
Arabella yang tidak tau harus melakukan apa dengan semua berita yang tersebar di dunia maya ingin sekali menemui Dimas dan memberitaunya tapi Arabella tidak ingin mengganggu Dimas yang sedang istirahat.
Ria yang sangat mengerti apa yang sedang difikirkan oleh Arabella pun memberikan sebuah saran yang ternyata sangat membantu Arabella dalam memberikan keputusan.
“Apa Nona ingin memberitau Tuan Muda tentang masalah ini?” tanya Ria yang sedang berdiri merapikan tempat tidur Arabella dengan senyum lembut.
“Ah! A-aku...” ucap Arabella yang terbata-bata dengan ekspresi wajah yang bingung sambil menggigit kukunya.
“Hmmm, Tuan Muda masih belum tidur. Saat ini Tuan Muda sedang ada di Ruang Kerjanya, jadi jika Nona ingin bertemu Tuan Muda mungkin inilah saatnya.” Ucap Ria dengan tersenyum lembut sambil menyerahkan segelas teh untuk menghentikan Arabella mengigit habis kukunya karena cemas.
“Be-benarkah? Ta-tapi... Apakah Dimas mau bertemu denganku? Maksudku, sekarangkan sudah sangat larut...” ucap Arabella yang takut-takut sambil melihat Ria dengan penuh harap sambil memgang cangkir tehnya dengan kedua tangannya.
“Tentu saja Tuan Muda mau bertemu dengan Nona Tuan Muda kan cinta mati dengan Nona.” Jawab Ria dengan senyum percaya diri sambil memukul dadanya memberikan jaminan kepada Arabella yang sedang bimbang.
“Ah! Kalau begitu aku akan mencobanya.” Ucap Arabella dengan senyum lembut yang langsung menyerahkan teh itu kepada Ria dan langsung berdiri merapikan gaum malam dan selimut yang diletakkan di pundaknya.
“Semangat, Nona!” ucap Ria sambil mengangkat satu tangannya ke atas dengan tawa kecil setelah meletakkan gelas teh tersebut itu ke nampan.
Arabella pun berjalan keluar dari kamar menuju Ruang Kerja Dimas dengan perlahan dengan perasaan bimbang.
“Tap! Tap! Tap!”
“Aduh! Apa besok saja ya aku menemui Dimasnya? Aku merasa ini bukan waktu yang tepat?” gumam Arabella yang berhenti di tengah-tengah jalan dengan meletakkan tangannya di dagu seolah sedang berfikir.
Namun tidak disangka, Dimas yang ingin pergi mencari udara segar melihat Arabella sedang berdiri di bawah sinar lampu dan tiba-tiba berbalik arah.
Dimas yang penasaran dengan tujuan Arabella pun memanggil Arabella dan berjalan menemuinya dengan santai dengan memakai kemeja putih yang kancing atasnya terbuka sehingga membuat Dimas terliha sangat menggoda.
“Bel!” panggil Dimas dengan lembut yang kemudian berjalan menuju Arabella.
“Tap! Tap! Tap!”
Arabella yang mendengar ada seseorang yang memanggil namanya langsung berhenti berjalan dan berbalik dan tidak menyangka jika Dimas yang sedang berjalan ke arahnya.
“Apa yang sedang dilakukan Dimas disini? Dan lagi kenapa dia berpakaian seperti itu?” ucap Arabella dalam hati dengan mata yang terbuka lebar dengan wajah yang memerah.
“Aaarrggghhh!” teriakan hati Arabella yang tidak tahan
__ADS_1
dengan pesona Dimas.
Arabella yang melihat Dimas telah berdiri di depannya dengan poster tubuh yang sangat tampan membuat Arabella menjadi sangat malu dan Arabella pun mengingat kembali adegan ciuman panas mereka di Balkon Acara.
“Argh!” gumam Arabella.
Arabella yang sangat malu pun langsung berbalik tubuh dan menutupi wajah yang telah memerah dengan kedua tangannya. Dimas yang melihat tingkah Arabella menjadi sangat bingung.
“Kenapa Arabella membelakangiku?” tanya Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung tapi tetap tampan.
“Ahem! Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Dimas yang langsung memecahkan suasana canggung yang terjadi secara mendadak.
Arabella yang akhirnya menyadari dengan tujuan kedatangannya yang ingin menemui Dimas pun langsung menyadarkan dirinya agar tidak terpengaruh dengan emosi.
“Ah benar! Aku harus menyelesaikan masalah yang telah dibuat Clara!” ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang cerah kembali sambil menepuk-nepuk pipinya beberapa kali yang membuat Dimas cemas.
“A-apa yang kau lakukan?” tanya Dimas yang cemas lalu
menggenggam dua tangan Arabella yang awalnya memukul pipinya sendiri.
“Ah! Aku tidak apa-apa!” jawab Arabella dengan canggung sambil memalingkan wajahnya.
"Ada apa?" tanya Dimas dengan ekspresi bingung sambil mengerutkan dahinya.
"Kita bicarakan ini di ruanganku saja! Ayo!" ajak Dimas sambil merangkul pundak Arabella dengan senyum lembut yang ditunjukkannya kepada Arabella.
Arabella yang tidak punya pilihan pun mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Dimas.
"Tap! Tap! Tap!"
Dimas yang sangat senang karena Arabella dengan senang hati mengikutinya pun menuntun Arabella menuju Ruang Kerjanya dengan merangkul pundaknya.
Sesampainya di depan pintu, Dimas pun membuka pintu dan mempersilahkan Arabella masuk lalu memilih posisi manapun dia ingin duduk dengan santai.
"Klik!"
"Masuklah dan duduklah dimanapun kau mau." ucap Dimas dengan senyum lembut sambil mempersilahkan Arabella masuk.
__ADS_1
Lalu, di saat yang bersamaan Dimas juga memerintahkan Pak Antoni yang ternyata masih terjaga untuk menyiapkan teh hangat untuknya dan Arabella serta beberapa kue rendah lemak agar Arabella tidak marah jika dia menyuguhkan makan ringan itu.
"Pak Antoni, tolong siapkan teh hangat dan juga beberapa kue kering yang rendah lemak karena aku tidak ingin Arabella jatuh sakit karena keadaan malam yang dingin." ucap Dimas dengan nada cemas dan khawatir sambil tersenyum.
"Tentu saja, Tuan Muda." jawab Pak Antoni dengan patuh sambil menundukkan kepalanya sedikit sambil mengeluarkan keringat di dahinya lalu pergi keluar sambil menutup pintu dengan pelan.
Sementara itu, Arabella yang sudah dua kali masuk ke dalam ruang kerja Dimas tidak menemukan apapun yang berbeda dan semuanya terlihat sama.
"Tap! Tap! Tap!"
Namun saat Arabella melihat sebuah sofa yang berada di ujung jendela kaca membuat Arabella mengingat kembali pertama kalinya dia ke Ruang Kerja Dimas dan dalam posisi sedang dipangku bahkan saat itu Dimas mengumumkan akan menjadikannya Tunangannya di depan orang-orang kepercayaannya.
"Hah! Kenapa aku selalu mengingat adegan-adegan yang memalukan bersama Dimas? Apa aku sekarang sudah menjadi wanita yang ... Ah, tidak tidak!" ucap Arabella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali sambil memegang wajahnya dengan kedua tangannya.
Arabella yang merasa sangat panas dengan semua yang ada di otaknya pun membuat wajahnya menjadi merah merona seperti udang rebus. Arabella yang menyadari jika Pak Antoni telah pergi dan hanya tinggal dirinya sendiri di ruangan itu membuatnya menjadi semakin deg-degan.
"Aduh, ayo lah jantung! Kenapa kau sangat tidak bersahabat untuk keadaan seperti ini!" keluh Arabella dalam hati dengan ekspresi sedih.
Arabella yang tidak ingin dikuasai emosi pun memilih duduk di salah satu sofa dan berbicara dengan Dimas langsung ke akar permasalahannya setelah Dimas juga duduk di kursinya tapi tidak disangka justru Arabella menyadari betapa perhatiannya Dimas padanya.
"Tak! Tak! Tak!"
"Sruk!"
"Bisa kau katakan kenapa kau keluar malam-malam begini daripada tidur dengan nyaman di kamarmu?" tanya Dimas yang cemas dengan kondisi Arabella karena Dimas tidak ingin Arabella jatuh sakit karena kelelahan.
"Apa kau marah karena aku berkeliaran di malam hari?" tanya Arabella dengan nada kesal setelah mendengar pertanyaan Dimas.
"Jangan salah paham, aku tidak pernah marah padamu. Aku hanya mencemaskanmu. Aku tidak ingin kau jatuh sakit karena kelelahan dan kurang istirahat." ucap Dimas dengan tenang dengan ekspresi wajah yang melihat ke arah Arabella dengan mata yang khawatir.
"Aku tau jika kau pasti sangat lelah karena harus mempersiapkan semuanya mulai dari dini hari." ucap Dimas lagi dengan nada penuh perhatian.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih