
Edo yang mendapatkan perintah baru dari Dimas langsung merasa bangga karena dirinya telah melakukan tugasnya sebelum Dimas memberi perintah.
"Siti sudah di tangkap, Tuan Muda. Saat ini dia telah disekap dan berada di Ruang Bawah Tanah Rahasia di Kediaman Arthama Jaya." ucap Edo dengan penuh percaya diri.
Dimas yang mendengar bawahannya telah melakukan semuanya tanpa diperintah membuatnya menjadi sangat senang.
"Sepertinya Edo sudah mulai terbiasa dengan ritme cara kerjaku dan tidak perlu aku memberi taunya satu per satu lagi sekarang." ucap Dimas dalam hati dengan wajah tanpa ekspresi dengan dua tangan ada di dalam saku celananya.
"Bagus. Biarkan dia kelaparan dan kehausan dan jgan berikan apapun padanya!" perintah Dimas yang dengan nada tegas yang kemudian kembali ke kursinya.
Edo yang telah selesai dengan urusannya segera pergi dari ruangan Dimas dan melanjutkan pekerjaannya dan begitu pula Dimas.
Waktu berjalan dengan cepat hingga waktu telah menunjukkan matahari telah berada tepat di puncaknya.
Dimas yang telah selesai dengan pekerjaannya memanggil Edo dan memerintahkannya untuk bersiap karena mereka akan segera menemui Mata-mata.
"Pip...!" suara pesan.
"Segera ke ruaganku sekarang!" perintah Dimas dengan nada yang tegas dan sikap yang angkuh.
Dalam waktu kurang dari 5 menit, Edo telah sampai di depan ruangan Dimas dan meminta izin untuk masuk.
"Tok...Tok...Tok...!" suara pintu di ketuk
"Masuk!" ucap Dimas dengan nada sedikit memerintah.
Edo pun segera masuk ke dalam dan sebelum sampai di depan meja kerja Dimas, Dimas langsung memerintah Edo untuk segera bersiap.
"Kita pergi sekarang temui Penghianat itu!" ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang gelap sambil tersenyum yang kemudian langsung berjalan ke arah pintu.
Edo yang mengerti apa yang harus dilakukannya langsung membuka dan menutup pintu ruangan dan segera menghubungi supir untuk segera bersiap.
"Wush!"
Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.
"Klik!"
"Tak!"
"Kringgg... Kring!" suara bunyi telepon.
"Segera siapkan mobil! Kita akan segera pergi!" ucap Edo sambil menelpon supir dengan ekspresi wajah lelah dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
"Tap! Tap!" suara langkah kaki.
Dalam waktu singkat keduanya telah sampai di bawah. Dimas langsung duduk di kursi belakang sementara Edo duduk di kursi depan di samping supir.
__ADS_1
Keduanya bersama seorang supir pun bergerak dengan sangat cepat hingga telah berada di halaman Kediaman Arthama Jaya.
Dimas yang sampau langsung turun diikuti Edo dibelakangnya dan mereka berjalan lewat jalur belakang karena tidak ingin Arabella mengetahui kepulangannya.
"Klak!"
"Tak!"
"Tap! Tap! Tap!"
Dimas pun berjalan melalui tangga rahasia dan menyusuri lorong yang gelap dengan hanya di terangi oleh lampu-lampu minyak. Tempat itu sangat lah dingin dan gelap bahkan dindingnya banyak dipenuhi lumut.
Hingga akhirnya Dimas dan Edo berada di ujung lorong dan menemukan sebuah pintu yang tertutup rapat dengan gembok.
Edo yang mengerti tugasnya langsung membuka pintu tersebut dan membiarkan Dimas datang lebih dulu.
"Klik!"
"Shut!"
"Tap! Tap!"
Dimas yang melihat seorang wanita yang memakai pakaian pelayan yang bekerja di Kediamannya sedang duduk terikat dan tak sadarkan diri.
"Jadi, ini orangnya?" tanya Dimas sambil melihat ke arah Siti dengan sorot mata yang tajam dan dengan dua tangan berada di saku celananya.
Dimas yang melihat ada satu gelas air yang ada di sampingnya langsung mengambilnya dan menyiramkan air itu ke wajah Siti sontak hal itu membuat Siti yang tak sadarkan diri langsung berteriak dan marah.
"Srak!"
"Klik!"
"Shuuuurrrr!" suara guyuran air.
"Hei! Kenapa menyiramiku air? Hah!" teriak Siti yang masih belum pulih sepenuhnya dengan wajah bingung.
Namun, setelah sadar akhirnya Siti menyadari siapa Pria yang sedang berada di depannya.
"Tu-Tuan Muda!" ucap Siti dengan ekspresi wajah yang gelap dan cemas dan dengan air keringat yang mengalir di seluruh tubuhnya.
Edo yang sangat memahami situasinya langsung mengambil gelas yang telah kosong dan membiarkan Dimas melakukan apapun serta bersiap menerima perintah apapun.
Siti yang merasa jika tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan langsung melihat ke tempat dirinya berada dan akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi padanya.
"Say-saya mohon. Tuan Muda ampuni hamba. Saya mohon Tuan Muda." ucap Siti sambil menangis dengan ekspresi wajah yang takut dan cemas dengan dua tangan terikat ke belakang kursi serta kaki yang terikat dengan tali tambang dengan sangat keras.
"Ampun! Kata-kata itu tidak pantas kau ucapkan! Siapapun yang berani menyentuh wanitaku harus mendapatkan balasannya!" ucap Dimas sambil dengan satu tangan berada di saku.
__ADS_1
Dimas yang tidak ingin tinggal di dalam sana lebih lama lagi pun berbalik arah dan meninggalkan Siti di dalam sendiri.
"Tuan Muda! Saya mohon ampuni saya! Saya mohon!" teriak Siti berkali-kali meskipun tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Diam!" teriak Edo yang sudah mulai kesal dengan sikap Siti yang sangat mengganggu.
Sementara Edo yang melihat Dimas pergi langsung menutup mulut Siti dengan kain dan memukul pundaknya hingga membuat Siti menjadi pingsan kembali.
"Wanita ini, harusnya tidak diberi kesempatan berbicara karena sekali dia bicara maka tak akan pernah ada kata berhenti sama sekali!" ucap Edo dalam hati sambil berjalan ke arah Siti.
"Srak! Sruk!"
Hm,Hm, Hm! ucap Siti karena mulutnya telah dipenuhi dengan kaos kaki yang telah dimasukkan oleh Edo.
"Bugh!" suara pukulan.
Dimas yang telah keluar dari Ruangan Rahasia itu langsung ke ruang kerjanya dan Edo yang tertinggal langsung berlari mengejar Dimas yang telah pergi meninggalkannya lebih dulu.
"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.
Tak butuh waktu lama, Dimas pun telah berada di dalm ruang kerjanya dengan Edo yang telah berdiri di depannya.
Dimas yang marah karena mengetahui siapa orang yang telah mencelakai Arabella tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Gunakan cara apa saja! Cari tau apa saja yang pernah dikatakan Pelayan itu kepada Clara!" perintah Dimas dengan nada tegap dan penuh percaya diri dengan wajah gelap dan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
"Apakah saya boleh menggunakan cara kasar, Tuan Muda?" tanya Edo dengan nada yang penuh rasa ingin tau dengan senyum sinis di wajahnya.
"Lakukan apapun! Asalkan itu dapat mengorek semua informasi darinya!" ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang gelap dan marah yang terlihat jelas.
"Lalu, sebarkan beberapa bukti foto tentang perselingkuhan Clara dan Heru. Jangan lupa blur wajah prianya, dan jangan sampai ada yang tau jika kita yang malakukan semuanya." ucap Dimas lagi sambil berbalik dan melihat keluar jendela dimana Arabella sedang berjalan-jalan di Taman Bunga.
"Segera laksanakan, Tuan Muda." ucap Edo sambil menundukkan kepalanya dengan keringat yang mengalir di dahinya dengan ekspresi wajah tanpa ekspresi.
Setelah selesai dengan urusannya, Edo pun keluar untuk langsung melaksanakan tugasnya, dan Dimas yang masih berada di dalam ruang kerjanya terus menatap Arabella dari kejauhan.
"Aku akan melindungi senyuman itu! Tak akan aku biarkan senyuman itu menghilang walau hanya sebentar!" ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang senduh.
Sementara itu, media sosial yang sudah dipenuhi dengan berita tentang cinta segitiga antara Clara, sang artis papan atas, Dimas Arthama Jaya, Penerus Perusahaan terbesar di Indonesia, dan Arabella yang merupakan wanita biasa berubah menjadi sangat panas.
Clara yang sedang istirahat pun duduk dengan santai dengan senyum cerah di wajahnya di sudut ruangan dengan kipas angin yang menyala mengarah ke arahnya sambil memegang segelas jus jeruk di tangan kanan dan handphone di tangan kirinya tiba-tiba menjadi sangat marah saat melihat handphonenya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" teriak Clara dengan ekspresi wajah yang marah dengan kerutan di dahi terlihat dengan sangat jelas sambil memegang handohone di tangannya.
"Bugh!" suara handphone yang pecah.
#Bersambung#
__ADS_1