CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 108. Ketakutan Clara


__ADS_3

Clara yang ketakutan pun akhirnya dapat menenangkan tubuhnya dan kembali ke Apartemennya dengan susah payah setelah berusaha meyakinkan dirinya selama berjam-jam jika dirinya pasti akan berhasil bebas.


"Klak!" suara pintu Apartemen terbuka.


"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki yang tidak teratur.


"No-nona Clara!" panggil Asisten Rumah Tangga dengan terbata-bata dengan ekspresi wajah yang bingung dan khawatir saat melihat kepulangan Clara dengan wajah yang sangat pucat seperti selembar tisu.


Clara yang merasa sangat ketakutan tidak bisa berfikir dengan jernih dan memilih untuk tetap berada di dalam kamarnya hingga membuat Asisten Rumah Tangganya menjadi semakin cemas karena Clara menolak melakukan apapun termasuk makan, minum dan membersihkan dirinya.


"Tok! Tok! Tok!" suara ketukan pintu.


"No-na. Ini sudah pagi, saya bawakan sarapan anda!"


"Hmmm, Nona saya datang mengambil piringnya!"


"Nona, ini menu makan siang hari ini. Nona pasti akan sangat menyukainya karena ini adalah makanan kesukaan Nona!"


"Nona, Ini makan malamnya! Saya tau Nona mungkin sedang diet tapi tolong jangan memaksakan diri. Saya khawatir Nona akan sakit."


"Hah, apa yang sebenarnya terjadi pada Nona Clara? Sebelum dirinya keluar malam itu, Nona Clara baik-baik saja tapi setelah kembali seperti baru saja melihat dewa kematian. Nona Clara tidak memiliki semangat untyk hidup. Aku jadi khawatir. Meskipun ini bukan urusanku tapi jika terus begini nantinya pasti akan membuatku dalam masalah jika dibiarkan terus begini." gumam Asisten Rumah Tangga sambil berjalan menjauh dari kamar Clara setelah mengantar makan malam.


Sementara itu, Alea yang diam-diam memata-matai setiap pergerakan Clara akhirnya menyadari jika Clara telah gagal dalam melaksanakan rencana balas dendamnya dan berencana mengambil kesempatan ini untuk membalas dendam.


"Sepertinya saat ini Clara dalam keadaan yang sangat terguncang. Sebagai mantan sahabat yang baik, aku akan memberimu seseorang yang akan membantu menyelesaikan masalahmu selamanya." ucap Alea dalam hati sambil tersenyum jahat sambil melihat ke arah langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang.


Di tempat lain, pihak agensi yang mengetahui bahwa Clara telah kehilangan manager dan jadwalnya menjadi kacau segera menunjuk seseorang untuk dijadikan Manager baru Clara.


"Mulai hari besok kau akan menjadi Manager Baru dari Model sekaligus Artis Muda Clara Priscillia." ucap salah seorang Anggota Agensi.


"Terima kasih, Bos." ucap seorang wanita muda dengan senyum tulus dan penuh semangat dengan tatapan mata yang penuh dengan optimisme.

__ADS_1


"Selamat bekerja, Shasa." ucap rekan kerjanya yang lain sambil memberikan selamat satu per satu.


Shasa yang merupakan Manager yang telah bekerja di Agensi sebagai Manager lepas untuk beberapa Artis baru yang tidak terkenal akhirnya mendapatkan kepercayaan menjadi Manager dari seolah Model terkenal sekaligus Artis Muda yang sedang dibicarakan banyak orang di berbagai media online.


Shasa yang hanya menyukai uang sangat tertarik dengan pekerjaan barunya karena dirinya dapat menghasilkan uang dua kali lipat dari biasanya sehingga membuat Shaha yang tidak tau apapun tentang karakter Clara menjadi sangat senang dan bahagia.


"Aku akan menghasilkan banyak uang lalu menjalani hidup mewah seperti yang aku inginkan selama ini." ucap Shaha sambil berjalan menuju kos-kosannya untuk bersiap pergi ke Apartemen Clara besok pagi dengan wajah bahagia dengan bayangan-bayangan kesuksesan yang belum tentu terjadi di masa depan.


Keesokan harinya, Arabella yang sudah terbangun tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi sakit semua sehingga Arabella tidak memiliki energi apapun untuk bergerak dari tempat tidurnya.


"Ada apa dengan tubuhku? Kenapa rasanya tidak bjsa digerakkan? Kenapa rasanya sakit semua?" ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah terkejut dan bingung dengan mata melotot.


Arabella yang tidak ingin terus berada dalam kondisi seperti itu selamanya pun mencoba mengeluarkan suaranya dan memanggil pelayan yang berjaga di depan untuk membantunya.


"A-aku tidak bisa bergerak sama sekali.Seluruh tubuhku terasa sangat kaku tapi paling tidak aku harus bisa berbicara dan memanggil bantuan. Aku tidak boleh menyerah begitu saja." ucap Arabella dalam hati sambil bertekad melawan keadaannya.


"A-a... A-apakah a-ada o-or-orang..." ucap Arabella dengan terbata-bata dan susah payah sambil mengeluarkan keringat yang tak biasa hanya untuk dapat berbicara normal.


"Selamat pagi, Nona. Kami akan menyiapkan air untuk cuci muka dan air mandian Nona." ucap dua orang pelayan secara bergantian dengan senyum cerah dan sikap yang sopan sambil menundukkan kepala.


"A-aku tidak menggerakkan tubuhku. Bisakah kau panggilkan Dimas kemari?" tanya Arabella dengan suara yang lemah dan tertatih-tatih.


Pelayan yang mendengar perintah Arabella segera mengangkat wajahnya dan melihat Arabella yang hanya terbaring di tempat tidurnya dengan sangat cantik padahal dirinya baru saja terbangun dari tidur.


"Apakah ini perbedaan antara Orang kaya dan Orang miskin? Bahkan saat bangun pun terlihat sangat berbeda dari orang awam." ucap salah seorang pelayan dalam hati dengan ekspresi wajah terkejut dan bingung.


Lalu tak lama kemudian salah satu Pelayan pun bergegas keluar menemui Dimas dan pelayan lainnya membantu Arabella merapikan wajah dan pakaiannya sebelum kedatangan Dimas.


"Saya akan segera kembali." ucap salah satu pelayan dengan terburu-buru dan berbalik arah pergi meninggalkan Arabella dan pelayan lainnya berdua.


"Hmm, Nona izinkan saya membantu Nona merapikan diri." ucap pelayan lainnya dengan sopan sambil berjalan mendekati Arabella.

__ADS_1


Arabella yang kesulitan bergerak dan berbicara memilih pasrah dan menurut dengan apa yang dilakukan pelayan tersebut padanya.


Beberapa menit kemudian, Dimas yang sedang istirahat segera pergi menemui Arabella setelah mendengar Arabella memanggilnya dengan diikuti seorang pelayan.


"Aku harus segera menemui Arabella. Aku khawatir ada sesuatu hal buruk yang terjadi." ucap Dimas dalam hati dengan perasaan yang gelisah.


Dimas yang berjalan dengan langkah besar akhirnya berada di dalam kamar Arabella dengan wajah cemas dan khawatir yang tidak bisa dijelaskan dengan kata.


Dimas pun berjalan menemui Arabella yang sedang terbaring di tempat tidurnya sambil tersenyum pahit membuat hati kecil Dimas menjadi sakit.


"Tap! Tap! Tap!" langkah kaki.


"Ada apa? Kenapa kau memanggilku? Apa kau merasakan sakit? Sakit dimana?" tanya Dimas berulang kali dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Bisakah kau bertanya satu-satu dan wajahmu terlalu dekat." ucap Arabella sambil tersenyum lembut ke arah Dimas yang langsung malu dan mundur beberapa langkah ke belakang.


"Aku merasa..." ucap Arabella yang terhenti saat melihat banyak orang yang ada di dalam kamarnya.


Dimas yang menyadari jika Arabella tak akan dapat mengatakan apapun padanya jika masih banyak orang di dalam kamarnya sehingga Dimas pun memberikan kode agar semuanya pergi dengan mengangkat salah satu tangannya ke atas.


Dalam waktu menit dua orang pelayan itu pun pergi dan hanya menyisakan Dimas dan Arabella saja di dalam kamar itu.


"Sekarang kita hanya berdua, bisakah kau katakan ada apa? Aku sangat khawatir." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius sambil duduk di samping Arabella.


"Aku kesulitan untuk menggerakkan beberapa bagian tubuhku terutama kaki. Saat aku bangun tidur, semua bagian tubuhku terasa mati rasa dan tak bisa digerakkan bahkan berbicara pun terasa sulit tapi setelah aku coba akhirnya dapat berbicara meski terbata-bata hingga lancar kembali. Aku tidak tau apa yang terjadi dan tidak berani mengatakan pada siapapun." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih dan malu sambil memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.


"Apa? Jangan-jangan karena kejadian kemarin dan ini adalah efek samping dari Obat Perangsang!" ucap Dimas dalam hati sambil memasang senyum dan mencoba menenangkan Arabella yang kebingungan.


"Jangan khawatir. Aku akan memanggil dokter dan dia akan segera memeriksamu. Kau pasti akan baik-baik saja." ucap Dimas sambil tersenyum lembut dan membelai rambut Arabella dengan penuh kasih sayang.


#Bersambung#

__ADS_1


__ADS_2