
Clara yang tidak bisa memaafkan perbuatan Heru yang membuatnya menjadi kambing hitam dalam masalah yang ada menjadi sangat marah dan mencoba menghubungi Heru tapi tidak ada jawaban sama sekali bahkan nomor handphonenya malah di blokir.
“Kring! Kring! Kring!” telepon berdering
“Apa-apa dia? Beraninya dia melakukan ini padaku!” gumam Clara yang terus menghubungi Heru sambil meletakkan handphone itu di telinganya.
“Sial! Kenapa tidak diangkat!” teriak Clara dengan ekspresi wajah yang marah dengan alis yang dinaikkan ke atas dengan sorot mata yang tajam.
“Kring!” telepon berdering.
“Tut! Tut! Tut!” suara Handphone mati.
“Kurang ajar!” teriak Clara yang marah sambil melempar handphonenya ke meja makan dengan wajah yang marah sambil melihat layar handphonenya.
“ Beraninya dia memblokir nomor teleponku dan menjadikanku kambing hitam dan menyelematkan dirinya sendiri!” teriak Clara yang marah langsung berdiri dan melempar gelas yang ada di dekatnya ke dinding dengan sangat keras hingga gelas itu pecah.
“Brak!" Alea yang awalnya diam saja melihat sikap Clara menjadi sangat marah saat Clara melempar gelas ke arahnya hingga pecahan beling itu hampir mengenai kakinya.
“Clara!” teriak Alea dengan nada tinggi dan ekspresi wajah yang marah dengan sorot mata yang tajam dengan alis yang naik ke atas.
“Apa? Kau sudah berani membentakku sekarang! Hah!” teriak Clara yang balas menatap Alea dengan sorot mata yang tajam dengan mata melotot.
“Apa kau sudah gila? Kenapa kau tiba-tiba marah tidak jelas bahkan melempar gelas itu ke arahku? Apa kau tidak lihat pecahannya itu hampir mengenaiku?” teriak Alea yang tidak terima dimarahi Clara karena Alea yakin jika saat ini dirinya sebagai korban.
“Kau mengatakan aku gila! Kau yang gila. Jangan membesar-besarkan hal kecil. Itu hanya pecahan gelas dan lagipula pecahan itu tidak mengenaimu. Jadi jangan mendramatisir keadaan.” Ucap Clara dengan nada merendahkan dengan sorot mata yang meremehkan sambil melihat ke arah kaki Alea yang dikelilingi pecahan beling.
“Kau!” teriak Alea yang tidak berkata-kata lagi dan langsung menendang meja yanga ada di depannya hingga membuat Clara menjerit dan mendorong kursinya dengan keras hingga terbalik dan patah.
“Ciit!” suara geseran meja makan.
“Agh!” teriak Clara dengan ekspresi wajah terkejut dan marah.
“Bruk!” suara kursi jatuh.
“Brak!” suara kursi patah.
__ADS_1
Alea yang marah pun meninggal Clara di dapur sendiri dan menuju kamarnya dan membereskan barang-barangnya yang penting lalu meninggalkan Apartemen Clara yang langsung dicegat Clara.
“Brak!” suara pintu di banting.
“Apa-apaan Anak Pungut ini? Dia benar-benar sudah berani melawanku. Jika aku tidak memberinya pelajaran, aku yakin jika dia pasti akan terus menganggap dirinya hebat!” ucap Clara yang marah dan langsung berjalan menyusul Alea dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal.
“Srak!”
“Syut!”
“Mau kemana kau?” tanya Clara dengan sorot mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang marah dengan dua tangan diletakkan bersilang di dadanya.
“Apa itu penting untukmu? Manusia yang sangat egois!” sindir Alea dengan nada sinis dengan tatapan mata yang marah sambil melihat ke mata Clara.
“Kau sudah berani melawanku, Anak Pungut!” teriak Clara dengan wajah yang marah dan wajah yang memerah dengan dua tangan yang mengepal dengan sangat erat.
“Iya! Lalu kenapa? Mulai saat ini aku berhenti menjadi Managermu!” teriak Alea yang marah dengan mata yang tajam yang langsung berjalan berbalik arah menuju pintu.
“Hahaha” tawa Clara yang sangat keras yang membuat Alea yang telah berada di depan pintu keluar berhenti dan berbalik melihat ke arah Clara.
“Hah, kau bilang aku tidak tau balas budi dan tidak tau malu justru kau lah manusia yang tidak tau diuntung. Apa kau fikir akan ada orang yang mau bekerja denganmu selama aku dan apa kau fikir akan ada orang yang mau bertahan dengan sikap labil dan kekanak-kanakanmu itu?” ucap Alea dengan nada sinis dengan sorot mata yang tajam sambil melihat ke arah Clara.
“Kau fikir aku tidak bisa hidup tanpamu. Jangan menganggap tinggi dirimu, Clara. Justru aku ragu kau dapat bertahan di Dunia Hiburan ini tanpa aku di sisimu!” ucap Alea lagi dengan nada merendahkan dan langsung pergi meninggalkan Clara sendiri sambil membanting pintu Apartemen dengan sangat keras.
“Brak!”
“Kau akan menyesali semua perbuatanmu sekarang Clara. Ingat ucapanku! Aku akan membalas semua perbuatanmu padaku!” ucap Alea dalam hati sambil terus berjalan menuju ke luar Gedung Apartemen menuju ke parkiran mobil.
Alea yang sudah mempersiapkan dirinya jika suatu saat akan pergi meninggalkan Clara telah membeli tiga buah rumah berlantai dua di sebuah Perumahan Elit dan Alea juga telah menabung serta menginverstasikan uangnya ke tempat yang terpercaya sehingga jika waktunya telah tiba Alea hanya tinggal memikirkan cara balas dendam kepada Clara.
Sementara itu, diwaktu yang lain, Heru yang akhirnya sadar sepenuhnya dari pengaruh minuman keras dan obat mencoba mencari keberadaan Asisten Pribadinya, Mike, tapi tidak ada yang memberitaunya bahkan nomor handphone Mike sudah tidak aktif lagi.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silakahkan coba beberapa saat lagi!”
“Tut! Tut! Tut!
__ADS_1
“Sial! Kemana perginya Mike? Kenapa handphonenya malah tidak aktif?
“Hei, kau!” panggil Heru kepada seorang pelayan muda yang sedang membersihkan kamar Heru dengan nada memerintah.
“I-iya, Tuan Muda? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pelayan Muda itu dengan malu-malu sambil tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
“Panggil Mike sekarang juga!” perintah Heru kepada Pelayan itu dengan ekspresi wajah yang marah dengan sorot mata yang tajam dan nada yang kasar.
“Tu-Tuan Mike ti-tidak ada di Kediaman, Tuan Muda!” jawab Pelayan Muda itu dengan terbata-bata dengan kepala tertunduk lemah dengan wajah yang gelap dan keringat yang mengalir di pipi dan dahinya menunjukkan kecemasan yang dirasakannya saat ini.
“Tidak ada disini? Lalu dimana dia?” tanya Dimas dengan nada rendah seolah sedang berfikir kemana perginya Mike tanpa memberitaunya sama sekali dengan satu tangan diletakkan di dagunya.
“Sa-saya tidak tau.” Jawab Pelayan Muda itu dengan ragu-ragu yang membuat Heru memberikan tatapan menusuk seolah siap menerkam mangsanya.
"Katakan! Jangan berpura-pura tidak tau jika kau masih ingin bekerja disini!" teriak Heru dengan nada kasar dengan setengah membentak dengan sorot mata yang tajam.
"Ampuni saya, Tuan Muda. Sa-saya ..." ucap Pelayan Muda itu dengan gugup dengan keringat yang mengalir sangat deras hingga membasahi kedua tangannya.
Heru yang telah kehilangan kesabarannya pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju ke Pelayan yang sedang duduk berlutut di lantai dengan kepala tertunduk.
"Tap! Tap! Tap!"
Heru pun berjalan dengan perlahan hingga akhirnya berdiri tepat di depan Pelayan itu lalu Heru pun berjongkok dengan satu kaki sambil mengangkat kepala Pelayan tersebut dan mencengkranm pipinya dengan sangat keras.
"Kau sepertinya sudah tidak sayang lagi dengan nyawamu. Jika begitu maka aku akan mengabulkan keinginanmu." ucap Heru dengan nada sarkastik yang sangat menyeramkan dengan senyum sinis seperti seorang psikopat yang senang melihat korbannya sengsara.
"Am-ampuni saya, Tuan Muda. Sa-saya sungguh tidak berani!" ucap Pelayan itu dengan wajah pucat dengan keringat yang mengalir deras di sekujur wajah dan tubuhnya dengan ekspresi ketakutan yang terlihat jelas.
"Kau tidak perlu khawatir akan pergi sendiri karena aku akan menjamin seluruh anggota keluargamu akan menyusulmu!" ucap Heru dengan senyum jahat dengan sorot mata yang tajam sambil membelai rambut Pelayan Muda dengan hati-hati sehingga membuat tubuh Pelayan tersebut bergetar karena perasaan takut.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih