CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 86. Rencana Kepindahan Arabella


__ADS_3

Clara yang mengingat semua yang terjadi semalam mulai menyadari jika dirinya harus mencari Manager yang baru.


"Haizz, kenapa aku sampai melupakan kejadian semalam?" gumam Clara yang pusing sambil mengacak rambutnya sambil berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Kau siapkan air hangat untukku mandi!" perintah Clara yang langsung berhenti berjalan dan menoleh ke belakang ke arah Asisten Rumah Tangganya yang masih berada mengikutinya.


"Baik, Nona." ucap Asisten Rumah Tangga itu dengan patuh sambil membungkukkan kepalanya satu kali lalu berlari kecil mendahului Clara masuk ke dalam kamarnya.


"Hah, aku harus mencari cara untuk mendapatkan Manager yang baru dan pastinya harus lebih baik dari Alea." gumam Clara sambil menguap dan berjalan dengan malas menuju kamarnya.


Saat Clara sedang berfikir bagaimana cara mendapatkan Manager tiba-tiba Asisten Rumah Tangga datang dan memberitau bahwa air mandi telah siap.


"Apa aku harus buat pengumuman mencari Manager di sosmedku atau aku meminta rekomendasi dari sesama teman model?" ucap Clara yang terbaring dengan kaki masih menapak di lantai dengan tatapan mata yang mengarah ke langit-langit kamar.


"Maaf Nona, air mandinya sudah siap." ucap Asisten Rumah Tangga dengan senyum lembut dan ramah.


"Agh, baiklah. Kau boleh keluar! dan jangan lupa siapkan sarapan yang lezat untukku!" perintah Clara sambil menunjuk ke arah Asisten Rumah Tangganya lalu mengusirnya keluar dengan tangan.


"Saya permisi, Nona Clara!" ucap Asisten Rumah Tangga yang langsung menundukkan kepala dan berjalan keluar kamar Clara dengan pelan.


Clara yang merasa sangat lelah dengan semua yang terjadi merasa jika dirinya sangat membutuhkan waktu untuk memanjakan dirinya sendiri.


"Hah, berendam di air hangat dan bersandar dengan santai memang hal yang terbaik!" gumam Clara sambil bersandar di bathupnya dengan mata terpejam dan tubuh yang releks.


Namun, saat Clara merasa dirinya merasa lebih baik, semua ingatan tentang perubahan sikap Dimas dan heru padanya dan tentang keberadaan Arabella yang seolah adalah duri dalam daging membuat syaraf Clara menjadi tegang kembali.


"Splash!" suara air.


"Sial!" teriak Clara yang kesal tiba-tiba terduduk.


"Aku tidak akan pernah bisa merasa tenang jika tidak bisa menghancurkan hidup Gadis Kampung itu!" ucap Clara dengan ekspresi wajah yang marah dan intonasi yang tinggi serta penekanan di beberapa katanya membuat urat-urat nadi di dahi Clara muncul.


"Hah, aku harus memiliki cara untuk membuat Arabella tidak akan bisa lagi menerima dirinya sendiri dan akan dengan sendirinya menjauhi Dimas karena aku tidak akan pernah bisa membuat Dimas menjauhi Gadis Kampung itu!" ucap Clara dengan ekspresi wajah lelah sambil bersandar di sisi bathup dengan sorot mata yang tajam melihat ke arah langit-langit.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membiarkan Arabella merasa bahagia dan dapat menikmati semua kemewahan itu sendiri sementara aku harus menderita dan bekerja keras mendapatkan apa yang aku inginkan." ucap Clara dalam hati dengan fikiran yang campur aduk.


Clara yang merasa sangat lelah baik fisik maupun batin akhirnya tertidur kembali di dalam bathupnya.


Sementara itu, Arabella yang merasa jika reputasinya telah pulih kembali menjad sangat senang dan bahagia. Arabella pun menikmati harinya dengan bersantai menikmati hidup seperti kukang.


Keesokan paginya, Dimas dan Arabella yang sudah terbiasa sarapan pagi bersama pun melaksanakan aktifitas rutin ini dalam suasana harmoni yang indah.


"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.


"Selamat pagi, duduklah!" ucap Dimas yang sedang duduk di kursi makan dengan senyum hangat dan cerah sambil berdiri dan membantu Arabella duduk di kursinya.


"Kret!" suara kursi bergeser.


"Terima kasih." ucap Arabella sambil tersenyum lembut membalas perlakuan manis Dimas padanya.


"Aku sudah meminta koki membuatkanmu Bubur Bandung Spesial. Aku harap kau akan menyukainya." ucap Dimas yang telah duduk kembali ke kursinya sambil menjentikkan jari memberi kode kepada Koki dan Pelayan yang berjaga untuk menyiapkan menu sarapan yang telah disiapkan.


"Tap! Tap! Tap!" langkah kaki.


"Srak!"


"Sruk!"


"Cicipilah!" perintah Dimas dengan nada lembut dan senyum hangat dan ekspresi wajah yang cerah sambil memberikan kode kepada semua orang yang ada untuk pergi dengan perlahan dan tanpa disadari Arabella di ruang makan itu hanya tinggal dirinya berdua dengan Dimas.


"Hmmm, baunya wangi sekali. Sepertinya ini akan sangat lezat." ucap Arabella sambil mencium aroma bubur dengan hidungnya lalu menatap bubur bandung yang ada di depannya dengan tatapan penuh rasa penasaran.


"Ehmmm, ini enak sekali." ucap Arabella setelah memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya dengan ekspresi wajah yang bahagia.


"Kalau kau menyukainya maka habiskanlah." ucap Dimas dengan perasaan lega dan bahagia.


"Baik!" jawab Arabella dengan patuh yang kemudian memakan bubur bandung itu hingga tersisa sedikit.

__ADS_1


Arabella yang masih memikirkan tentang komentar beberapa orang pun berencana mempercepat rencananya yang akhirnya membuat keadaan sudah menjadi baik menjadi rusak Arabella dan di saat bersamaan membuat Dimas kehilangan selera makannya.


"Aku harus segera pindah dari Kediaman Dimas karena kami belum sah menikah. Meskipun Dimas tidak perduli dengan omongan orang lain dan dapat membuat mulut orang yang mengatakan hal ini mendapat masalah tapi aku tau Dimas tidak bisa menutup mulut semua orang!" ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung sambil memainkan sendok dan garpu yang ada di tangannya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu menjadi berubah? Apa kau sakit?" tanya Dimas yang cemas yang langsung berdiri dan berlutut dengan satu kaki di samping Arabella sambil memeriksa kondisi tubuh Arabella.


"A-aku baik-baik saja." ucap Arabella dengan terbata-bata sambil memalingkan wajahnya ke arah lain saat tangan Dimas menyentuh dahi Arabella.


"Astaga, dekat sekali! Jantungku belum siap menerima serangan Pria Tampan sepagi ini!" gerutu Arabella dalam hati dengan wajah memerah dengan satu tangan menutupi setengah wajahnya yang malu.


"Jika kau baik-baik saja lalu kenapa wajahmu memerah?" tanya Dimas yang bingung sambil melihat ke arah Arabella dengan tatapan cemas.


"A-aku sungguh baik-baik saja. Hanya saja ada yang ingin aku sampaikan." ucap Arabella buru-buru mengalihkan pembicaraan dan memerintah Dimas untuk duduk kembali ke kursinya.


"Katakan saja apa yang kau mau. Aku akan memberikannya padamu." ucap Dimas dengan penuh percaya diri dengan senyum lembut dan penuh perhatian sambil memegang tangan Arabella yang langsung ditarik Arabella kembali.


"Hmmm, aku hanya ingin mengatakan terima kasih karenamu semua masalah terselesaikan dengan baik dan tidak ada lagi orang yang salah paham tentangku." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang tulus dan senyum bahagia sambil melihat ke tangannya yang sedang bertautan di pangkuannya.


"Itu bukanlah hal yang sulit. Kedepannya tidak akan ada yang akan mengatakan hal buruk lagi tentang hubungan kita." ucap Dimas dengan penuh keyakinan sambil melihat ke arah Arabella.


"Aku tau kau dapat aku andalkan tapi kita tidak bisa menutup mulut semua orang yang ingin berkata buruk tentang kita karena itu aku harap kau mengizinkanku untuk pindah ke rumah orang tuaku besok siang." ucap Arabella yang mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap mata Dimas dengan ekspresi wajah penuh keyakinan.


"Apakah aku tidak bisa mengubah keputusanmu lagi?" tanya Dimas dengan wajah yang sedih sambil meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya sambil melihat ke arah Arabella dengan tatapan anak anjing.


"Oh my God, lucu sekali! Aku tidak bisa tahan dengan wajah tampan dan lucu ini. Tuhan, tolong kuatkan imanku!" ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang berat sambil memegang dadanya.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2