CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 132. Kepercayaan


__ADS_3

Dimas yang telah memerintahkan Edo untuk kembali ke Perusahaan dan mengurus semua jadwalnya yang telah tertunda serta mengirim semua berkas yang perlu dibaca oleh Dimas melalui email.


Dimas yang merasa sangat lelah pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat tapi tidak disangka ternyata Arabella masih menunggu di dalam bahkan kamar itu telah berubah menjadi sangat rapi dengan makanan serta buah-buahan yang tersedia di atas meja.


"Bel!" panggil Dimas dengan nada bicara yang sedikit tinggi karena terkejut dengan mata yang terbuka lebar saat melihat keberadaan Arabella di dalam kamarnya.


"Apakah pembicaraan kalian telah selesai? Kemarilah! Kau belum makan apapun karena itu aku meminta pelayan membuatkanmu makananmu. Aku juga sudah mengupas apel untukmu. Ayo coba makanlah." ucap Arabella dengan senyum ramah dan ceria sambil menatap Dimas dengan tatapan penuh kasih sayang.


Dimas yang terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Arabella secara mendadak tidak bisa bereaksi dengan cepat sehingga membuat Dimas termenung di tempatnya tanpa berkedip dan bergerak.


"Apakah ini Arabella atau wanita yang mirip dengannya?" tanya Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.


Arabella yang melihat Dimas tidak bergerak sama sekali pun bangun dari tempat tidurnya dan menarik Dimas duduk di sampingnya.


"Apa yang kau fikirkan? Ayo kemari! Aku akan menyuapimu." ucap Arabella dengan tawa yang ceria dan bahagia sambil menarik tangan Dimas.


"Ayo, buka mulut mu!" ucap Arabella sambil menyuapi makanan ke mulut Dimas.


"A-aku bisa makan sendiri."ujar Dimas yang mencoba menolak niat baik Arabella secara halus.


"Tidak bisa! Aku telah menyiapkan semuanya dan aku juga yang akan menyuapimu jadi kau harus diam dan menurut jika tidak maka aku tidak mau bicara denganmu selama satu bulan!" ancam Arabella dengan ekspresi wajah yang serius sambil terus menyodorkan sendok makanan ke dalam mulut Dimas.


"Hah! Baik di kehidupan ini maupun kehidupan yang lalu. Aku akan selalu mengalah dan bersedia melakukan apapun asalkan kau bahagia." gumam Dimas dengan suara yang sangat rendah sambil membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu perlahan.


Dimas yang melihat perhatian Arabella padanya merasa sangat senang dan bersyukur.


"Inikah yang dinamakan kebahagian dibalik kesusahan?" ucap Dimas dalam hati dengan senyum bahagia sambil terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.

__ADS_1


Dimas yang telah menghabiskan yang ada di piringnya pun membuka handphonenya sambil melihat kembali berkas yang dikirim Edo padanya.


"Ternyata banyak sekali pekerjaan tertunda saat aku tidak sadarkan diri selama tiga hari." ucap Dimas sambil menghela nafas panjang dan mulai membaca file tersebut satu per satu.


"Sepertinya aku akan kerja lembur beberapa hari ke depan." ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi.


Dimas yang teringat akan perkataan Edo tadi pun berfikir untuk menceritakan semuanya pada Arabella atau tidak.


"Aku ingat! Aku telah menyetujui janji untuk bertemu Clara dan Ibunya lusa dan besok aku bahkan harus kembali untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Apakah aku harus menceritakannya?" tanya Dimas dalam hati sambil melihat Arabella yang masih mengupas apel untuknya dengan wajah yang gembira sambil mendengarkan musik kesukaanya yang keluar dari layar handphonenya.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung sambil memakan apel yang telah dikupasnya dari ujung pisaunya.


"Apa kau tidak penasaran dengan apa yang disampaikan Edo padaku?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah penasaran sambil memperhatikan gerak-gerik Arabella sebelum menjawab pertanyaannya.


"Aku penasaran tapi aku tidak akan bertanya karena aku yakin jika kau mau kau pasti akan menceritakannya padaku. Itu adalah privasimu dan aku menghargai privasimu." ucap Arabella dengan jawaban yang bijak dengan ekspresi wajah yang polos sambil memakan es yang ada di atas es coklatnya dengan sedotan.


"Aku percaya padamu. Kau pasti tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku kecewa atau pun menangis karena kau sangat mencintaiku." ucap Arabella lagi dengan senyum lembut kepada Dimas yang termenung duduk di depannya.


"Betul sekali!" ucap Arabella dengan tawa bahagia sambil menjentikka jarinya.


Dimas yang mendengar jawaban bijak dari Arabella pun semakin yakin dengan keputusannya.


"Aku tidak ingin mengecewakan kepercayaannya dan membuatnya menjadi salah paham nantinya. Meskipun aku bisa mengubah keadaan nantinya tapi akan ada harga yang harus dibayar untuk perubahan yang telah dilakukan" ucap Dimas dalam hati setelah membulatkan tekadnya.


"Edo datang memberitauku tentang Clara!" ucap Dimas dengan santai sambil melihat sikap Arabella yang langsung berhenti mengupas apel dan menatap tajam ke arah Dimas.


"Clara mengalami kehancuran karir. Dia dipecat dari Agensinya dan semua orang menghinanya dengan kata-kata yang sangat kasar. Tidak hanya itu, Perusahaan milik Keluarganya juga mengalami krisis keuangan dan meminta untuk bertemu." ucap Dimas yang terhenti tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi sambil terus menatap wajah Arabella yang masih mengupas buah.

__ADS_1


"Lalu! Apakah kau setuju dengan permintaannya?" tanya Arabella yang berpura-pura cuek dan tidak perduli sambil mengupas buah dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ya! Pertemuan itu di Perusahaanku, esok lusa pukul 8 pagi." jelas Dimas dengan jujur dengan nada bicara yang datar.


Arabella yang mendengar perkataan Dimas tiba-tiba merasa ada perasaan tidak senang dan khawatir di dalam hatinya saat tau Dimas akan bertemu dengan mantan kekasihnya.


"Apakah aku cemburu? Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta pada Dimas? Apakah aku telah benar-benar menyerahkan hatiku padanya?" tanya Arabella dalam hati sambil duduk termenung sebentar dan menghentikan semua pekerjaannya dengan ekspresi wajah yang telah berubah tidak menentu.


Arabella yang masih belum menyadari jelas perasaannya pada Dimas tidak tau harus melakukan apa dengan situasi yang dialaminya saat ini.


Arabella yang tidak siap mendengar kelanjutan cerita Dimas memilih pergi dan meninggalkan semua yang dilakukannya sejak tadi.


Namun, Dimas yang mengetahui Arabella ingin melarikan diri dan berakhir dengan salah paham lalu menjauhinya pun berdiri lalu menarik tangan Arabella menuju ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat.


Arabella yang tidak bersedia dipeluk oleh Dimas pun menjadi marah dan mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Semua perasaan itu telah lama hilang. Sekarang hatiku dan diriku telah menjadi milikmu sepenuhnya." ucap Dimas dengan suara yang rendah di balik telinga Arabella dengan pelukan yang sangat erat karena tidak ingin Arabella terlepas dari pelukannya.


"Aku menceritakan semuanya padamu karena aku ingin kau percaya bahwa aku benar-benar tidak memilki perasaan apapun padanya meskipun kita bertatap muka. Aku ingin kau percaya bahwa aku hanya mencintaimu dan selalu mencintaimu." ucap Dimas yang mengutarakan isi hatinya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang hingga akhirnya Arabella pun berhenti melawan.


Dimas yang sadar jika Arabella telah menjadi tenang pun melepaskan pelukannya.


"Aku ingin mengajakmu kembali besok pagi dan menemui Clara keesokan harinya. Bagaimana? Apakah kau mau ikut denganku?" tanya Dimas sambil memegang lengan tangan Arabella dengan suara yang lembut dan tatapan mata yang penuh dengan tatapan penuh kasih.


Arabella yang merasa sangat malu dengan pernyataan cinta dari Dimas yang mendadak pun menepis dengan lembut tangan Dimas lalu berlari menuju pintu keluar.


"Aku akan ikut denganmu untuk menghalangi wanita ular itu menggodamu!" teriak Arabella dengan suara keras dengan tawa jahil sambil memutar tubuhnya kebelakang dan berjalan mundur menuju keluar kamar Dimas.

__ADS_1


Dimas yang melihat perubahan sikap Arabella pun hanya tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepala.


#Bersambung#


__ADS_2