
“Salahmu adalah karena kau telah membuat mantan kekasihmu menjadikanku musuhnya.” Ucap Arabella dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang datar serta tatapan mata yang sinis dengan dua tangan bersilang di dada.
“Itu bukan salahku. Salahkan dirinya sendiri yang memiliki hati yang busuk.” Ucap Dimas yang tidak ingin disalahkan sambil berjalan menghampiri Arabella lalu tersenyum dengan penuh misterius.
"Hmmm, seperti yang dikatakan orang banyak wajah yang tampan bisa saja menjadi bencana yang menghancurkan kota!" ucap Arabella dalam hati dengan wajah kesal sambil menatap tajam ke arah Dimas yang ada di depannya.
Setelah sarapan pagi, Dimas dan Arabella pun kembali ke Kediaman Arthama Jaya. Arabella yang sangat mengkhawatirkan kondisi Ria pun berencana segera pergi melihat kondisi Ria.
"Semoga saja Ria baik-baik saja. Aku merasa sangat bersalah karena dirinya harus berkorban untukku yang pada akhirnya aku tetap tertangkap." ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih dan mata yang senduh.
Dimas yang melihat Arabella yang murung dan sedih segera mengerti apa yang ada difikirannya.
“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.
“Apa kau akan segera pergi menemui Pelayanmu?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang datar dan tanpa ekspresi sambil melirik ke arah Arabella yang berjalan di sampingnya.
“Tentu saja. Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia pasti terluka parah karena berusaha melindungiku.” Ucap Arabella dengan penuh semangat dan berapi-api sambil meliha ke arah Dimas dengan ekspresi wajah yang
cemas dan khawatir.
"Aku harap dia baik-baik saja." ucap Arabella lagi dengan nada rendah dan ekspresi wajah yang sedih.
“Jangan khawatir. Dia baik-baik saja. Dokter sudah memeriksa dan mengobatinya." ucap Dimas mencoba menenangkan Arabella sambil mengelus-elus rambut Arabella dengan lembut dengan senyum penuh perhantian.
"Baiklah. Sepertinya aku harus memberikan bonus lebih dan bonus khusus untuk Pelayan Pribadimu itu karena telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.” Ucap Dimas dengan senyum lembut dan penuh perhatian kepada Arabella dengan nada suara yang rendah.
"Tentu saja. Dia pantas mendapatkannya." jawab Arabella dengan senyum lebar dengan ekspresi bahagia sambil terus berjalan.
Dimas yang tau jika dirinya masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terutama masalah Bodyguard dan Penculik Arabella.
“Aku tidak bisa mengantarmu kesana tapi Pak Antoni yang akan membawamu menemui Pelayanmu karena aku punya urusan lain sekarang.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bersalah dan tatapan mata yang senduh dan kecewa dengan senyum yang dipaksa.
“Tidak masalah. Pak Antoni sudah cukup untuk mengantarku. Kau pasti sangat sibuk dan aku tidak akan menahanmu.” Ucap Arabella mencoba mengerti dengan senyum lembut dan tatapan mata yang penuh perasaan senang sambil berjalan di belakang Pak Antoni.
Setelah kepergian Arabella, Dimas pun pergi ke ruang bawah tanah dimana Edo telah berada di tempat itu lebih dulu bersama dua orang Bodyguard.
“Tap! Tap! Tap!”
“Srak!”
“Brak!”
Edo yang telah berada di dalam Ruang Bawah Tanah telah membuat dua orang Bodyguard itu pingsan dan saat Dimas datang Edo pun segera memberi jalan.
“Tuan Muda.” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang datar dan penuh hormat sambil mempesilahkan Dimas berjalan menemui dua orang Bodyguard yang telah lalai dalam menjaga dan melindungi Arabella.
__ADS_1
“Siram wajahnya!” ucap Dimas saat melihat Bodyguard itu terduduk pingsang dengan tubuh terikat di atas sebuah kursi dengan nada yang tinggi dan penuh penekanan di setiap katanya dan ekspresi wajah yang marah.
Kedua Bodyguard yang awalnya tidak sadarkan diri segera terbangun saat dirinya dihujani dengan air es yang sangat dingin hingga membuat keduanya mengigil kedinginan sambil terus memohon pengampunan dari Dimas.
“Byur!” suara air.
“Tu-Tuan Muda. Saya mohon ampuni saya Tuan Muda!”
“Tuan Muda saya rela menerima hukuman apapun tapi saya mohon Tuan Muda ampuni nyawa kami.”
“Tuan Muda ampuni kami!”
“Tuan Muda! Tuan Muda! Tuan Muda!”
Dimas yang tidak akan pernah bisa memaafkan siapapun yang berani menyakiti atau menyentuh Arabella pun mengambil sebuah cambuk yang ada di dekatnya lalu mencambuk tubuh keduanya dengan sangat keras.
“Plak! Plak! Plak!” tebasan
cambuk.
kesakitan.
“Kalian masih berani meminta pengampuna setelah mencoba melukai wanitaku. Jangan kalian fikir masalah ini akan selesai dengan permintaan maaf dan nyawa kecil kalian tidak sebanding dengan nyawa Arabellaku.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang marah sambil memegang cambuk dengan tangan kanannya lalu mencambuk tubuh kedua Bodyguard itu lagi dan lagi.
“Plak! Plak! Plak!” tebasan
cambuk.
kesakitan.
Kedua Bodyguard yang telah dicambuk puluhan kali oleh Dimas akhirnya tumbang juga sehingga Dimas memilih berhenti mencambuki keduanya.
“Brak!” melemparkan cambuk.
Dimas yang tidak ingin melihat wajah kedua Bodyguard itu pun memilih untuk segera keluar dari dalam ruang bawah tanah dan tak lupa memberikan perintah lainnya kepada Edo yang masih berdiri tidak jauh darinya.
“Habisi dia dan berikan tubuhnya pada singa!” ucap Dimas yang berhenti berjalan lalu melirik ke belakang ke arah Edo dengan ekspresi wajah yang serius.
“Tuan Muda akan mendengar kabarnya besok pagi.” Ucap Edo dengan ekspresi wajah yang datar lalu menundukkan kepala sedikit setelah kepergian Dimas.
Edo yang tidak suka mengotori tangan pakaiannya dengan darah pun memerintahkan seorang eksekutor yang telah bekerja di Kediaman Arthama Jaya sejak lama untuk melaksanakan tugas yang diberikan Dimas padanya.
Edo yang masih berada di Ruang Bawah Tanah berdiri dengan tegap dan pandangan lurus ke depan melihat eksekusi Kedua Bodyguard dengan mata kepalanya sendiri agar tidak terjadi kesalahan apapun.
Eksekutor yang telah siap pun mengambil sebuah pedang yang sangat tajam dan panjang di dalam sebuah kotak penyimpanan senjata lalu dalam waktu singkat kedua Bodyguard itu pun telah kehilangan kepalanya dalam sekali tebasan.
__ADS_1
“Srak!”
“Sruk!”
“Kling!”
“Hi...ya...” teriak Eksekutor dengan ekspresi wajah yang datar dan ekspresi lalu menebas kepala kedua Bodyguard bergantian hingga akhirnya dalam waktu kurang lima menit kepala keduanya pun telah berpisah dengan tubuhnya dengan ekspresi terkejut dan takut.
Edo yang menyaksikan kematian orang yang tid kompeten dalam melaksanakan tugasnya tidak memiliku perasaan iba sama sekali dan seolah telah mati rasa Edo pun membawa mayat dua orang Bodyguard itu keluar.
Edo yang tak lupa dengan perintah Dimas pun mebawa kepala keduanya dan melemparkan kepala dan tubuh kedua Bodyguard itu ke dalam kawanan Singa hingga tidak ada satu pun bagian tubuh yang tersisa kecuali pakaian terakhir yang dipakai keduanya.
“Sepertinya kawanan singa ini sangatlah bahagia karena berhasil makan daging manusia segar.” Ucap Edo dengan ekspresi yang datar dan senyum simpul dengan dua tangan diletakkan di dalam saku celananya.
Edo pun kembali ke Kediaman Arthama Jaya setelah menyelesaikan tugas yang diberikan Dimas padanya lalu pergi menemui Dimas untuk melapor.
"Saatnya aku kembali dan melapor." gumam Edo dengan suara rendah sambil berbalik arah dan berjalan menuju mobilnya dan kembali ke Kediaman Arthama Jaya.
"Srak!"
“Tok! Tok! Tok!”
“Tuan Muda, apa saya boleh masuk?” tanya Edo dengan senyum cerah sambil melihat ke arah pintu yang masih tertutup rapat.
“Masuklah! Perintah Dimas dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi dengan salah satu tangan memegang pena dan beberapa berkas yang ada di depannya.
Edo pun bergegas masuk dan memberikan dua laporan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Dimas dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum tulus.
“Tuan Muda, Kedua Bodyguard telah mendapatkan hukuman berdasarkan perintah Tuan Muda dan keempat pereman yang telah menculik Nona Arabella dan setelah diselidiki ternyata penculikan Nona Arabella atas perintah Nona Clara.” Ucap Edo dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Dimas yang melihat hasil laporan itu merasa kurang puas sehigga Dimas pun memerintahkan Edo untuk membuat keluarga mereka untuk hidup menderita terutama keempat pereman itu.
“Aku ingin kau membuat mereka menyesal telah menyentuh wanitaku. Jangan biarkan keluarga mereka bebas dan tidak mendapatkan hukuman dari kesalahan mereka.” Ancam Dimas dengan ekspresi wajah yang marah dengan dua tangan yang diletakkan di dalam saku celananya sambil bediri melihat ke arah luar.
“Akan saya laksanakan, Tuan Muda!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang patuh lalu beranjak pergi
menyelesaikan tugas baru dari Dimas.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
🥰😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1