CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 104. Arabella sadar


__ADS_3

Dimas yang merasa seluruh tubuhnya sudah sangat lengket karena tidak mandi semalaman pun segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


“Aku harus segera mandi. Sepertinya aku sudah sangat bau.” Ucap Dimas sambil menciumi aroma tubuhnya yang sudah tidak karuan lalu melepaskan pakaiannya satu persatu dan hanya memakai selembar handuk berwarna hitam.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.


“Klak!” suara pintu tertutup.


“Byur!” suara air.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Dimas pun melepaskan handuknya lalu berendam di dalam bathup selama beberapa menit.


“Hah! Akhirnya bisa bersantai.” Ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang lega dan sedikit rileks.


Namun saat Dimas sedang mandi, Arabella yang mendengar suara percikan air yang ada di dalam kamar mandi pun terbangun dan memanggil Ria tapi tidak ada panggilan lalu beberapa detik kemudian Arabella pun tersadar dengan apa yang terjadi padanya.


“Ria! Ria!” panggil Arabella sambil bermanja-manja di atas tempat tidurnya dengan mata yang masih setengah terpejam.


“Plak!” menepuk jidat.


“Ya Tuhan, aku hampir lupa dengan apa yang terjadi padaku.” Gumam Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung.


Arabella yang mendengar ada seseorang yang sedang mandi pun membuat Arabella menjadi bingung lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu tapi tidak mendapatkan jawaban apapun.


“Aku seperti merasa semalam Dimas datang menyelamatkanku dan memukul orang-orang jahat itu lalu membawaku pergi tapi aku tidak tau apakah itu kenyataan atau palsu!” ucap Arabella dengan perasaan yang bingung dan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa penasaran.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.


“Tok! Tok! Tok!” suara ketukan pintu.


Arabella yang penasaran pun mencoba membuka pintu kamar mandi dan sangat terkejutnya dirinya Dimas keluar dari kamar mandi dan akhirnya berdiri tepat di depan Arabella.


“Dimana pakaianku? Kenapa aku hanya memakai kaos pendek satu jari dan celana pendek di atas lutut cukup banyak.” Ucap Arabella yang bingung karena Arabella sama sekali tidak mengingat apa yang terlah terjadi di antara kita.


“Tap! Tap! Tap!” suara langkah kaki.

__ADS_1


“Tok! Tok! Tok!” suara ketukan pintu.


“ Bel, kau sudah bangun?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang senang sambil berjalan keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk lalu memeluk Arabella.


Arabella yang dipeluk Dimas menjadi sangat kaget sehingga tidak tau cara meresponnya beberapa menit lalu menendang Dimas hingga Dimas terjatuh di samping tempat tidur.


“Brak!” suara pukulan.


“Aduh, Bel apa kau ingin menjadi Jodi (Jomblo ditinggal mati)!” ucap Dimas yang terduduk di lantai dengan ekspresi wajah kesakitan sambil melihat ke arah Arabella.


“Salah sendiri kenapa hanya memakai handuk saat berada di luar kamar mandi padahal kau tau ada aku disini?” tanya Arabella yang kesal dan tidak terima Dimas yang memarahinya dengan dua tangan di letakkan di dada.


“Tidak ada tempat lain lagi selain kamar ini. Ini bukan Kediaman Arthama Jaya tapi Apartemen Pribadiku jadi kita bisa melakukan apapun tanpa merasa takut akan omongan orang lain.” Ucap Dimas yang bangun dan duduk


di atas tempat tidur.


“Apakah ini keberuntungan atau godaan? Kenapa harus saat seperti ini? Lalu, pa dia tidak tau jika dia seperti ini aku pasti akan tergoda?” ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal dengan wajah yang telah berubah warna menjadi putih dan pucat karena kelelahan.


Dimas yang tidak ingin berdebat pagi-pagi pun memilih mengabaikan Arabella dan keluar menuju Ruang Makan.


“Mandi dan keluarlah. Kau pasti penasaran dengan apa yang terjadi di semalam!” ucap Dimas dengan nada sedikit memerintah. Arabella yang tidak punya pilihan pun menurut.


“I-ini aroma tubuh Dimas!” gumam Arabella sambil mencium wewangian yang tertinggal di dalam kamar mandi dengan wajah memerah seperti udang rebus.


“Kenapa tubuhku seolah sangat menginginkan sentuhan dari Dimas? Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku. Jika aku sudah kehilangan keperawananku, aku pasti sudah merasakan sakit dan perih di bagian ******** dan aku tidak merasakan sakit apapun.” Ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingun dan sangat penasaran.


Arabella yang tidak ingin larut dalam keinginan dan hasrat yang tidak seharusnya dimiliki pun bergegas membersihkan tubuhnya dan keluar menemui Dimas.


Di dalam Ruang Makan, Dimas sudah menunggu dengan beberapa menu makanan yang telah dihidangkan dengan penuh perhatian hingga akhirnya keduanya pun menghabiskan makanan itu.


Lalu saat Arabella telah selesai makan, Arabella pun langsung menanyakan kejadian yang menimpanya semalam dengan spontan.


“Aku hanya ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap aRabella dengan wajah yang bingung sambil melihat ke arah Dimas dengan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.


“Kau sudah sangat penasaran rupanya. Baiklah aku akan mengatakan apa yang ingin kau ketahui.” Ucap Dimas dengan santai sambil meminum segelas air putih dan meletakkan gelas itu di atas meja lalu menatap mata

__ADS_1


Arabella.


“Pada malam itu, kau terkena obat perangsang dan obat itu sangatlah kuat bahkan dapat membuat orang menjadi kehilangan kendali.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius sambil melihat ke arah Arabella.


“Lalu... Apakah aku...” ucap Arabella yang terputus-putus karena tidak sanggup mengatakan sebuah kata karena merasa sangat malu.


“Tidak! Kau masih perawan dan aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali hanya saja untuk mengobatimu kau harus melakukan pelepasan dan itu pastinya dibantu oleh Pria.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah serius sambil


menatap Arabella dan menunggu reaksinya.


“Benarkah itu? Kau tidak sedang membohongiku, kan?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang cerah seolah mendapatkan kembali apa yang telah lama hilang.


“Tentu saja tidak. Kau pasti sudah merasakannya kan?” tanya Dimas dengan senyum jahil dan berjalan mendekat ke arah Arabella sambil membisikkan sesuatu.


“Aku memang tidak merasakan sakit apapun di bagian kemaluanku dan sepertinya semua yang dikatakan adalah benar adanya..” Ucap Arabella  dalam hati sambil berfikir dengan satu tangan diletakkan di dagunya.


Dimas yang melihat Arabella hanya diam dan tidak berani mengatakan sesuatu pun mulai fokus mengatakan masalah tersangka dari Penculikannya.


“Ehem, kita telah menangkap orang-orang yang sudah mencelakaimu dan...” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang bingung dan sorot mata yang serius sambil melihat ke arah Arabella.


“Dan apa?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang bingung sambil melihat ke arah Dimas.


“Dan mereka telah dikurung di dalam sel tahanan dan akan segera mendapatkan hukuman kebiri karena telah berani menyentuhmu.” Ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal dengan dua tangan yang mengepal erat karena menahan amarah.


“Lalu orang yang menjadi dalang dari penculikanmu kali ini adalah Clara. Jadi apa yang ingin kau lakukan untuk membalasnya?” tanya Dimas sambil melihat ekspresi dan sikap Arabella saat mendengar kata Clara.


Arabella yang sangat marah dan membenci Clara karena telah berulang-ulang kali mencoba mengganggu dan menyakitinya tapi gagal.


“Sial! Wanita itu lagi. Kenapa dia selalu saja ingin sekali menghancurkanku dan ini semua karenamu!” ucap Arabella  sambil menunjuk ke arah Dimas dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang marah.


“Aku? Apa salahku?” tanya Dimas yang tidak mengerti sambil memasang wajah bingung dengan tatapan mata meminta penjelasan.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..

__ADS_1


🥰😊😍😘


Terima kasih


__ADS_2