CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 128. Memata-matai


__ADS_3

Asisten Pribadi yang melihat ekspresi wajah wanita paruh baya yang sedang duduk di depannya serta beberapa masalah yang datang tanpa henti membuat Asisten Pribadi Ayah Clara merasa kesulitan mengatakan kebenarannya.


"Hmmm, Total kerugian yang dialami Perusahaan diperkirakan mencapai 300 miliar dollar. Itu pun belum termasuk biaya operasional dan lain-lain selama pengiriman barang. Jika dihitung seluruhnya maka keruagian yang dialami Perusahaan sebesar 500 miliar dollar." ucap Asisten Pribadi dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan lurus ke depan.


"Lalu untuk uang ganti rugi yang harus kita berikan kepada Perusahaan lain sebagai pelanggaran kerjasama jumlahnya pun tidak sedikit yaitu dua kali lipat dari jumlah kerugian yang diterima Perusahaan." sambung Asisten Pribadi sambil menggelengkan kepala dan memijat tengkuk lehernya yang terasa sakit.


"A-apa kau yakin akan jumlahnya?" tanya Ibu Clara dengan ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya sambil melihat ekspresi wajah dua orang kepercayaan suaminya yang sedang duduk di depannya.


Ibu Clara yang mendengar semua penjelasan dan masalah yang dihadapi merasa jika masalah yang dihadapi saat ini sangatlah berat.


Ibu Clara yang tidak ingin terlihat lemah dihadapan dua bawahannya pun mempersilahkan keduanya kembali ke Perusahaan sementara dirinya tetap di Ruangan Rumah Sakit menemani suaminya yang masih terbaring tanpa ada tanda akan sadar.


"Maaf Nyonya, kami datang kemari hanya ingin melaporkan situasi darurat yang terjadi di Perusahaan dan karena anda adalah Istri dari Pak Suseno maka kami hanya bisa melaporkannya pada anda." ucap Asisten Pribadi dengan wajah yang sangat tidak nyaman dengan suasana yng berubah menjadi canggung.


"Baiklah, aku mengerti. Kalian boleh kembali, aku akan memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini. Semoga Perusahaan masih dapat diselamatka." ucap Ibu Clara dengan ekspresi wajah yang tertekan dan nada bicara yang tidak bersemangat.


Ibu Clara yang ditinggal sendiri pun duduk di sofa di sudut ruangan sambil melihat suaminya yang sedang terbaring di ranjang Rumah Sakit dan menonton berita kasus Skandal putrinya di televisi.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak boleh menyerah demi dua orang yan sedang sangat membutuhkan bantuanku." ucap Ibu Clara dengan suara lirih dengan tatapan mata yang senduh yang siap menangis kapanpun.


"Uang yang begitu banyaknya harus dikeluarkan dalam keadaan seperti ini, bukankah itu sama saja dengan membuat Perusahaan menjadi bangkrut." ucap Ibu Clara dalam hati dengan mata terpejam sambil memikirkan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.

__ADS_1


"Saat ini keuangan Perusahaan sedang dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan bahkan Perusahaan kesulitan membayar gaji karyawan dengan jumlah uang yang ada saat ini. Jika aku menjual semua aset yang kami miliki untuk menutupi kerugian dan membayar rugi, berapa lama Perusahaan akan bertahan? Cepat atau lambat semua uang yang ada akan habis dan Perusahaan akan kembali dalam kondisi seperti ini jika tidak ada seorangpun yang mau menyuntikkan dana ke perusahaan." gumam Ibu Clara sambil bersandar di sofa dengan kepala yang terasa sangat berat karena dipaksa untuk berfikir.


Ibu Clara yang tidak dapat berfikir untuk menemukan solusi dari masalah yang ada mencoba menghubungi Clara kembali karena perasaan seorang Ibu yang mencemaskan nasib anaknya.


Clara yang sedang dalam kondisi sangat hancur pun terbaring di lantai tempatnya berada tidak ingin diganggu siapapun dan saat handphonenya berbunyi Clara memilih mengabaikannya tapi handphone itu tidak ada tanda-tanda berhenti berdering hingga akhirnya Clara pun bangun dan mengambil handphone itu dan mengangkatnya.


"Apa kau masih belum puas dengan semua omong kosongmu itu?" teriak Clara dengan nada yang sangat tinggi dan kasar tanpa melihat kembali nama orang yang menelponnya.


Ibu Clara yang mendengar teriakan dari putrinya merasa sedikit terkejut tapi tidak bisa marah karena Ibu Clara sadar jika saat ini Clara sedang dalam kondisi yang tidak stabil karena masalah yang dihadapinya.


"Clara!" panggil Ibu Clara dengan nada rendah dan lembut dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kerinduan dan kecemasan.


"I-ibu!" panggil Clara saat mendengar suara Ibunya lalu menjauhkan handphonenya untuk membaca nama orang yang menghubunginya.


"Anak cantik tidak boleg menangis nanti cantiknya hilang. Jangan khawatir semua akan baik-baik saja." ucap Ibu Clara dengan lembut dan penuh perhatian mencoba menenangkan Clara yang menangis.


"Baik-baik saja bagaimana? Semuanya telah hancur, karirku sudah tamat dan reputasiku telah hancur." keluh Clara dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti dengan ekspresi wajah yang sangat pilu.


"Bukankah kau masih ada ayah dan ibu? Meskipun tidak menjadi model atau artis. Kau masih bisa memilih pekerjaan lain. Jangan putus asa, putriku." ucap Ibu Clara mencoba menenangkan Clara tapi Clara yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Ibunya menjadi marah dan langsung mematikan teleponnya serta handphonenya.


"Ibu jahat! Dia tidak hanya tidak membantuku dalam masalah ini tapi malah memintaku berhenti menjadi Model dan Artis." ucap Clara yang langsung berdiri dan berteriak dengan nada kasar.

__ADS_1


"Ini adalah duniaku dan aku tidak akan berhenti dari dunia hiburan. Aku pasti bisa melewati ini dan bersinar kembali dengan kepala terangkat ke atas dengan anggun dan rasa hormat." ucap Clara dengan penuh percaya diri dan semangat yang kembali berapi-api.


Sementara itu, Arabella yang terus bersama Dimas dan menemani Dimas serta membantunya di saat dirinya tak sadarkan diri merasakan perasaan sedih dan cemas.


"Cepatlah sadar. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak akan menyalahkanmu untuk semu yang telah kau lakukan pada Clara. Saat ini aku menyadari bahwa jika bukan Clara maka aku lah yang akan ada di situasi itu." bisik Arabella di balik telinga Dimas sambil terus memegang tangan Dimas.


Edo yang mengintip dari balik pintu pun diam-diam memotret Arabella yang terus merawat Dimas dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan senyum misterius.


"Kali ini aku pasti akan mendapatkan bonus yang banyak jika Tuan Muda melihat hasil fotoku ini. Hehehe" ucap Edo dengan senyum misterius sambil terus memfoto Arabella dan Dimas secara diam-diam tanpa flash dan suara.


Edo yang telah mendapatkan banyak foto dengan beberapa sudut yang menurutnya akan disukai Dimas pun perlahan pergi dan kembali ke ruangannya lalu mengedit dan mencuci foto itu sendiri.


"Ini sudah cukup banyak dan dalam berbagai pose serta gaya. Tuan Muda pasti akan sangat senang dan bonusku pun akan bertambah dengan mudahnya." ucap Edo dalam hati sambil berjalan dengan gembira menuju kamarnya sambil memeluk kamera di dalam pelukannya.


Edo yang sedang asik dengan pekerjaannya yang menghasilkan banyak uang pun mendapatkan kabar gembira dan membuat Edo semakin bersemangat.


"Bos, tugas yang anda perintahkan sudah dilaksanakan dengan sangat baik. Nona Clara tidak hanya menderita karena kasus Asusila yang dilakukannya di Hotel Heaven Royal diketahui publik, saat ini Nona Clara juga telah dipecat oleh Agensinya." ucap Komandan dari Badan Inteligent Khusus yang dimiliki Dimas dengan ekspresi wajah yang serius.


"Bagus sekali, terus pantau apa lagi yang terjadi pada Clara dan jangan lewatkan informasi sekecil apapun." ucap Edo dengan ekspresi sambil tertawa senang saat musuhnya menghadapi masalah yang sangat berat.


#Bersambung#

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..


Terima kasih


__ADS_2