CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 71. Kekuasaan Clara


__ADS_3

Setelah Acara berakhir semua tamu pun pulang ke rumah masing-masing dan begitu pula dengan Dimas dan Arabella yang kembali ke Kediaman Dimas.


Arabella yang masih malu dengan kejadian di balkon Hotel selalu menghindari tatapan mata dengan Dimas bahkan sesampainya di Rumah, Arabella langsung berlari menuju kamarnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Srak!"


"Syuh!"


Sementara itu di Apartemen Clara, Clara yang telah sampai di Apartemennya segera menghancurkan semua barang yang ada di meja riasnya hingga membuatnya hancur berantakan.


Tak hanya itu saja, Clara yang merasa sangat marah, kesal dan juga malu menghancurkan kamarnya dan semua barang yang ada didekatnya.


Asistennya yang melihat tindakan Clara memilih pergi menjauh dan tidak ingin menasehati ataupun menghentikn Clara karena dirinya tau kalau itu hanya percuma saja dan bisa jadi dirinya akan menjadi objek pelampiasan kemarahan Clara.


"Klang!"


"Brak!"


"Bugh!"


Alea yang sudah bergegas kembali ke Apartemen langsung membuka pintu tapi ternyata dikunci hingga membuat Alea harus mengedor pintu berkali-kali dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Tuk! Tuk! Tuk!"


"Clara buka pintunya!"


"Bibi, buka pintunya! Ini saya Lea!"


Setelah beberapa menit berlalu pintu pun terbuka dengan wajah Asisten yang gelap dan ekspresi wajah yang sangat ketakutan.


Alea yang merasa sangat cemas langsung mencari tau apa yang telah terjadi dan dimana kebaradaan Clara saat ini.


"Klak!" suara pintu terbuka.


"Ah!" gumam Alea saat melihat wajah pucat Asisten Rumah Tangga yang sedang berkeringat sangat banyak.

__ADS_1


"Ada apa? Kemana Clara?" tanya Alea dengan ekspresi wajah yang cemas dan ketakutan dengan sorot mata yang sangat khawatir sambil memegang bahu Asisten Rumah Tangga Clara.


"No-nona... Di-dia..." ucap Asisten Rumah Tangga dengan terbata-bata dengan wajah yang gelap dan keringat yang mengalir deras ke wajahnya sambil melihat ke belakang beberapa kali.


Saat Alea melihat ke arah dimana mata Asisten Rumah Tangga lihat, Alea menjadi sangat terkejut saat melihay keadaan Apartemen yang sangat berantakan dengan banyaknya barang-barang yang hancur.


"Ah!" teriak Alea dengan wajah yang gelap dan ekspresi wajah terkejut sambil meletakkan kedua tangannya di mulut dengan mata yang terbuka lebar serta keringat yang mengalir di dahinya.


"Apakah ini semua ...?" tanya Alea yang tidak berani melanjutkan sambil menunjuk ke barang-barang yang telah hancur sambil melihat ke arah Asisten Rumah Tangga.


Asisten Rumah Tangga itu yang mengerti dengan apa yang dimaksud Alea pun hanya menjawab dengan anggukan lemah sehingga membuat wajah Alea semakin gelap dan ketakutan hingga membuat tangannya bergetar.


Di saat yang sama, Clara yang berada di dalam kamar mendengar kedatangan Alea langsung mengangkat wajahnya lalu berdiri dan berjalan keluar menuju Alea yang sedang ada di ruang tamu.


"Tap! Tap! Tap!" suara langkah Clara.


Alea dan Asisten Rumah Tangga yang mendengar ada suara langkah kaki pun menoleh ke sumber suara lalu sosok siluet yang sangat dikenal keduanya mulai terlihat dari bayang-bayang keduanya merasakan tekanan udara menjadi semakin turun dan dingin.


"Sepertinya kau sangat menikmati Acara Pertunangan Mantan Kekasihku dan Wanita Kampungan itu hingga kau tidak menyadari aku terus menghubungimu!" sindir Clara dengan ekspresi wajah memerah karena menahan amarah serta rambut dan makeup yang telah berubah menjadi berantakan.


"I-itu... Kau salah paham Clara. A-aku sungguh tidak tau jika kau terus menelponku. Hand-Handphoneku tadi tidak aku deringkan." ucap Alea terbata-bata dengan wajah yang sangat takut dan tubuh yang telah bergetar seiring semakim sempitnya jarak antara dirinya dan Clara.


"Benarkah? Silent?" ucap Clara dengan nada tidak percaya sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang marah.


"Be-benar. Aku bersumpah, aku tidak berbohong." ucap Alea yang langsung mengangkat tangannya seolah sedang bersumpah dengan sorot mata yang redup.


Asisten Rumah Tangga yang menyadari jika situasinya sudah menjadi tidak baik pun berjalan perlahan pergi meninggalkan Clara dan Alea berdua.


Alea yang melihatnya sangat ingin pergi dari tempatnya saat ini tapi kaki Alea tidak dapat digerakkan seolah kakinya sudah tertancap paku dengan sangat dalam sehingga membuatnya harus menerima kenyataan untuk tetap berada disana bersama Clara.


"Bergerak! Ayo bergerak! Ayo bergeraklah kaki!" jerit Alea dalam hati dengan wajah yang takut dan tubuh yang bergetar.


Clara terus berjalan mendekati Alea dan mengabaikan apapun yang dikatakan Alea lalu selangkah demi selangkah Clara berjalan hingga akhirnya dirinya berhenti tepat dua langkah di depan Alea.


Clara yang sudah sangat kesal dan marah pun mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Alea dengan sangat keras hingga membuat Alea menjerit kesakitan dan tak sampai disitu, Clara pun melanjutkan aksinya dengan menampar pipi kiri Alea juga hingga membuat Alea terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Plak! Plak!"


"Kau masih berani berbohong padaku, dasar anak pungut!" teriak Clara dengan nada tinggi dan bola mata yang memerah karena marah.


"A-aku..." ucap Alea yang terbata-bata sambil melihat Clara yang berdiri di depannya dan Alea pun tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi setelah Clara menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


Clara pun berjalan menuju Clara hingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Clara pun membungkukkan tubuhnya lalu memegang dagu Alea dan menariknya maju dengan sangat keras.


"Jangan coba-coba main-main denganku jika tidak anak-anak yatim yang selalu kau beri sumbangan itu yang akan merasakan akibatnya!" ancam Clara sambil menatap wajah Alea dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


Alea yang kaget mendengar apa yang dikatakan Clara langsung memasang wajah masam dan langsung bersujud di kaki Clara sambil menangis dengan sangat keras.


"Ti-tidak! Jangan anak-anak itu. Mereka tidak tau apa-apa. Aku mohon jangan. Aku mohon maaf. Maafkan aku!" ucap Alea dengan air mata yang mengalir dengan sangat deras dan mata yang sayup yang penuh kesedihan serta keringat yang mengalir ke tubuhnya hingga membuat tubuhnya semaki bergetar ketakutan.


Clara yang tidak ingin mendengar ataupun melihat Alea pun menendangnya hingga Alea mundur ke belakang tapi Alea yang tidak ingin melihat anak-anak yatim piatu yang diam-diam ditolongnya menderita memilih untuk mengalah dan menurunkan egonya.


"Aku mohon Clara, jangan sakiti mereka. Aku yang bersalah jadi hukum saja aku!" ucap Alea yang langsung memohon di bawah kaki Clara lagi setelah ditendang cukup keras.


Clara yang sangat marah melihat sikap Alea seperti seekor hewan peliharaan yang telah mendapatkan hukumannya merasa sedikit senang dan suasana hatinya pun perlahan menurun.


"Aku tidak akan menyentuh mereka selagi kau tidak melakukan sesuatu yang membuatku kehilangan kewarasanku!" ucap Clara dengan nada mengancam dengan meletakkan wajahnya ke samping telinga Alea sambil membungkuk lalu mencengkram dan menarik pipi Alea dengan satu tangan.


Alea yang sangat mengerti dengan situasinya yang tidak akan bisa melawan pun menjawab dengan anggukan berkali-kali dengan sangat cepat.


Clara yang merasa ancamannya telah berhasil pun melepaskan cengkramannya dan melemparkan wajah Alea ke samping hingga Alea terjatuh ke lantai.


Clara pun bangun dan berjalan perlahan menuju sofa yang ada di dekatnya dengan senyum kemenangan.


"Aku tidak menyangka jika ancamanku itu berhasil padahal aku tidak tau panti asuhan mana tempatnya selalu mengirim uang." ucap Clara dalam hati sambil tersenyum puas dan duduk di sofa dengan nyaman.


"Ah, sudahlah. Itu tidak penting, yang penting sekarang adalah Alea telah menjadi anjingku yang setia kembali!" ucap Clara dalam hati dengan dua tangan bersilang di dada sambil melihat ke arah Alea yang masih terduduk di lantai dengan sangat menyedihkan.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..

__ADS_1


😊😍😘


Terima kasih


__ADS_2