CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 169. Pemakaman Bu Selena


__ADS_3

Dimas yang telah sampai di Kediamannya menjadi sangat senang setelah mendapatkan kabar bahwa Bu Selena telah meninggal.


“Tuan Muda! Ada kabar dari Kediaman Pak Bambang Arthama Jaya!” ucap Pak Antoni dengan nada suara yang datar dari balik pintu yang tertutup.


“Ada apa? Masuklah!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bahagia sambil berdiri menatap langit malam yang dipenuhi bintang.


“Tuan Muda, Bibi anda, Bu Selena telah meninggal dunia sore tadi dikarenakan terjadi gangguan pada sistem pernafasannya!” ucap Pak Antoni tanpa perubahan ekspresi wajah.


“Aku mengerti. Kirimkan karangan bunga yang sangat besar dan indah lalu kirim ke Kediaman Paman dan juga Sepupuku! Aku ingin mereka tau jika aku juga ikut berduka!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang sinis dan senyum jahat sambil berdiri membelakangi Pak Antoni.


“Baik, Tuan Muda!” ucap Pak Antoni dengan nada suara yang patuh sambil menundukkan kepala lalu meninggalkan ruangan dengan senyap.


Dimas yang sangat senang pun berjalan mengambil Anggur yang telah lama disimpannya lalu menuangkannya di segelas cangkir dan menikmatinya sendirian.

__ADS_1


“Hmmm, satu orang telah tersingkir! Tinggal dua orang lain lagi! Aku tidak bisa bersantai. Aku harus memikirkan langkah selanjutnya!” ucap Dimas dengan ekspresi bahagia dengan senyum yang lebar sambil meminum segelas anggur ungu.


Sementara itu, Arabella yang mendengar berita dari Ria bahwa Bu Selena telah meninggal pun merasa sangat senang dan berniat untuk berziarah ke makam orang tuanya keesokan harinya.


“Aku sangat merindukan kedua orangtuaku. Ria! Bisakah kau persiapkan semua keperluannya?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum lebar.


“Tentu saja, Nona. Serahkan saja padaku semuanya!” ucap Ria dengan wajah yang percaya diri dengann tatapan mata yang serius.


“Apakah kau sudah siap, Bel?” tanya Dimas dengan senyum yang cerah sambil mengulurkan tangannya ke arah Arabella yang telah memakai gaun panjang berwarna hitam dengan tudung rambut berwarna hitam juga dengan riasan tipis di wajahnya.


Tak butuh waktu lama, keempatnya pun sampai di Pemakaman tempat Anggota Keluarga Arthama Jaya dimakamkan.


“Paman! Heru! Aku turut berduka cita atas kepergian Bibi! Semoga Bibi tenang disana!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bersalah dan sedih.

__ADS_1


“Terima kasih, Keponakanku! Paman senang kau datang kemari! Tolong doakan Bibimu agar arwahnya bisa tenang!” ucap Pak Bambang dengan senyum yang kaku.


Arabella yang berdiri di samping Dimas pun mencoba mengucapkan belasungkawa tapi tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Pak Bambang bahkan Heru pun hanya menjawab dengan singkat dan dingin.


Arabella yang tidak mempermasalahkan sikap Pak Bambang dan Heru padanya pun hanya bersikap cuek dan melakukan akting sedihnya.


Dimas yang tidak ingin lebih lama di tempat it pun mengajak Arabella kembali setelah menaburkan bunga sambil memayungkan kepalaa Arabella dengan hati-hati.


Di sisi lain, Heru yang merasa sangat sedih karena baru saja kehilangan Ibunya dan melihat Arabella dan Dimas yang semakin mesrah dan dekat pun menjadi sangat marah dan kesal.


“Sial! Beraninya dia bahagia di atas kesusahanku! Lihat saja bagaimana aku membalasmu!” ucap Heru dengan ekspresi wajah yang dingin dan nada suara yang rendah.


#Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2