CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 152. Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Keesokan paginya, Dimas yang telah bangun di pagi hari pun menaiki Pesawat dan duduk di kursinya dengan santai sambil membuka laptopnya.


“Tuan Muda, ini adalah menu sarapan anda!” ucap Edo yang berdiri di samping Dimas sambil mengantarkan segelas kopi hangat dan sepiring waffle dengan madu di atasnya.


“Terima kasih.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang ramah sambil menyingkirkan laptopnya dan meletakkan makanan dan minuman itu di depannya.


Di saat Dimas sedang meminum kopinya tiba-tiba Pesawat bergoyang yang akhirnya membuat kopi itu tumpah ke lantai.


“Ada apa ini?” tanya Dimas yang bingung dan terkejut di saat bersamaan dengan ekspresi wajah yang berubah biru.


“Tunggu! Kenapa aku merasa pernah mengalami ini?” tanya Dimas pada dirinya sendiri dalam hati dengan ekspresi wajah yang membiru.


Edo yang mendengar perkataan Dimas pun langsung merasakan ada yang tidak benar dan pergi menuju ke ruang Flight Deck lalu menemukan sesuatu hal yang mengejutkan.


“Ada apa ini? Pilot! Co-Pilot!” teriak Edo dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan serta dengan tatapan mata yang bingung.


Edo yang merasa jika Pesawat tersebut dalam keadaan yang tidak terkendali pun mencoba menghidupkan Pilot otomatis.

__ADS_1


“Tidak! Kenapa Pilot ini tidak memiliki perangkat untuk Pilot Otomatis?” tanya Edo dengan nada suara yang panik dan ekspresi wajah yang biru karena takut.


Dimas yang akhirnya sadar akan kejadian yang dialaminya saat ini pun langsung pergi menuju ke Edo yang ada di Flight Deck.


“Sial! Kenapa aku bisa lupa? Bukankah ini adalah hal yang pernah terjadi sebelum Reinkarnasiku?” teriak Dimas dengan suara yang sangat keras sambil berdiri dari kursinya dan berlari menuju ke arah Edo dengan tubuh yang bergoyang.


“Edo!” teriak Dimas dengan sangat keras setelah membuka pintu Flight Deck yang macet dengan paksa dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir.


“Tu-Tuan Muda... Pesawatnya...” ucap Edo yang berkata dengan terbata-bata dengan ekspresi wajah yang putus asa dengan tatapan mata yang menyerah.


Dimas yang melihat Edo yang tidak memiliki semangat untuk hidup lagi pun menggigit bibirnya dengan sangat erat dan mengutuk Heru dan Keluarganya.


“Kali ini! Aku... Aku akan mengubah masa depan dan membuat kalian semua membayar semuanya!” ucap Dimas dalam hati sambil menarik tangan Edo dan memegangnya dengan sangat erat.


Dimas yang tidak perduli dengan apapun akhirnya mengeluarkan Jam Arloji miliknya dari dalam kantong celana dan menekan tombol penghenti waktu lalu mengatur waktu satu hari sebelum keberangkatan.


Tepat sebelum Pesawat itu terjatuh dan masuk ke dalam Laut, Dimas dan Edo telah kembali ke waktu sebelum keduanya menaiki Pesawat.

__ADS_1


“Tu-tuan Muda!” teriak Edo dengan ekspresi wajah yang cemas dengan suara yang sangat keras sambil mengangkat tubuh Dimas yang telah kehilangan keseimbangannya.


“Edo! Dengarkan aku! Aku tau jika kau punya banyak sekali pertanyaan tapi aku akan menjawab semuanya setelah kita benar-benar bisa melewati bencana ini!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang kelelahan dengan suara yang rendah sambil menggenggam tangan Edo dalam posisi terduduk di lantai kantornya.


“Kau adalah orang yang sangat aku percaya. Semua yang pernah terjadi adalah nyata dan aku yakin kau tau yang harus kau lakukan. Aku sudah tidak memiliki kekuatan apapun lagi jadi aku serahkan semuanya padamu!” ucap Dimas sambil memegang bahu Edo dengan tatapan mata yang tajam sambil menggenggam jam arloji miliknya lalu tiba-tiba kehilangan kesadarannya.


Edo yang mendengar perkataan Dimas dan melihat kondisi Dimas saat ini pun langsung menghapus ekspresi wajah takut dan khawatirnya dengan pandangan yang tajam ke depan.


“Jangan khawatir Tuan Muda! Serahkan semuanya padaku! Aku akan menangani orang-orang yang telah berniat untuk mencelakai kita!” ucap Edo dengan pandangan mata lurus ke depan dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang terdengar penuh percaya diri.


Edo yang melihat Dimas tidak sadarkan diri pun mengangkat Dimas dan membaringkannya ke atas sofa dan menyimpan kembali Jam Arloji milik Dimas ke dalam kantong celananya.


Edo yang tidak ingin meninggalkan Dimas yang dalam kondisi yang tidak sadarkan diri sendirian pun menghubungi Ketua Ma.


“Segera ke kantor sekarang!” ucap Edo yang sedang berbicara dengan Ketua Ma dibalik telepon dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang tegas.


“Baik, Bos!” ucap Ketua Ma yang langsung berdiri di tempatnya dengan ekspresi wajah yang tegas lalu mematikan teleponnya.

__ADS_1


#Bersambung#


Apakah Edo akan berhasil melaksanakan tugas yang diberikan Dimas padanya? Jawab di kolom komentar ya..


__ADS_2