
Setelah sekian jam berlalu, Clara yang awalnya santai dan sangat senang dengan detik-detik kehancuran Arabella mulai menjadi khawatir dan cemas semenjak tidak ada kabar dari keempat pereman yang dikirim olehnya.
“Kenapa mereka masih belum menghubungiku juga? Apakah terjadi sesuatu sehingga misinya gagal?” tanya Clara dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung, cemas dan khawatir di saat bersamaan sambil meliha ke arah layar teleponnya berulang kali.
Clara yang berniat menghubungi Pereman itu segera dihentikan oleh Asisten Rumah Tangganya sehingga membuat Clara menjadi semakin cemas.
“Srak! Srak! Srak!”
“Tut...Tut...!”
“Apakah Nona berencana menghubungi ke empat pereman itu?” tanya Asisten Rumah Tangga dengan ekspresi wajah penasaran sambil meliha ke arah Clara yang sedang memainkan handphonenya dengan sangat serius.
“Tentu saja. Mereka ini sungguh tidak kompeten dalam melakukan tugasnya. Aku sudah menunggu mereka sangat lama tapi tak mendapatkan laporan apapun.” Ucap Clara yang kesal sambil menatap Asisten Rumah Tangganya dan berhenti meliha layar handphonenya.
“Nona tidak boleh menghubungi mereka dengan Nona pribadi Nona. Nona tidak ingin mereka membocorkan identitas Nona, bukan?” tanya Asisten Rumah Tangga yang bersikap seolah orang yang sangat pintar.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku hanya perlu menunggu tapi sampai kapan? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Teriak Clara yang frustasi dengan keadaan dan situasi yang dialaminya saat ini.
“Nona bisa ke tempat mereka menodai Nona Arabella secara diam-diam Nona tidak perlu masuk ke dalam Town House itu, Nona hanya perlu melihat dari jauh.” Ucap Asisten Rumah Tangga yang memberikan saran kepada Clara dengan menggerak-gerakkan tangannya.
“Baiklah. Aku akan pergi sekarang dan tugasmu adalah menjaga rumah. Siapkan aku air hangat dan juga makanan yang lezat saat aku pulang nanti. Aku ingin meliha pertunjukan yang bagus dan menarik.” Ucap Clara dengan senyum senang sambil membayangkan semua yang terjadi pada Arabella sambil berjalan ke arah parkiran mobilnya.
Clara yang pergi menggunakan mobilnya hanya membutuhkan waktu 25 menit untuk sampai. Clara yang tidak ingin ketahuan pun memarkirkan mobil lima rumah dari Town House miliknya.
“Aku rasa disini cukup aman untuk menonton pertunjukan bagus.” Ucap Clara dalam mobil yang mesinnya telah dimatikan dengan sorot mata menatap ke depan dengan sangat fokus.
Tak lama setelah kedatangan Clara di arah sebaliknya, Clara melihat mobil yang sangat besar berhenti tidak jauh dari Town House miliknya lalu tak lama kemudian sekelompok orang keluar tergesa-gesa dengan ekspresi
__ADS_1
wajah yang datar dan pakai serba hitam dengan membawa beberapa senjata mengelilingi Town Housenya.
Clara yang merasakan firasat yang buruk mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan apa yang telah terjadi dengan ekspresi wajah yang bingung dan kesal di saat bersamaan.
“Apa ini? Siapa mereka? Mengapa mereka datang banyak sekali? Apa mereka datang untuk menolong dan menyelamatkan Arabella? Tidak bisa jika terus begini maka rencanaku akan gagal.” Ucap Clara yang kesal dengan ekspresi wajah yang marah sambil memukul setir mobilnya berulang-ulang kali.
“Bugh! Bugh! Bugh!”
Clara yang tak lama kemudian sebuah mobil mewah yang sangat dikenalinya menjadi yakin siapa orang-orang yang datang dalam jumlah besar dengan pakaian serba hitam itu.
“I-itu... Bukankah itu Edo... Lalu itu... DIMAS!” Teriak Clara dengan menutup mulut takut ada orang yang mendengarnya bicara dengan ekspresi wajah yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Mengapa Dimas datang kemari? Bagaimana bisa dia datang kemari secepat ini? Jika dia datang sekarang maka rencanaku yang ingin Arabella kehilangan kesuciannya pasti akan gagal.” Ucap Clara yang kesal dengan kepalan
tangan yang erat dan sorot mata yang tajam seolah siap menelan mangsanya hidup-hidup.
“Deg! Deg! Deg!”
Clara yang sudah sangat yakin jika rencananya sudah pasti gagal hanya berharap jika dirinya tidak ketahuan Dimas sebagai dalang dari rencana ini semua.
“Aku harus segera memblokir nomor penculik itu dan mematahkan nomor handphone ini. Aku tidak boleh meninggalkan jejak bukti yang dapat membuat Dimas mengetahui bahwa aku adalah pelakunya.” Ucap Clara dengan suara rendah dan ekspresi gugup yang langsung bergerak mengambil handphone kecilnya dan mengeluarkan sim cardnya lalu mematahkannya.
Clara yang meliha Dimas berhasil mengeluarkann Arabella dan menggendongnya seperti seorang putri lalu membawanya pergi sendiri memberikan rasa cemburu dan kebencian di dalam hati Clara semakin besar.
“Aku tidak terima kenapa dia selalu beruntung dan berhasil lolos dari semua rencanaku. Aku tidak ingin dia bahagia yang seharusnya bahagia itu aku. Hanya aku.” Ucap Clara dengan ekspresi wajah yang marah dengan mata yang terbuka lebar dengan tangan yang terus memukul kemudi setir.
Clara yang merasa tidak ada gunanya dirinya tetap berada di tempatnya pun berencana untuk segera pergi namun berhenti di tempat saat beberapa mobil polisi datang dan membawa keempat pereman itu pergi.
__ADS_1
“Po-polisi!” ucap Clara dengan terbata-bata dengan mata dan mulut yang terbuka lebar karena perasaan terkejut saat meliha kedatangan beberapa mobil polisi.
“Bagaimana jika polisi menemukan bukti tentang persekongkolanku? Bagaimana jika pereman itu mengatakan jika akulah orang yang membayar mereka? Aku pasti akan membusuk di penjara!” gumam Clara berulang-ulang kali dengan ekspresi wajah yang gelap dan takut dengan dua tangan yang bergetar kedinginan.
Clara yang akhirnya menyadari betapa pentingnya Alea dalam hidupnya akhirnya merasa menyesal karena telah memecat Alea dan membiarkannya pergi.
“Aku tidak seharusnya memecat Alea ataupun membiarkannya pergi. Aku membutuhkan idenya untuk lepas dari masalah ini.” Ucap Clara dengan ******* dan nada yang frustasi dengan mata yang telah berair seolah siap mengeluarkan air mata.
Clara yang merasa sangat linglung dan lemas tidak bisa memikirkan apapun lagi bahkan Clara tidak memiliki tenaga untuk mengendarai mobilnya kembali ke Apartemennya sehingga Clara memilih untuk tetap di tempatnya hingga kondisinya kembali normal atau lebih baik.
“Tangan dan kaki sangat lemas. Aku tidak bisa bergerak atau melakukan apapun sekarang. Sepertinya aku akan tetap disini sampai kondisi membaik.” Gumam Clara yang terkulai lemas dengan kepala yang bersandar di setir mobil dengan mata yang terpejam.
“Apa hidupku akan berakhir disini? Aku tidak mau hidup susah atau menderita. Aku harus mencari cara untuk lolos dari masalah ini.” Ucap Clara dalam hati sambil membuka matanya perlahan dengan tatapan mata yang kosong.
Sepintas fikiran Clara untuk menjadi wanita dari Sutradara yang menyukainya yang akhirnya langsung dipatahkan sendiri oleh Clara sendiri.
“Apa aku menjadi wanita Sutradara saja? Dia kaya dan punya banyak koneksi. Aku pasti bisa bertahan di dunia hiburan dan aku juga pasti dapat hidup nyaman jika bersamanya... tapi dia bukan tipeku...” ucap Clara yang bersemangat di awak dan langsung menurun di akhir dengan ekspresi wajah yang sedih.
“Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak akan menjual diriku pada Tua Bangka itu, aku tidak mau jika harus bersikap manja kepada Pria yang umurnya jauh di atasku dan terlebih dia bukanlah tipeku.” Ucap Clara dengan suara rendah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berulang-ulang kali.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
🥰😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1