.
#Bersambung#
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..
Terima kasih