
Keesokan paginya, Arabella yang tertidur dengan sangat nyenyak akhirnya terbangun dari tidurnya. Arabella yang merasa ada sesuatu yang sedang memegang tangannya segera melihat ke arah tangannya dan ternyata Dimas tidur di sampingnya.
Arabella yang sangat terkejut langsung melepaskan tangannya dan mendorong Dimas dari atas ranjang hingga membuat Dimas terjatuh dari tempat tidur.
Dimas yang tersadar merasa kepalanya sangat pusing dan melihat ke arah Arabella sambil memegang kepalanya yang mulai sakit.
"Ke-kenapa kau ada disini? Kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak padaku, kan?" tanya Arabella lagi sambil menarik selimutya ke tubuhnya seolah sedang melindungi dirinya dari seseorang yang berniat jahat.
"Apa kau lupa dengan yang terjadi semalam?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang kesal sambil berdiri dari tempatnya terjatuh.
"A-apa yang..." ucap Arabella yang terputus setelah seketika mengingat suatu kejadian.
Arabella yang tersadar setelah mengingat perbuatannya yang menggenggam tangan Dimas semalaman dan tidak mengizinkannya pergi dari kamarnya.
"Hah, sepertinya sekarang kau sudah mengingatnya!" jawab Dimas dengan nada sinis dan sorot mata yang tajam dan mengintimidasi.
Arabella yang menyadari kesalahannya segera menundukkan kepala tapi tidak berani mengucapkan kata maaf hingga akhirnya hanya bisa diam setelah mendengar perkataan Dimas.
"Aku tidak akan melakukan apapun untuk saat ini. Tentu saja, sampai ku benar-benar dinyatakan sah sebagai istriku, dan aku harap saat waktunya tiba kau tidak akan menendangku dari ranjang kita di malam pertama kita nanti!" ucap Dimas dengan senyum licik dan nakal di wajahnya sambil berjalan berbalik ke arah pintu kamar.
Arabella yang termenung setelah mendengar perkataan Dimas langsung berteriak "Dasar mesum!" sambil melempar bantal ke arah pintu.
Sementara itu, Dimas yang masih berada di balik pintu kamar hanya tersenyum senang dan suasana hatinya langsung menjadi sangat bagus di pagi itu.
Ria yang melihat Dimas keluar dari dalam kamar langsung mengetuk pintu kamar Arabella dan meminta izin untuk masuk.
"Tok..Tok..Tok.." suara ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Arabella yang masih terduduk di atas tempat tidurnya dengan wajah yang memerah karena malu.
__ADS_1
"Ini saya, Nona." ucap Ria yang masih berdiri dengan patuh di depan pintu kamar Arabella.
"Masuklah." teriak Arabella dengan bantal yang menutupi setengah wajahnya dengan ekspresi yang malu-malu.
Sementara. Ria yang melihat tuannya sudah bisa tersenyum kembali menjadi sangat senang dan tidak ingin mengomentari apapun dan langsung mengerjakan tugasnya untuk menyiapkan air hangat untuk mandian Arabella lalu membantu Arabella bersiap-siap.
Bella yang telah merasakan makan malam yang sangat enak menjadi sangat menantikan menu sarapan paginya, Arabella yang berjalan menuju Ruang Makan berharap tidak bertemu Dimas karena Arabella merasa tidak sanggup untuk melihat Dimas saat ini.
"Semoga Dimas masih ada di dalam ruangannya. Aku tidak ingin bertemu dengannya sekarang." ucap Arabella dalam hati sambil berjalan menyusuri koridor menuju ruang tamu dengan ekspresi wajah yang cemas dan keringat yang mengalir di pipinya.
Namun harapan hanya tinggal harapan ternyata Dimas telah duduk di meja makan terlebih dahulu dan sengaja menunggu kedatangannya.
"Ke-kenapa dia sudah ada disini?" tanya Arabella dalam hati dengan perasaan yang tidak menentu sambil melihat ke arah yang belawanan karena tidak sanggup melihat ke mata Dimas.
Dimas yang melihat Arabella datang untuk sarapan pagi menjadi sangat senang dan tersenyum cerah ke arah Arabella dan hanya dibalas dengan senyum canggung oleh Arabella.
Arabella yang duduk di kursinya melihat makanan di atas mejanya sangat menggugah selera tapi saat melihat situasi saat ini merasa tidak sanggup menelah makanan itu dengan sempurna.
Dimas yang melihat Arabella yang ragu-ragu menyentuh makanannya menjadi tidak senang dan langsung bertanya tanpa menunda apapun.
"Apakah menunya tidak sesuai seleramu?" tanya Dimas dengan sorot mata yang tajam sambil tersenyum cerah namun pertanyaan itu membuat Pelayan dan Koki yang ada di dalam ruangan itu menjadi sangat tegang.
"Oh, Tuhan! Apakah bonus yang aku dapatkan semalam akan melayang dalam sekejap mata?"
"Nona Muda ..."
Arabella yang merasakan tatapan yang sangat menusuk di punggung belakangnya menjadi sangat terbebani. Arabella sudah sangat sadar jika beberapa Pelayan dan Koki sedang berharap mendapatkan bantuan dari Arabella untuk lepas dari intimidasi Dimas.
"Ini sangat enak! Kau makanlah jua, Dimas!" ucap Arabella sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya sambil tersenyum senang ke arah Dimas.
__ADS_1
Dimas yang melihat Arabella mulai memakan makanannya tidak melanjutkan pembicaraan itu dan langsung fokus menikmati sarapan paginya.
Dimas yang telah selesai sarapan duluan langsung berdiri dan berpamitan kepada Arabella. Arabella yang melihat kepergian Dimas hanya membalas dengan senyum tipis.
"Aku harus segera pergi ke Perusahaan karena ada beberapa hal yang harus aku tangani. Kau makanlah dengan tenang, masalah Clara jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." ucap Dimas dengan tatapan penuh arti dan penuh percaya diri.
"Clara Pricilia!" gumam Arabella setelah kepergian Dimas.
Sementara itu ditempat lain, Clara yang melihat dirinya sedang menjadi pusat perhatian menjadi sangat senang. Clara mendapatkan opini baik masyarakat luas sehingga membuat reputasinya menjadi sangat baik dimata publik.
Manager Clara, Alea, datang ke Apartemen Clara dengan membawa setumpuk dokumen. Clara yang melihat hal itu menjadi sangat bingung.
"Kertas" apa yang sedang kau bawa itu?" tanya Clara dengan ekspresi ingin tau sambil duduk bersandar di kursi pijatnya sambil memainkan kukunya yang baru saja di cat ulang dengan warna hijau tosca.
"Ini semua adalah dokumen kontrak kerjasama dari beberapa perusahan untukmu. Bahkan ada seorang Produser yang menawarimu rekaman suara dan berencana menerbitkanmu menjadi seorang penyanyi."ucap Alea denga penuh antusias sambil menyerahkan beberapa dokumen kepada Clara.
Clara yang tidak suka membaca dan berfikir langsung melempar dokumen itu ke meja yang ada di sebelahnya dengan ekspresi kesal.
"Aku tidak ingin membaca dokumen-dokumen ini. Kau saja yang urus, Lea. Kau pilih pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang banyak dan cocok denganku." ucap Clara dengan acuh tak acuh sambil melempar dokumen ke kursi di sebelahnya.
Alea yang melihat sikap Clara sudah merasa sangat terbiasa dan sudah tidak asing dengan sikap Clara yang seperti ini sehingga Alea hany menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Hah, baiklah kalau begitu." ucap Alea dengan wajah pasrah.
"Ingat Clara kau harus menjaga sikapmu jik berada diluar karena saat ini dirimu sedang menjadi sorotan mata semua orang." ucap Alea yang mencoba mengingatkan Clara.
"Ya, Ya, Ya. Kau tidak perlu menceramahiku. Aku tau apa yang aku lakukan!" ucap Clara yang kesal karena dinasehati yang kemudian bangun dari kursinya menuju dapur untuk mengambil segelas air.
"Apa kau lupa jika aku saat sedang sangat terkenal dan kemanapun aku pergi pasti akan ada orang yang terus memujiku." ucap Clara mengambil segelas air dan kmudian langsung meminum air tersebut.
__ADS_1
#Bersambung#