CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 91. Taman


__ADS_3

Arabella yang sangat senang dapat pergi jalan-jalan keluar tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.


Arabella yang telah berganti pakaian pun pergi bersama Ria yang juga sudah berganti pakaian dengan perasaan bahagia dan senyum cerah.


"Aku rasa ini sudah sangat cocok. Waktunya jalan-jalan!" ucap Arabella dalam hati sambil melihat penampilannya yang sederhana di kaca karena tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di Taman.


"Ayo kita pergi!" ucap Arabella dengan kegirangan dengan sorot mata yang berkilau seperti berlian dengan memakai celana jins biru tua dengan baju kaos putih berlengan pendek dan jaket dengan nada senada dan tak lupa sepatu olahraga putih serta topi yang membuat penampilannya terlihat sederhana tapi berkelas.


"Tentu saja, Nona." ucap Ria dengan senyum lembut dengan pakaian yang juga telah berganti dari seragam pelayan Keluarga Arthama Jaya.


Arabella dan Ria pun segera turun ke bawah dan menaiki mobil menuju taman yang sebenarnya berjarak tidak jauh dari Kediaman Dimas.


"Hati-hati di jalan Nona." ucap Pak Antoni dengan nada ekspresi yang datar sambil melihat ke arah Arabella yang kemudian menundukkan kepala saat Arabella telah pergi.


Pak Antoni yang melihat kepergian Arabella dan Ria pun memberikan kode kepada dua Bodyguard yang ditugaskan Dimas untuk mengikuti serta menjaga Arabella dari kejauhan tanpa menjadi pusat perhatian.


"Segera bergerak dan jangan lakukan kesalahan apapun." ucap Pak Antoni dengan nada mengancam dan sorot mata yang tajam serta tanpa ekspresi.


"Kami mengerti." ucap kedua Bodyguard itu secara bersamaan sambil mengeluarkan keringat di dahi dan pipinya.


Tanpa disadari Pak Antoni dan yang lain bahwa ada orang yang sedang mengirim informasi tentang keberadaan dan situasi Arabella saat ini.


Sementara itu, Arabella yang telah sampai di taman merasa jika dirinya dapat hidup kembali. Arabella pun duduk bersantai sambil mengembuskan nafas yang panjang di bawah pohon yang rindang.


"Srak!"


"Hah! Ini baru namanya healing!" gumam Arabella yang merasa tentram dengan dua kepala bersandar di kursi dengan mata terpejam sebentar.


Arabella yang merasakan kedamaian tiba-tiba merasa aneh dengan keberadaan Ria yang masih bersikap seolah seorang pelayan.


"Kenapa kau berdiri disana? Kemarilah. Duduk disampingku." ucap Arabella dengan wajah senang dan senyum lembut sambil menggerak-gerakkan tangannya menepuk kursi yang kosong di sebelahnya.


"Ta-tapi Nona..." ucap Ria yang ragu-ragu setelah mendengar apa yang dikatakan Arabella dengan keringat yang mengalir di pipinya.


"Kenapa diam saja? Duduklah disini. Ingat kau bukan pelayanku saat ini tapi temanku." ucap Arabella dengan senyum ramah sambil melihat ke arah Ria lalu menarik paksa tangan Ri untuk duduk di sampingnya.


"Santai saja. Tidak akan ada yang akan memarahimu. Aku jamin itu." ucap Arabella dengan penuh percaya diri sambil meletakkan satu tangan di dadanya seolah mencoba untuk meyakinkan Ria jika semua tidak akan menjadi masalah.


"Terima kasih, Nona." ucap Ria denga senyum bahagia sambil melihat ke arah Arabella.


"Nona Arabella sangat baik. Aku senang dia menjadi majikanku." ucap Ria dalam hati dengan senyum tulus di bibirnya.


Arabella yang sudah lama tidak melihat anak kecil bermain menjadi sangat senang karena sesungguhnya Arabella sangat menyukai anak kecil karena selama ini dirinya adalah anak tunggal tanpa kakak dan adik.

__ADS_1


"Syuh!"


"Tangkap bolanya, kak?"


"Srak!"


"Goal! Aku menang! Yeay!"


"Mereka sangat lucu!" gumam Arabella yang tertawa riang melihat sepasang saudara sedang bermain sepak bola ditemani kedua orangtuanya dengan ekspresi wajah sedikit sedih mengingat dirinya sekarang sebatang kara tanpa keluarga.


"Ayah! Ibu!" gumam Arabella dengan ekspresi wajah sedih dan kecewa dengan senyum getir di bibirnya.


Ria yang melihat kesedihan yang tersirat di wajah Arabella menjadi ikut sedih karena mengetahui bahwa orangtua Arabella telah meninggal karena korban tabrak lari dan Arabella sekarang hidup seorang diri tanpa ada keluarga di sisinya.


"Nona! Jangan sedih. Bukankah kita kemari untuk bersenang-senang? Jika Nona sedih maka sia-sia saja kita kemari." ucap Ria yang langsung menggenggam tangan Arabella dengan kuat sambil tersenyum cerah seolah memberikan semangat untuk Arabella menjalani hidup yang bahagia.


"Kau benar. Kita kemari untuk bersenang-senang dan bukan waktunya untuk bersedih." ucap Arabella yang langsung menghampus tetesan air matanya yang turun dan kemudian tersenyum bahagia kembali.


"Ayo kita jalan-jalan. Sepertinya disana ada jajanan enak." ucap Arabella yang langsung berdiri menarik Ria sambil menunjuk ke sebuah tempat banyak sekali pedagang yang sedang berjualan makanan ringan.


Arabella dan Ria pu pergi bersama dengan Arabella yang berjalan sambil merangkul tangan Ria dengan gembira berkeliling di kerumunan orang lalu membeli beberapa jajanan yang menurutnya menarik.


"Ayo-ayo. Es krim enak. Es krim manis dan dingin!"


"Cotton candynya ada berbagai macam rasa dan bentuk. Bisa request sesuai selera!"


"Wah, disini sangat hidup!" ucap Arabella sambil mencicipi jajanan pasar sambil berjalan berkeliling.


"Nona benar. Disini sangat ramai. Nona tidak boleh pergi jauh sendiri karena akan tersesat di keramaian ini." ucap Ria mengingatkan dengan ekspresi wajah cemas sambil mengelap bibir Arabella yang terkena saos dari makan yang dimakannya.


Namun, saat keduanya sedang menikmati hari tiba-tiba Arabella melihat ada seorang anak berumur tujuh tahun sedang dibuli oleh anak-anak SMP di dalam gang yang sempit.


"Apa yang sedang anak-anak itu lakukan?" tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung sambil melihat ke arah anak-anak itu.


"Sepertinya sedang terjadi pemalakan dan pembulian, Nona." ucap Ria dengan spontan sambil melihat ke arah kirinya.


"Aku tidak suka pemalakan dan pembulian karena aku tau rasanya dibuli. Ayo kita tolong mereka." ucap Arabella dengan nada sedih yang kemudian menjadi bersemangat.


"Ayo, Nona!" ucap Ria yang berjalan mengikuti arah perginya dari belakang dengan ekspresi wajah yang serius.


Dua orang Bodyguard yang menyamar menjadi bingung dengan sikap dan tingkah laku Arabella dan Ria yang berjalan ke tempat yang sepi. Keduanya pun merasa ada yang tidak beres sehingga bergerak mengikuti diam-diam.


"Kemana Nona pergi?" tanya salah seorang Bodyguard yang bingung sambil melihat ke arah tujuan Arabella yang tidak biasa.

__ADS_1


"Kita ikuti saja!" ucap Bodyguard yang lainnya dengan wajah tanpa ekspresi sambil berjalan mengikuti Arabella dan Ria.


Arabella dan Ria yang telah berada beberapa langkah dibelakang anak-anak yang sedang melakukan pembulian segera berteriak yang membuat anak-anak SMP itu menjadi takut.


"Hei!" teriak Arabella dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal sambil melihat anak-anak SMP yang sedang mencoba melakukan pembulian dan pemalakan.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian bertiga tidak sekolah?" teriak Ria dengan nada keras dan kasar dengan dua tangan berada di pinggang dengan ekspresi wajah yang marah yang kemudian berjalan berdiri tepat dibelakang anak-anak SMP.


"Waaahhh!" teriak ketiga Anak SMP secara bersamaan yang terduduk di tanah dengan ekspresi wajah terkejut sambil melihat ke atas ke arah Ria dengan tatapan takut dengan keringat yang mengalir ke dahi dan pipinya.


"Kalian ini masih kecil tapi sudah melakukan pembulian dan pemalakan pada orang lain!" ucap Ria dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang marah.


Anak SMP yang merasa terancam segera berlari kabur meninggalkan anak yang dibuli sambil berteriak mengancam.


"Awas saja kau! Kau beruntung kali ini tapi tidak lain kali. Kami akan membalasmu nanti!" teriak ketiga anak anak itu sambil berlari menjauh dengan sikap sombong.


"Anak-anak ini!" teriak Ria yang marah sambil mengangkat tangannya seolah mencoba mengejar dan memukul anak SMP yang kabur tapi dihalangi Arabella.


"Jangan dikejar. Mereka tidak akan bisa dinasehati karena hatinya sudah tertutupi dengan kejahatan. Aku akan meminta Dimas mengurus mereka!" ucap Arabella sambil meletakkan tangannya ke arah Ria seolah menghalangi Ria mengejar dengan eskpresi wajah yang datar.


"Orang seperti ini tidak bisa dibiarkan dan juga tidak bisa dilawan dengan cara biasa karena tidak akan memberikan efek jerah!" ucap Arabella dalam hati sambil melihat ke arah kepergian Anak SMP.


Ria yang tidak terima karena merasa tidak puas jika tidak memarahi anak yang melakukan pembulian itu pun terus mengoceh tanpa henti hingga membuat Arabella mengabaikannya.


"Huh, dasar anak-anak nakal! Masih kecil sudah melakukan pemalakan dan pembulian apa nanti sudah besar mau jadi pereman?"


"Kemana orangtuanya anak-anak ini? Kenapa anak seperti ini tidak dijaga dan diperhatikan pergaulannya."


"Aagghhh, aku kesal sekali!"


Arabella yang tidak ingin meladeni Ria pun berjalan mendekati anak umur tujuh tahun yang menjadi korban buli.


"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki Arabella.


"Nak, apa kau baik-baik saja?" tanya Arabella dengan senyum lembut dan ramah sambil membelai kepala anak itu mencoba menenangkannya.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2