
Anak kecil itu pun tersenyum senang dan mengucapkan kata terima kasih dengan sangat lancar yang membuat Arabella senang tapi di saat bersamaan membuat dua orang Bodyguard menjadi curiga.
"Apakah pembulian dan pemalakan ini hanya settingan?" tanya seorang Bodyguard dalam hati sambil meningkatkan kewaspadaan.
"Ada yang tidak beres dengan anak kecil itu." ucap salah seorang Bodyguard dengan tatapan mata yang serius.
"Kau benar. Jika aku yang ada dalam kondisi seperti itu, aku tidak akan menerima kebaikan orang lain dengan mudah apalagi setelah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Aku pasti akan menjadi waspada." ucap Bodyguard yang lainnya dengan nada bicara yang lantang dan penuh dengan keyakinan.
"Yang kau katakan itu benar tapi sayangnya Nona Arabella dan Pelayan bodoh itu tidak menyadari ada yang salah dalam situasi ini. Wajar saja Tuan Muda meminta kita terus mengikuti keduanya dan terus berjaga." gumam Bodyguard dengan eskpresi wajah yang waspada.
"Nona Arabella sangat naif!" ucap Bodyguard sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan eskpresi wajah yang tak dapat dijelaskan.
Seperti sebuah firasat yang tidak terbaca, anak itu pun meminta Arabella dan Ria pergi untuk mengantarnya pulang dengan eskpresi wajah polos yang sulit ditolak.
"A-aku baik-baik saja, kak." ucap anak itu dengan terbata-bata dan sorot mata yang bingung sambil sesekali melihat kebarah Arabella dan Ria yang sedang berdiri di depannya.
"Kau pasti sangat takut. Jangan cemas anak itu tidak akan mengganggumu lagi karena Tuan Muda kami akan mengurus anak-anak nakal itu." ucap Ria dengan penuh percaya diri sambil tersenyum lebar.
"Benar. Jangan khawatir, semua sudah baik-baik saja. Siapa namamu, dik?" tany Arabella dengan lembut dan penuh perhatian.
"Namaku Boy." jawab anak itu dengan cepat.
"Kakak cantik apa bisa mengantarku pulang? Aku takut pulang sendiri." ucap anak kecil itu dengan senyum penuh harap dan ekspresi wajah yang sedih.
"Aagghh, anak manis ini memanggilku kakak cantik!" gumam Ria yang senang karena dipuji sambil memegang pipinya dengan senyum cerah.
"Tentu saja kami mau. Benarkan Ria?" tanya Arabella sambil memegang pundak Boy sambil melihat ke arah Ria meminta jawaban.
"Sudah pasti aku mau, Nona. Ayo kita pergi." ucap Ria dengan berani sambil membusungkan dadanya dengan penuh percaya diri.
Ria dan Arabella pun berjalan mengikuti anak kecil yang mereka selamatkan tanpa merasa curiga sedikitpun tapi tidak terduga saat mereka sedang berjalan dengan santai ada dua orang pria bertubuh besar sambil memegang senjata tajam datang menghadang perjalan mereka.
__ADS_1
"Ternyata ini adalah terget kita!" ucap salah seorang preman yang bertubuh besar dengan kepala botak sambil memegang sebuah celurit dengan tawa yang tak bisa dijelaskan.
"Siapa kalian?" teriak Ria dengan sangat lantang dan langsung berlari maju ke depan dengan dua tangan membentang di kiri dan kanan menghadang dua orang preman mendekati Arabella dan anak kecil dengan penuh percaya diri.
"Hahaha..." tawa dua orang preman dengan sangat keras saat mendengar pertanyaan Ria dan melihat sikap Ria dengan sorot mata yang penuh dengan fikiran kotor.
"Sepertinya ini adalah keberuntungan kita!" ucap salah satu preman itu sambil mengeluarkan lidahnya dengan eskpresi wajah bahagia.
"A-apa maksudnya?" tanya Arabella yang bingung dan juga takut sambil memeluk erat anak kecil yang ada didekatnya.
"Nona jangan takut. Bukankah Tuan Muda sudah mengutus dua orang Bodyguard untuk menjaga Nona. Aku yakin mereka pasti ada disini sekarang." ucap Ria seolah memberikan penenangan pada Arabella tapi nyatanya dirinya sendiri tidak bisa tenang dengan eskpresi wajah yang cemas dan khawatir dengan suara bergetar sambil melihat ke sekeliling dengan tatapan takut.
"Kau benar Ria tapi dimana mereka? Kenapa masih belum muncul?" tanya Arabella yang bingung dengan wajah yang takut dengan keringat mengalir di pipinya sambil berjalan mundur seiring majunya kedua preman itu.
Di saat Arabella dan Ria sedang merasa takut dan khawatir, kedua Bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga dan melindungi Arabella hanya duduk santai di atas pohon sambil melihat keduanya dengan tatapan sinis.
"Apakah kita tidak turun sekarang?" tanya salah satu Bodyguard yang sedang duduk di atas dahan sambil mengamati situasi di bawah.
"Tentu saja aku mau tapi jika Tuan Muda tau maka kita akan dalam masalah." ucap Bodyguard dengan ekspresi takut dan tubuh merinding saat membayangkan bagaimana jika Dimas marah.
"Tuan Muda tidak akan tau karena Nona Muda kita itu tidak akan berani untuk mengatakan apapun pada Tuan Muda." ucap Bodyguard yang lain dengan penuh percaya diri dengan senyum bahagia saat melihat wajah ketakutan di wajah cantik Arabella.
"Baiklah. Kita akan turun jika kondisi semakin buruk." ucap Bodyguard yang akhirnya setuju dengan saran rekannya.
"Tentu saja." jawab Bodyguard itu dengan cepat tanpa pertimbangan lagi sambil menikmti pertunjukan.
Sementara itu, Preman yang melihat anak kecil yang sedang berpura-pura takut tersenyum diam-diam dalam perlindungan Arabella tidak tahan untuk memberi tu kenyataannya.
"Apa kau tidak ingin bayaranmu, Boy?" tanya salah seorang preman yang memakai brewok tebal sambil memegang kapak di tangan kanannya dengan senyum bahagia.
Setelah pernyataan itu, sontak keduanya pun terkejut dan Ria langsung berlari mendekati Arabella lalu menjauhkannya dari anak kecil itu.
__ADS_1
"Kenapa kau membuka topengku pak tua? Aku sedang menikmati peranku ini." ucap Boy dengan senyum bahagia sambil melirik ke arah Ria dan Arabella.
"Ka-kau rombongan mereka?" tanya Arabella yang terkejut dengan terbata-bata sambil menutupi mulutnya dengan mata dan mulut terbuk.
"Apa aku harus mengatakannya dengan jelas Kakak cantik baru setelah itu kakak-kakak cantikku ini menyadarinya?" ucap Boy dengan tawa bahagia sambil berjalan ke arah Bodyguard dengan santai mengabaikan tatapan kebingungan Arabella dan Ria.
"Ini bayaranmu!" ucap salah seorang preman sambil mengeluarkan uang tiga lembar seratus ribu dari dalam celananya yang langsung diterima dengan senang hati.
Anak laki-laki itu pun segera pergi setelah mendapaykan bayarannya dan meninggalkan Arabella dan Ria yang masih berdiri di tempat.
"Nona, kau harus pergi dari sini. Sepertinya kedua Bodyguard bodoh itu tidak akan bergerak dan hanya akan menonton. Jadi Nona harus bisa kabur ke keramaian dan mencari pertolongan. Aku akan menghalangi mereka!" ucap Ria dengan ekspresi wajah yang serius tanpa melihat Arabella yang sedang berdiri di belakangnya sambil memegang sebatang ranting pohon dengan kedua tangannya.
"Ta-tapi aku tidak bisa meninggalkanmu disini!" ucap Arabella yang takut dalam dilema dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Tidak ada kata tapi. Nona harus menurut padaku. Target mereka adalah Nona dan bukan saya jadi mereka tidak akan melakukan apapun padaku, Nona. Jadi saya mohon percayalah." ucap Ria dengan berani dengan sorot mata yang tajam.
"Baiklah. Kau harus baik-baik saja. Aku akan segera kembali membawa orang yang akan membantu kita." ucap Arabella dengan keteguhan hati sambil berjalan mundur dan berlari meninggalkan Ria sendiri.
"Nona kau harus selamat karena keselamatanmu adalah yang terpenting." ucap Ria dalam hati dengan kesungguhan sambil menatap serius kedua lawannya.
"Aku akan mengejar tikus yang kabur. Kau urus tikus yang sok jadi pahlawan kesiangan ini." ucap salah seorang preman dengan senyum sinis dengan tatapan merendahkan.
"Tidak akan aku biarkan siapapun lewat!"teriak Ria dengan sangat keras sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Jika terjadi sesuatu padaku dan Nona selamat, Tuan Muda pasti akan menjamin kehidupan orangtua da adik-adikku jadi tidak akan ada penyesalan dalam hidupku ini!" ucap Ria dalam hati dengan sorot mata yang tajam dan keteguhan hati.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
__ADS_1
Terima kasih