CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 96. Ketahuan


__ADS_3

Pak Antoni yang terus mengikuti dan bersembunyi dibelakang Pelayan yang menurutnya sangat mencurigakan akhirnya membuktikan kecurigaannya segera mengambil handphone Pelayan itu sebelum Pelayan tersebut menyebarkan informasi tentang Arabella.


“Syuh!” suara angin saat Pak Antoni mengambil handphone Pelayan.


“Tak!” suara telepon dimatikan.


“Plak!” suara tamparan wajah.


“Argh!” teriakan kesakitan Pelayan


“Dasar Pelayan rendahan beraninya kau memberikan informasi Tuanmu kepada musuhmu!” teriak Pak Antoni yang marah dengan mata yang melotot berwarna merah sambil memegang Handphone Pelayan dengan sangat erat.


Pelayan yang menyadari jika dirinya telah ketahuan berencana untuk kabur tapi langsung tertangkap oleh Bodyguard yang telah bersembunyi.


“Aku harus pergi dari sini!” teriak Pelayan itu dalam hati sambil berdiri dan berbalik arah menuju pintu keluar.


“Tak! Tak!”


“Arrgghh!”


“Plak!” tamparan di pipi sebelahnya.


“Beraninya kau ingin kabur! Bawa dia ke ruang bawah tanah!” perintah Pak Antoni kepada Bodyguard yang sedang memegang Pelayan itu.


Pak Antoni yang merasa malu karena telah dua kali membiarkan pelayan yang tidak loyal menjadi mata-mata dan akhirnya membahayakan Arabella dan Dimas segera menghubungi Dimas tapi sebelum itu Pak Antoni memerinthkan Pelayan lain yang melihat Lia ditangkap dan diseret dengan paksa untuk diam dan pura-pura tidak melihat apapun.


“Nona Arabella pasti sedang dalam bahaya sekarang! Aku harus segera melaporkan hal ini kepada Tuan Muda!” ucap Pak Antoni sambil melihat handphone yang ada di tangannya setelah melihat pesan-pesan yang dikirim Pelayan itu kepada Clara, Mantan Kekasih Dimas.


“Tapi sebelum itu aku harus membereskan masalah yang ditimbulkan oleh Pelayan yang tidak loyal itu!” ucap Pak Antoni lagi dalam hati sambil melihat ke arah sekeliling dimana banyak pelayan yang berhenti bekerja dan terus melihat ke arah Pelayan yang dibawa pergi secara paksa.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.

__ADS_1


“Jika ingin terus bekerja, maka tutup mata dan mulut kalian. Jika tidak maka akibatnya akan sangat buruk sekali. Kembali bekerja!” ucap Pak Antoni dengan nada mengancam dengan tatapan mata yang tajam seolah siap membunuh siapapun yang melanggar dan dengan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi.


Pak Antoni pun pergi ke Ruang Kerja Dimas dan langsung menghubungi Dimas dengan tergesa-gesa dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir.


“Kring! Kring! Kring!” suara telepon.


“Tuan Muda, gawat! Nona Arabella sepertinya diculik oleh orang suruhan Nona Clara!” ucap Pak Antoni secara langsung dengan nada yang terburu-buru dengan keringat yang terus mengalir ke dahi dan pipinya dan dengan ekspresi wajah yang gelap.


“Apa?” teriak Dimas yang langsung berdiri dari meja kerjanya dengan sangat keras sambil memukul meja dengan telapak tangannya sehingga menimbulkan suara yang sangat keras yang membuat Edo yang ada di dekatnya menjadi terkejut.


“Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?” tanya Dimas yang tidak percaya dengan ekspresi wajah yang merah merona karena menahan amarah sambil menatap tajam ke arah depan sehingga membuat Edo merinding karena hawa membunuh yang dikeluarkan Dimas.


“Saya yakin 100% Tuan Muda. Saya menemukan seorang Pelayan yang telah dibayar oleh Nona Clara untuk menjadi mata-mata dan saya juga telah menyita Handphonenya lalu menemukan beberapa percakapan yang berisikan semua informasi tentang kebiasaan dan aktifitas Nona Arabella!” ucap Pak Antoni dengan nada tegas dan serius dengan ekspresi wajah yang datar sambil melihat beberapa pesan yang ada di dalam Handphone Pelayan dengan teliti.


“Saya sudah memerinthak beberapa Bodyguard dan Penjaga untuk mencari keberadaan Nona Arabella tapi sampai saat ini belum mendapatkan kabar apapun.” Ucap Pak Antoni lagi dengan suara yang begetar ketakutan.


“Sial!” teriak Dimas yang marah sambil melemparkan semua benda yang ada di atas meja kerjanya dengan ekspresi wajah yang sangat marah lalu mematikan teleponnya dan menggenggamnya dengan sangat erat.


Dimas yang tidak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi pun memanggil Edo yang langsung membuat Edo melompat karena terkejut.


“Edo!” teriak Dimas sambil melihat ke arah Edo yang sedang duduk berjongkok mengambil semua berkas-berkas penting yang telah dijatuhkan Dimas ke lantai.


“I-iya Tuan Muda!” teriak Edo yang langsung teriak dan berdiri melepaskan lembaran-lembaran kertas yang ada di tangannya ke atas meja dengan ekspresi wajah terkejut dengan keringat yang mengalir ke pipinya.


“Kita kembali sekarang!” ucap Dimas dengan nada serius sambil mengambil jasnya dari kursi yang langsung berjalan keluar kantonya dengan tatapan mata yang marah.


“Kau bawa semua anak buahmu untuk membantu melacak keberadaan Arabella dan Clara sekarang!” perintah Dimas yang berhenti berjalan sambil melirik ke belakang ke arah Edo yang bediri dibelakangnya dengan ekspresi wajah yang serius.


“Baik, Tuan Muda!” ucap Edo dengan cepat sambil bergerak mengikuti Dimas berjalan dibelakangnya sambil memainkan handponenya untuk menghubungi anak buahnya menjalankan perintah dari Dimas.


“Cari tau keberadaan Nona Arabella dan Mantan Kekasih Tuan Muda! Lalu perintahkan beberapa anak buahmu bergerak mencari Nona Arabella di Taman di dekat Kediaman Arthama Jaya!” perintah Edo dengan nada tegas dengan ekspresi wajah yang serius.

__ADS_1


“Siap laksanakan, Bos!” ucap Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang serius juga sambil mematikan sambungan telepon lalu menggerakkan anggotanya menjalankan tugas yang diberikan secepatnya.


Dimas yang tidak bisa menggunakan kekuatannya karena jarak waktu kehilangan Arabella dan saat dirinya diberi tau sangat lama membuat Dimas merasa sangat tidak berguna.


“Sial! Kenapa hal ini terjadi lagi? Padahal aku sudah pernah berjanji jika aku akan selalu melindunginya tapi hal ini terjadi lagi. Aku sangat tidak berguna. Aku harus bisa menyelamatkan Arabella!” ucap Dimas dalam hati dengan tekat yang kuat dengan ekspresi wajah yang serius sambil terus berjalan ke arah parkiran mobil.


Dalam waktu setengah jam. Dimas pun akhirnya sampai di Kediaman Arthama Jaya dan disambut dengan ekspresi wajah sedih dan kebingungan dari wajah Pak Antoni yang membuat Dimas semakin cemas.


“Selamat datang, Tuan Muda!” ucap Pak Antoni yang datang menyambut Dimas dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dijelaskan dengan kepala tertunduk.


“Dimana Arabella?” tanya Dimas yang berjalan masuk sambil terus melihat kesekililing dan tidak melihat keberadaan Arabella dimanapun dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir dengan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat.


“Deg! Deg! Deg!” suara detak jantung.


“Maafkan saya Tuan Muda!” ucap Pak Antoni dengan kepala tertunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang sedih.


“Dimana Bodyguard dan Pelayan Pribadi Arabella?” tanya Dimas yang marah sambil berjalan masuk ke dalam Kediamannya dengan nada tinggi dan ekspresi wajah yang marah yang terlihat jelas diraut wajah Dimas yang tampan


“Ada di kamar dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mereka terjatuh dan pingsan di tanah dalam keadaan luka terutaman Pelayan Pribadi Nona Arabella lukanya sangatlah parah hingga tangannya patah!” ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang serius sambil menjelaskan keadaan Pelayan dan Bodyguard dengan dengan wajah menyesal.


“Antarkan aku kepada mereka!” perintah Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dan menyesal sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras.


“Ikuti Saya, Tuan Muda!” ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang datar sambil berjalan mendahului Dimas menunjukkan jalan.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2