CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 130. Kenyataan Orang Kaya


__ADS_3

Clara yang mendengar perkataan Asisten Pribadi Ayahnya pun menjadi sangat terkejut.


"Aku tidak mau melakukannya." ucap Clara dengan ekspresi wajah terkejut dan tidak senang di saat bersamaan.


"Benar yang dikatakan Asisten Pribadi Ayahmu. Ibu juga berfikiran yang sama. Kau dan Dimas pernah memiliki hubungan percintaan di masa lalu. Ibu yakin Dimas pasti mau menolong kita." ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang bahagia sambil tersenyum cerah ke arah Clara.


"Tentu saja, jika Tuan Muda Dimas mau berinvestasi di Perusahaan kita maka Perusahaan ini pasti dapat keluar dari krisis mengingat Perusahaan Tuan Muda Dimas sebagai Perusahaan terbesar yang ada di Indonesia." ucap Asisten Pribadi Ayah Clara dengan wajah yang terlihat sangat senang.


"Benar putriku. Krisis yang dialami Keluarga kita hanya dapat diselesaikan olehmu. Kau pasti bisa, Clara. Bukankah kau ingin kembali ke Dunia Hiburan lagi? Ini adalah satu-satunya caranya." ucap Ibu Clara dengan senyum penuh harap dan ekspresi wajah yang cerah.


"Ta-tapi... Aku tidak yakin Dimas mau menolong kita." ucap Clara dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Kalian telah lama bersama di masa lalu dan Ibu yakin Dimas pasti mau menolongmu mengingat hubungan kalian." ucap Ibu Clara sambil memegang tangan Clara dengan kedua tangannya dengan mata yang berbinar.


"Hah! Baiklah. Aku akan mencobanya." ucap Clara dengan nada rendah dan ekspresi wajah yang terpaksa.


"Apa benar Dimas masih mau menolongku setelah semua yang telah aku lakukan padanya dan gadis kampung itu!" gumam Clara dengan wajah yang khawatir sambil menggigit kukunya.


"Kalau begitu aku akan segera menghubungi Perusahaan Arthama Jaya dan mengatur janji temu." ucap Asisten Pribadi dengan wajah bahagia sambil berlari keluar Ruangan bersama Tablet dan buku catatannya.


Clara yang tidak memiliki pilihan lain pun hanya dapat berharap agar Dimas mau bertemu denganya dan mengabulkan permintaannya.


Sementara itu, waktu pun berganti dengan cepat tapi tetap tidak membuat Dimas tersadar dari tidurnya. Arabella yang terus menjaga Dimas selama beberapa hari pun mulai merasa semakin cemas dan bingung.


"Bangunlah Dimas! Aku sangat mengkhawatirkanmu." ucap Arabella dengan suara rendah di balik telinga Dimas yang masih terbaring di tempat tidur.


Tanpa diduga Dimas akhirnya tersadar dan bangun dari tidurnya dengan wajah yang bingung.

__ADS_1


"Apa ini Bella? Apa aku sedang bermimpi? Bel, aku mencintaimu." ucap Dimas dengan senyum bahagia lalu menarik Arabella dan meletakkannya di dalam pelukannya dengan sangat erat.


Arabella yang tiba-tiba telah berada di dalam pelukan Dimas menjadi sangat terkejut dan bahagia di saat bersamaan.


"Tunggu dulu, kenapa rasanya sangat nyata? Apa aku benar-benar dalam dunia mimpi?"tanya Dimas pada dirinya sendiri sambil melepaskan pelukannya dan menusuk-nusukkan jari telunjuknya ke pipi Arabella.


"Kau tidak bermimpi dan ini benar aku yang kau tarik ke dalam pelukanmu." ucap Arabella dengan wajah yang jutek dan sorot mata yang tajam.


Dimas yang mendengar pernyataan Arabella pun menjadi sangat terkejut dan menjauh dari Arabella lalu merubah posisinya menjadi posisi duduk di atas kedua kakinya.


"Maafkan aku!" ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bersalah dengan dua tangan bersatu di depan wajahnya yang menunduk karena merasa telah melakukan kesalahan.


"Hmmm, baguslah kalau sudah sadar. Sekarang katakan padaku dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi? Jika kau tidak ingin mengatakannya maka jangan harap aku mau bicara denganmu lagi." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang marah dan cemas di saat yang bersamaan.


"Hmm, aku hanya kelelahan. Jangan khawatir." ucap Dimas mencoba berbohong dengan senyum palsu lalu mengelus rambut Arabella yang langsung ditepis Arabella dengan tangannya.


"Jangan coba membohongiku. Aku menemukan jam arloji ini di tangan kananmu. Jam ini tergenggam dengan sangat erat." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.


"Tentu saja. Jadi katakan sejujurnya, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa tidak sadarkan diri hingga tiga hari lamanya?" tanya Arabella dengan menatap tajam ke arah Dimas.


"Hah, baiklah. Apa kau tau kenapa orang-orang penting dan kaya selalu pergi ditemani Bodyguard? Apa kau tau alasan kenapa rumah orang-orang penting dan kaya selalu dipasang CCTV yang canggih 24 jam? Bahkan memiliki banyak penjaga yang berjaga di rumahnya." tanya Dimas dengan tatapan mata yang serius sambil melihat ke arah Arabella.


"Bukankah itu untuk menjaga barang-barang berharga yang dimiliki oleh orang kaya?" tanya Arabella dengan wajah yang polos dan tidak tau apapun.


"Kau salah. Itu semua karena banyak orang yang mengincar nyawanya." ucap Dimas dengan suara yang tegas dan ekspresi wajah yang sangat serius lalu berdiri dari tempat tidurnya dan membuka balkon kamarnya.


"Maksudmu?" tanya Arabella yang masih tidak mengerti dengan ekspresi wajah yang bingung.

__ADS_1


"Orang-orang penting dan kaya memiliki banyak musuh dan saingan bisnis. Jika orang yang menjadi penghalang terbesarmu meninggal atau mati maka kau akan menjadi orang yang nomor satu." ucap Dimas sambil berjalan ke arah Arabella yang diam mendengarkan semua penjelasan Dimas tanpa berkata sepatah kata pun.


"Aku adalah Dimas Arthama Jaya. Pewaris Utama Perusahaan Arthama Jaya Group yang merupakan Perusahaan terbesar di Indonesia. Jika aku mati maka akan banyak orang yang diuntungkan karenanya." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius sambil menarik Arabella untuk duduk di balkon menghirup udara segar.


"Jadi semalam ..." ucap Arabella yang terhenti karena tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Benar sekali. Semalam ada beberapa orang datang kemari dan mencoba membunuhku. Aku terpaksa menggunakan kekuatanku untuk bertahan hidup jika tidak maka saat ini kau mungkin tidak akan melihatku yang sedang tersenyum di sampingmu tapi terbaring dengan tubuh yang kaku dan telah menjadi mayat." ucap Dimas dengan tawa pahit dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Siapa orang yang mengirimkan pembunuh bayarab itu?" tanya Arabella yang masih belum bisa menebak dalang dari semua yang terjadi.


"Coba kau tebak! Siapa kira-kira yang akan sangat diuntungkan saat aku meninggal?" tanya Dimas sambil tersenyum pahit menatap mata Arabella.


"Pamanmu dan keluarganya!" ucap Arabella secara spontan setelah berfikir beberapa saat lalu menatap Dimas yang langsung tersenyum mendengar jawabannya.


"Apakah aku benar?" tanya Arabella lagi dengan ekspresi wajah yang terkejut sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena tidak percaya dengan semua kenyataan yang diketahuinya.


"Benar sekali. Pamanku sangat berambisi memiliki Perusahaan Arthama Jaya Group. Dia ingin menjadi pemilik tunggal dari Perusahaan itu pdahal Perusahaan itu adalah milik adik kandungnya sendiri, ayahku, yang telah meninggal lima tahun lalu." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang sedih tapi tetap tersenyum.


Arabella yang mendengar perkataan Dimas semakin tidak mengerti tentang dunia orang kaya.


"Aku ingat orang tua Dimas meninggal karena kecelakaan saat melakukan perjalanan bisnis. Apakah itu juga ada hubungannya dengan Pamannya?" tanya Arabella dalam hati dengan tatapan mata prihatin dan pilu dengan nasib Dimas.


"Bukankah kau adalah keponakannya dan kalian itu bersaudara?" ucap Arabella yang terus mencoba menyangkal kenyataan yang ada.


"Tidak ada kata Saudara atau Keluarga dalam Bisnis dan Uang bagi orang-orang yang serakah!" ucap Dimas dengan ekspresi wajah terluka dan sedih sambil menatap deburan ombak yang menyapu pantai yang ada di depan matanya.


#Bersambung#

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..


Terima kasih


__ADS_2