CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 200. Pak Bambang Dipecat


__ADS_3

Tepat di hari Dimas menemukan Arabella, Pak Bambang yang datang ke Perusahaan Arthama Jaya seperti biasa tidak menyangka saat dirinya pertama kali sampai di Ruangannya bahwa semua barangnya telah dirapikan dan tersusun di lantai.


“Apa ini? Kenapa semua barang-barang saya ada di lanatai?” teriak Pak Bambang dengan ekspresi wajah yang kesal dengan nada suara yang tinggi.


Semua Pegawai yang mendengar Pak Bambang berteriak dengan nada yang marah pun menjadi penasaran dan bergerak menuju ke ruangan Pak Bambang.


“Ada apa? Apa yang terjadi pada Pak Bambang?”


“Kenapa Pak Bambang marah-marah, ya? Suaranya juga besar sekali!”


“Eh, lihat! Kenapa semua barang-barang milik Pak Bambang sudah dirapikan semua?”


Edo yang telah memprediksi semua itu pun masuk ke dalam Ruangan Pak Bambang dan menatap tajam ke arah Pegawai-pegawai yang penasaran dengan yang terjadi.

__ADS_1


“Kenapa semuanya berkumpul disini? Kembali bekerja!” teriak Edo dengan suara yang keras dan tegas dengan tatapan mata yang tajam.


Semua Pegawai yang mendengar teriakan dari Edo pun berlari ke meja kerjanya masing-masing dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


Edo yang melihat semuanya telah meninggalkan tempat itu satu per satu pun berbalik arah dan menatap Pak Bambang.


Edo yang telah menyiapkan dokumen penting yang telah ditandatangani langsung oleh Dimas pun memberikannya kepada Pak Bambang dengan ekspresi wajah yang datar.


Pak Bambang yang penasaran pun mengambil dokumen itu dan membacanya dengan seksama tapi setelah Pak Bambang membaca dokumen tersebut baris tiap baris ekspresi wajah yang dimiliki Pak Bambang pun terus berubah.


Edo yang tidak ingin menanggapi hal itu pun hanya tersenyum dan mengambil kertas yang dilempar Pak Bambang.


“Saya sebagai Asisten hanya menyampaikan pesan yang diamanahkan oleh Tuan Muda kepada saya. Oleh karena itu, harap Pak Bambang menerima keputusn Tuan Muda dengan hati yang lapang!” ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


Pak Bambang yang sangat marah dan kesal pun berbalik arah dan kembali ke Kediamannya sambil menghubungi sekrertarisnya untuk mengambil barang-barangnya yang ditinggalkannya begitu saja di Ruangan itu.


Pak Bambang yang sangat marah dan masih belum bisa mengendalikan emosinya pun masuk ke dalam Ruang Kerja Pribadinya lalu menghancurkan barang yang ada di atas mejanya.


Heru yang baru saja kembali dari Rumah Sakit pun mengkerutkan wajahnya setelah mendengar berita dari Mike.


“Apa? Apa yang telah terjadi? Kenapa Ayahku marah-marah?” tanya Heru dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut.


“Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Tuan Besar dipecat oleh Tuan Muda Dimas dari Perusahaan Arthama Jaya dan itulah sebabnya Tuan Besar marah-marah ketika sampai di Kediaman!” ucap Mike dengan ekspresi wajah yang datar dengan nada suara yang tegas.


“Apa? Dipecat? Bagaimana bisa? Bukankah kita masih memiliki Saham di Perusahaan Arthama Jaya?” tanya Heru dengan ekspresi wajah yang bingung.


“Yang dikatakan Tuan Muda itu benar tapi Kepemilikan Saham kita kalah jauh dari Tuan Muda Dimas semenjak kejadian Kapal yang tenggelam.” Ucap Mike dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang dingin.

__ADS_1


“Sial! Kenapa bisa begini? Kenapa Dimas juga bisa keluar dari Penjara? Bukankah seharusnya dia mendekam di dalam Penjara selamanya?” ucap Heru dengan ekpsresi wajah yang kesal dan nada suara yang terdengar sangat emosi.


#Bersambung#


__ADS_2