
Direktur Tama merupakan Pimpinan Cabang Perusahaan Arthama Jaya adalah salah satu orang yang setuju untuk menjadi orang Pak Bambang.
Direktur Tama yang telah mengetahui rencana Pak Bambang untuk mengambil alih Perusahaan Arthama Jaya setelah kematian Dimas Arthama Jaya.
Sehingga saat Direktur Tama yang melihat kedatangan Edo ke Ruangannya langsung menjadi orang linglung dan bodoh karena tidak berpikir jika rencana Pak Bambang akan hancur.
Direktur Tama yang tidak ingin hancur pun langsung memberikan pelayanan terbaik kepada Edo dengan menyuguhkan makanan dan minuman terbaik yang ada di Kota A.
“Silahkan dimakan Pak Edo!” ucap Direktur Tama dengan senyum yang kaku dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir dengan keringat yang terus mengalir dengan sangat banyak ke dahi dan pipinya.
“Apakah ACnya mati?” tanya Edo yang tidak tergerak sama sekali dengan makanan dan minumam lezat yang ada di depannya kecuali Ketua Ma yang menatap dengan tatapan mata yang penasaran.
Direktur Tama yang tidak menyadari maksud dari Edo hanya membuat dirinya terlihat sangat bodoh dan memalukan di mata Edo.
__ADS_1
“Hmmm, AC nya menyala dengan sangat baik bahkan suhunya sudah paling dingin.” Ucap Direktur Tama dengan senyum lembut dengan nada suara yang santai.
“Benarkah? Lalu kenapa Direktur Tama berkeringat sangat banyak? Apakah anda tidak menyukai kedatanganku? Bukankah saya sudah menginformasikan kedatanganku?” tanya Edo dengan ekspresi wajah yang merendahkan dengan tatapan mata yang sinis dengan anda suara yang dingin.
Direktur Tama yang mendengar sindiran pedas dari Edo pun hanya bisa menelan salivanya dan menjawab Edo dengan kata-kata tidak jelas.
Di saat keadaan Direktur Tama semakin terpojokkan, Sekretarisnya datang menyampaikan sebuah berita yang membuat Direktur Tama bernafas lega.
“Pak Edo, Ruang Rapat sudah siap dan Pak Edo dan Pak Direktur dipersilahkan memasuki Ruang Rapat!” ucap Sekretaris tersebut dengan senyum lembut dan menggoda dengan pakaian yang seksi dan ketat dengan belahan dada yang menonjol terlihat dengan jelas.
Direktur Tama yang merasa sangat bingung dan cemas pun menanyakan semua pertanyaan yang selalu ingin ditanyakannya sejak awal tapi tidak memiliki kesempatan sama sekali.
“Apakah kau sudah menghubungi Pak Bambang? Apa katanya? Apa yang harus kita lakukan?” bisik Direktur Tama dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang khawatir.
__ADS_1
“Maafkan saya Bos! Saya tidak bisa menghubungi Pak Bambang.” Ucap Sekretarisnya dengan ekspresi wajah yang sedih sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Direktur Tama yang mendengar perkataan Sekretarisnya itupun menjadi semakin takut dan khawatir dan menyadari jika langkah kakinya menuju Ruang Rapat sudah sangat berat.
Sementara itu, Dimas yang sedang dalam perjalanan menuju ke Perusahaannya pun menghubungi Edo dan memberikan pesan yang sangat penting.
“Apakah kau sudah ada di Perusahaan A?” tanya Dimas dengan nada suara yang dingin dengan pandangan mata tajam ke depan.
“Ya, Tuan Muda! Saya sedang dalam perjalanan menuju ke Ruang Rapat!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius dengan nada suara yang meyakinkan.
“Bagus! Singkirkan semua orang-orang Pamanku di Perusahaan itu!” perintah Dimas dengan nada sura yang sangat tegas dengan ekspresi wajah yang serius.
“Jangan khawatir Tuan Muda. Saya dan Ketua Ma tidak akan melepaskan orang-orang itu dengan mudah!” ucap Edo yang mendengar perintah dari Dimas sambil tersenyum jahat sambil menatap tajam ke depan.
__ADS_1
Edo yang memasuki Ruang Rapat pun duduk di kursi tertinggi mewakili Dimas dengan Ketua Ma yang berdiri dengan ekspresi wajah yang kejam dibelakangnya membuat ruang rapat tersebut menjadi sangat seram dan mencekam.
#Bersambung#