CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 85. Perlawanan Heru


__ADS_3

Pelayan yang mendapatkan tekanan batin dari Heru pun merasakan seluruh tubuhnya menjadi sangat lemas dan tidak berdaya.


"Sekarang katakan yang kau ketahui tentang Asisten Pribadiku!" ucap Heru dengan tekanan di setiap kata yang diucapkannya sambil berbicara di samping telinga Pelayan Muda itu.


"Sa-saya tidak tau apa yang se-sebenarnya terjadi Tuan Muda ta-tapi saya de-dengar Nyonya Besar sangat marah kepada Tuan Mike ja-jadi Tuan Mike pe-pergi dari Kediaman in7i membawa se-semua barang-barangnya." ucap Pelayan itu dengan terbata-bata dengan wajah yang takut dan keringat yang bercucuran membasahi seluruh tubuhnya dengan tubuh yang bergetar.


Heru yang mendengar apa yang dikatakan Pelayan itu langsung berdiri dan memecahkan vas bunga yang ada di dekatnya ke dinding.


"Syat!"


"Brak!"


"Prang!"


Wajah Pelayan itu pun menjadi semakin takut dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan sangat erat karena khawatir dirinya akan mengeluarkan teriakan yang akan menambah amarah Heru hingga tidak disadarinya air mata pun mengalir mengiringi keterkejutannya.


"Huu..huu..." suara rendah tangisan.


Heru yang masih menyadari jika Pelayan Muda itu masih ada disana segera memerintahkan Pelayan itu untuk segera pergi.


"Apa kau masih ada yang ingin dikatakan?" ucap Heru yang menggerakkan kepalanya melirik ke arah Pelayan Muda dengan nada sarkastik dan ekspresi wajah yang dingin.


"Ti-tidak ada, Tuan Muda!" ucap Pelayan Muda itu dengan terbata-bata dan buru-buru lalu dengan kecepatan yang tinggi bergerak lari dari kamar Heru dengan wajah pucat dan tubuh bergetar serta perasaan terguncang yang sangat dalam.


Heru yang tidak ingin menambah masalah di kemudian hari berteriak memanggil Kepala Pelayan.


"Kepala Pelayan!" teriak Heru satu kali dengan nada yang keras dan ekspresi wajah yang marah dengan mata melotot dengan dua tangan berada di dalam saku celananya.


"Apakah Tuan Muda memanggil saya?" tanya Kepala Pelayan dengan hormat sambil menundukkan kepala dengan satu tangan dilipat di dada.


"Kau tau Pelayan Muda yang membersihkan kamarku tadi bukan?" tanya Dimas dengan nada suara yang angkuh sambil melihat ke arah luar kamarnya dari balik pintu kaca yang besar dan lebar.


"Tentu saja Tuan Muda." ucap Kepala Pelayan dengan tegas dan suara rendah sambil melihat ke arah Heru berdiri.


"Kalau begitu kau urus anak itu, aku tidak ingin dia menjadi masalah untuk dikemudian hari!" perintah Heru dengan sorot mata yang marah dengan tangan terkepal erat menahan amarah.


"Akan segera saya laksanakan, Tuan Muda!" jawab Kepala Pelayan sambil mengganggukkan kepalanya dan melihat ke arah Heru kembali.


"Apakah ada yang Tuan Muda ingjnkan saat ini?" tanya Kepala pelayan sambil terus menahan diri untuk tetap patuh.


"Dimana ibuku?" tanya Heru yang berbalik menghadap Kepala Pelayan yang kemudian berbicara dengan nada yang keras dengan ekspresi wajah yang marah dengan dua tangan diletakkan di dalam saku celananya.

__ADS_1


"Nyonya ada di Ruang Pribadinya." jawab Kepala Pelayan dengan ekspresi cemas dengan keringat yang mengalir ke dahinya.


Heru yang mengetahui keberadaan Ibunya langsung berjalan keluar menuju ke tempat yang dikatakan Kepalan Pelayan.


"Tap! Tap! Tap!"


Sementara itu, Kepala Pelayan yang awalnya sangat cemas menjadi semakin cemas dan khawatir hingga dirinya menggunakan sapu tangan untuk mengelap tetesan-tetesan keringatnya yang berjatuhan sambil berjalan mengiringi kepergian Heru.


"Ibu, apa yang telah kau lakukan pada Asisten Pribadiku?" tanya Heru dengan nada tinggi dan ekspresi marah sebelum memasuki Ruang Pribadi Bu Selena dengan buru-buru.


"Aku tidak tau!" jawab Bu Selena dengan santai sambil duduk di sofa sambil menikmati minuman hangat ditangannya dengan ekspresi wajah yang datar dan nada bicara yang ketus.


"Ibu, jangan berbohong. Aku akan membawa Mike kembali!" ucap Heru yang marah dengan nada tinggi dan ekspresi wajah yang marah dengan alis yang naik ke atas.


"Kau tidak boleh membawanya kembali!" perintah Bu Selena yang marah yang langsung meletakkan minumannya dengan kasar dan berdiri menentang keinginan Heru.


"Ibu setuju atau tidak aku akan tetap membawa Asistenku kembali. Ibu tidak punya hak memecatnya karena yang berhak hanya aku." ucap Heru yang langsung berbalik dengan ekspresi wajah yang gelap.


"Kau tidak akan pernah membawanya kembali. Orang yang tidak berkompeten tidak pantas bekerja untuk Keluarga Arthama Jaya!" ucap Bu Selena dengan dua tangan bersilang di dadanya dengan sorot mata yang tajam.


"Hah, bukan ibu yang akan memutuskan hal itu! Jangan pernah menyentuh orangku lagi meskipun kau adalah ibuku, aku tidak akan berbaik hati karena aku bukanlah Heru yang dulu yang bisa kau kendalikan sesukamu!" ucap Heru sambil melirik ke belakang ke arah Bu Selena dengan sorot mata yang sangat tajam seperti pisau dan ekspresi wajah yang datar.


"Heru!"


"Heru!"


"Heru mau kemana kau?"


"Heru kembali kembari!"


Heru yang tidak diizinkan pergi segera dihalangi oleh beberapa orang penjaga tapi Heru yang sudah hafal dengan sifat Bu Selena yang suka memaksa dengan kekerasan pun menjentikkan jarinya lalu datanglah sekelompok orang yang melawan Penjaga milik Bu Selena.


"Tuan Muda, maafkan kami tapi anda tidak boleh pergi!" ucap salah seolah Penjaga.


"Siapa kau berani memerintahku? Aku adalah penerus dari Keluarga ini. Orang rendahan tidak pantas berbicara denganku!" ucap Heru yang kesal dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah merendahkan.


"Tak!" suara jentikan jari.


Pertarungan antara dua kelompok pun tak terhindarkan lagi, Heru yang tidak tertarik berada disana lebih lama lagi pun pergi begitu saja mengabaikan Bu Selena yang marah padanya.


"Brak!"

__ADS_1


"Brugh!"


"Agh!"


"Krak!"


Di tempat lain, Clara yang terbangun dari tidurnya terus memanggil nama Alea tapi tidak mendapatkan jawaban apapun sehingga membuat Clara menjadi sangat marah dan bergegas menuju kamar Alea tapi tidak tidak menemukan Alea dimanapun.


"Lea! Lea! Lea!" panggil Clara berulang kali sambil memegang kepalanya yang pusing karena baru bangun tidur dengan mata setengah terpejam dengan tubuh yang masih terbaring di tempat tidur.


"Kemana sih anak ini? Aku panggil tidak menyahut sama sekali!" guman Clara yang kesal dan terduduk dj tempat tidurnya sambil meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas tinggi-tinggi.


"Hoam!" Clara menguap.


"Aku akan pergi mencarinya dan menyirami wajahnya dengan air." ucap Clara dengan nada kesal sambil bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar Alea.


"Tap! Tap! Tap!" langkah kaki.


"Klak!" suara pintu terbuka.


"Lea! Apa kau tidak tau aku terus..." ucap Clara yang terputus dengan wajah terkejut saat berjalan masuk ke kamar Alea dan melihat tempat tidur Alea yang sudah rapi.


"Kemana perginya anak ini?" tanya Clara dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung sambil berjalan menyusuri dalam kamar Alea.


Namun, saat Clara yang terus berkeliling melihat setiap sudur kamar Alea ada seseorang datang dan menyampaikan kenyataan yang ternyata hal penting yang telah terjadi semalam.


"Nona! Kenapa anda disini?" tanya seorang Asisten Rumah Tangga dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Dimana Lea? Aku terus memanggilnya tapi dia tidak datang lalu saat aku datang ke kamarnya ini tapi dia tidak ada di kamarnya." tanya Clara yang bingung karena tidak menemukan keberadaan Alea dimanapun.


"Nona mungkin sudah lupa tapi bukankah Mbak Alea sudah Nona pecat?" ucap Asisten Rumah Tangga dengan nada polos dan ekspresi wajah yang datar.


Clara yang mendengar apa yang dikatakan Asisten Rumah Tangganya menjadi sangat terkejut dan dalam sekilas ingatan tentang kejadian yang terjadi semalam pun terlintas difikiran Clara yang akhirnya membuat Clara memasang wajah yang gelap dan frustasi disaat bersamaan.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2