
Alea yang tidak ingin berdebat lagi dengan Clara pun menyerah dan tidak akan membahas kontrak apapun lagi.
"Baiklah. Aku akan memilih kontrak kerja sesuai yang kau katakan!" ucap Alea sambil menghembuskan nafas dengan ekspresi wajah yang pasrah.
Alea pun kembali ke ruang tamu dan meninggal Clara. Alea pun mengangkat semua berkas itu ke meja yang lain lalu membereskan semuanya dan memilih beberapa kontrak yang menurutnya sesuai.
"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.
"Srak! Sruk!" suara kertas.
Sementara Clara kembali ke tempat duduknya dan bersandar dengan santai sambil membuka beberapa akun sosial medianya dan membaca beberapa komentar yang baik tentangnya.
"Hmm, Arabella pasti sangat stres dan sedih setelah mendengar berita tentangnya yang ada di seluruh Media di Indonesia." ucap Clara dalam hati dengan senyum bahagia yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kau bisa memiliki Dimas dan mendapatkan semua fasilitas sebagai Tunangan Dimas Arthama Jaya tapi aku akan pastikan kau tidak akan pernah bahagia karena semua orang selalu menghina dan merendahkanmu!" ucap Clara lagi dalam hati sambil melihat isi dalam handphonenya dengan wajah yang gelap.
Namun, saat Alea melihat berkas tiba-tiba dirinya menemukan sebuah kartu undangan. Alea pun menyerahkan sebuah kartu yang sangat mewah dengan tulisan bertinta emas dengan gaya tulisan yang sangat elegan itu kepada Clara.
"Ah! Ini..." ucap Alea sambil membolak-balik sebuah Kartu Undangan.
Clara yang melihat tingkah laku Alea yang aneh langsung memfokuskan matanya pada sesuatu yang dipegang oleh Alea.
Clara yang mengenal kartu tersebut langsung mengambilnya dari tangan Alea dan membukanya dengan sangat hati-hati.
#Syut!"
"Srak!"
Clara yang melihat isi dari kartu tersebut langsung memasang wajah terkejut dan tidak percaya. Clara pun langsung meminta penjelasan dari Alea yang ternyata berhasil membuat Clara berteriak riang.
"Apa ini Undangan Acara Penghargaan Internasional?" tanya Clara kepada Alea sambil melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa penasaran.
"Ya, Aku baru mendapatkan Undangan itu pagi tadi..." jawab Alea yang terpotong dengan ekspresi wajah terkejut.
"Aaaa...." teriak Clara dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Aku tidak sedang bermimpikan, Lea? Aku tidak menyangka mendapatkan Undangan ini." tanya Clara sambil memegang bahu Lea sambil menguncang-guncangkan tubuh Alea dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang bahagia yang terlihat jelas diwajahnya.
"Kau tidak bermimpi, Clara! Jadi kumohon tolong lepaskan aku!"teriak Alea yang merasa sangat pusing setelah perlakuan Clara yang mengoyang-goyangkan tubuhnya.
Alea yang mendapatkan guncangan memegang kepalanya dengan satu tangan dan tangan lainnya memegang meja.
"Hah! Kepalaku pusing!" keluh Alea dalam hati dengan ekspresi wajah yang pucat.
Sementara itu, Clara yang merasa sangat senang langsung berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi.
"Lea, sebaiknya kau bersiap-siap karena kita akan pergi ke Butik Madam Laurens. Kita akan memesan Gaun yang sangat cantik dan anggun untukku pakai saat Acara Penghargaan Internasional!"teriak Clara sambil berlari masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi riang.
Namun, Alea yang mengetahui jika Clara memiliki jadwal Pemotreta dan juga harus menghadiri sebuah Acara Televisi segera menghentikan Clara meski harus mendapatkan penolakan keras.
"Kita tidak bisa pergi sekarag, paling tidak hingga besok sore. Jadwalmu sudah terisi dengan sangat padat dan kita tidak bisa menggantinya dengan hari yang lain." ucap Clara yang mencoba mengejar Clara masuk ke dalam kamarnya dengan ekspresi wajah yang cemas.
"Tidak bisa diganti? Jangan percanda. Jika aku ingin pergi maka aku akan pergi lagi pula saat ini aku sedang sangat terkenal jadi aku bisa melakukan apapun sesukaku." ucap Clara dengan sombong sambing menunjuk dirinya sendiri sambil memegang sebuah baju gaun mini berwarna merah muda di tangannya.
"Tidak bisa! Jika kau menolak datang maka kita akan diminta ganti rugi tiga kali lipat dan itu sudah tercantum dalam kontrak!" terang Alea dengan nada yang meyakinkan dan ekspresi wajah yang serius.
"Aku tidak memilihnya. Apa kau lupa jika kau sendiri yang ingin mengambil pekerjaan ini bukan aku?" terang Clara yang mencoba membela dirinya sambil meletakkan tangannya di dadanya dengan ekspresi marah
"Kau berani melawanku! Jangan lupa siapa kau sebelumnya!Ingat jika bukan karenaku dan kedua orang tuaku saat ini kau sudah mati kelaparan dijalan!" ancam Clara sambil menunjuk-nunjuk wajah Alea dengan jarinya dengan ekspresi marah dan kesal.
Clara yang sangat marah langsung keluar dari kamar jtu dan mengambil kunci mobil dan juga handphonenya lalu keluar dari rumah sambil menabrak tubuh Alea hingga Alea terjatuh ke lantai.
"Bugh!"
"Sampah! Dasar Menager tidak berguna!" ucap Clara dengan nada menghina dan tatapan merendahkan yang terlihat jelas di wajahnya.
Clara yang kesal langsung pergi dan berjalan ke arah pintu dan membukanya lalu membanting pintu Apartemennya dengan sangat keras.
"Klik!"
"Brak!"
__ADS_1
Sementara Alea yang terduduk dilantai merasakan bahunya memerah hingga membuatnya merasakan rasa nyeri dan tanpa sadar menyentuh bahunya yang sakit yang membuatnya harus meringis kesakitan.
"Syut!"
"Arg!"
"Aku selalu mengalah dan menuruti semua yang kau inginkan sejak kecil. Aku bahkan telah berkorban banyak hal untukmu tapi kau tetap tidak pernah bisa menghargai semuanya jadi jangan salahkan aku menjadi kejam suatu saat nanti, Clara Sayang!" ucap Alea dalam hati sambil tersenyum sinis melihat ke arah perginya Clara.
Sementara itu di tempat lain, Edo yang telah melihat kedatangan Dimas segera menemuinya. Edo pun mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
"Tok... Tok...!" suara ketukan pintu.
"Masuk!" ucap Dimas dengan nada serius dan penuh karisma sambil melepaskan jasnya dan meletakkannya di kursinya.
Edo yang datang langsung menyerahkan 2 buah berkas serta CD kepada Dimas. Dimas yang melihat itu merasa perasaannya menjadi semakin baik karena Dimas akhirnya bisa mendapatkan laporan yang ditunggunya dari kemarin.
Dimas pun membaca laporan yang diberikan oleh Edo dan Dimas menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan dirinya.
"Siapa Siti?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa penasaran sambil melihat ke arah Edo.
"Dia adalah salah satu pelayan di Kediaman Arthama Jaya. Dia juga orang yang menyarankan Nona Arabella untuk pergi keluar sehingga membuatnya bisa bertemu dengan Nona Clara!"jawab Edo dengan nada serius dan sorot mata yang tajam dan dengan satu tangan di letakka di dalam saku celananya.
"Lalu?" tanya Dimas meminta penjelasan lebih kepada Edo dengan ekspresi wajah yang serius sambil meletakkan tangannya di atas meja dan dagu berada di atas tangannya.
"Setelah diselidiki ternyata Siti memiliki hubungan dengan Nona Clara sepertinya Siti adalah mata-mata yang dikirim Nona Clara untuk mengetahui semua yang terjadi di Kediaman Arthama Jaya.
"Sial!" teriak Dimas yang marah dan langsung berdiri kemudian memukul mejanya hingga meja itu menjadi patah.
Syut!"
"Brakkk!"
"Ternyata, Aku yang dulu sudah terlalu memanjakannya hingga akhirnya dia berani memasukka mata-mata ke dalam, Rumahk, Rumah Kediaman Arthama Jaya Group." ucap Dimas dalam hati sambil berjalan ke arah jendela dengan aura yang berbeda.
"Tangkap Siti dan kurung dia dalam tempat Penyiksaa dan selidiki siapa saja mata-mata yang dikirim oleh Clara!" perintah Dimas sambil melihat ke arah Edo dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
#Bersambung#