
Dimas pun mengajak Arabella untuk duduk di kursi yang ada di tengah taman. Kursi tersebut telah dipasang atas transparan jadi tidak akan merasakan panas ataupun hujan tapi tetap bisa menikmati suasana dan pemandangan yang ada.
"Sruk!"
"Tap!"
"Krek!"
"Aku ingin meminta maaf untuk semua yang terjadi padamu. Kau mengalami semua ini karena masa laluku bersama Clara..." ucap Dimas yang terpotong sambil melihay ke arah Arabella dengan mata yang senduh dengan satu tangan ada di dalam saku celananya.
"Tidak!" teriak Arabella yang langsung menutup mulut Dimas dengan kedua tangannya sambil melihat ke mata Dimas dan hal itu membuat Dimas menjadi sangat terkejut hingga membuat mata Dimas melotot.
"A-aku yang salah. Maafkan aku!" ucap Arabella yang o
perlahan menarik tangannya yang sedang ada di mulut Dimas.
Dimas yang melihat apa yang dilakukan Arabella pun langsung mengambil tangan Arabella hingga membuat Arabella menjadi terkejut.
"Srak!"
"Ini semua bukan salahmu. Kau tidak salah apapun. Aku yang bersalah dalam hal ini. Kau terlibat karena aku yang memintamu untuk bertunangan denganku bahkan aku memaksamu untuk menerima cintaku tanpa mendengar apa yang kau inginkan!" ucap Dimas dengan nada dan senyum yang lembut sambil menggenggam tangan Arabella dengan sangat kuat.
"Aku akan membatalkan rencana pertunangan kita dan aku juga tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Aku akan tetap membantumu membalaskan dendam kedua orang tuamu karena itu adalah janjiku!" ucap Dimas sambil tersenyum melihat ke arah Arabella.
Arabella yang mendengar apa yang dikatakan Dimas merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya.
"Kenapa dadaku rasanya sakit sekali?" tanya Arabella dalam hati dengan ekspresi terkejut.
Arabella pun tanpa sadar mengeluarkan air mata yang sontak membuat Dimas terkejut dan bingung.
"Huuh!"
__ADS_1
"Jangan menangis. A-Aku minta maaf. Ku mohon jangan menangis." ucap Dimas dengan ekspresi terkejut dan bingung dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
"Kau jahat! Kenapa kau ingin membatalkan Pertunangan kita? Apa kau marah karena sikapku semalam?" tanya Arabella yang pura-pura menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ti-Tidak! Sungguh, aku tidak marah padamu. A-Aku hanya..." ucap Dimas yang terputus karena tidak tau harus mengatakan apa lagi sambil melihat ke arah sebaliknya dan menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah yang bingung serta keringat uang mengalir ke dahinya.
"Huuh! Huuh!" tangis pura-pura Arabella.
"Baiklah, baiklah! Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan itu lagi. Jadi kumohon berhentilah menangis. Sungguh hatiku sakit melihatmu seperti ini." ucap Dimas dengan wajah yang gusar dan tak tenang serta sorot mata yang penuh dengan kasih sayang.
Arabella yang mendengar apa yang dikatakan Dimas langsung berhenti menangis dan memberikan ekspresi wajah yang polos sehingga membuat Dimas tidak berdaya.
Dimas pun langsung menarik Arabella mendekat ke arahnya dan memeluk Arabella dengan sangat keras.
"Maafkan aku! Aku mohon jangan pernah menangis. Aku rela mengikutimu sampai ke kehidupan keberapapun hanya untuk membuatmu selalu bahagia dan tersenyum. Kau akan selalu menjadi wanitaku sampai kapan pun baik di kehidupan yang lalu, sekarang dan masa depan.
"Maafkan aku Dimas. Aku tidak bermaksud membohongimu hanya saja aku takut dengan cinta yang kau berikan. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku jika aku bukan siapa-siapamu." ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih sambil memeluk balik Dimas.
"Srak!"
"Tuk! Tuk! Tuk!"
"Istirahatlah. Sampai bertemu di waktu makan malam. Aku akan menunggumu di Ruang Makan. Ada yang ingin aku katakan nanti." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang datar namun serius serta dengan sorot mata yang tajam dengan satu tangan di letakkan di saku celana dan tangan lainnya membelai rambut panjang Arabella.
"Hmm!" gumam Arabella.
Dimas pun kembali ke kamarnya dan berendam di dalam Bathupnya. Dimas pun menghela nafas yang kemudian menutup matany dengan lengannya.
"Aku tidak bisa menyembunyikan mengenai Pelayannya, aku harus memberi tau Bella. Aku tidak ingin ada salah paham lagi yang membuat jarak di antara kami." ucap Dimas dalam hati dengan helaan nafas yang panjang.
Sementara itu, Alea yang merupakan Manager Clara merasa sangat pusing dengan bunyi handphonenya yang terus berbunyi karena banyak sekali pihak yang meminta penjelasan mengenai berita yang tersebar.
__ADS_1
"Clara, bagaimana ini? Semuanya terus menghubungi dan mendesakmu untuk melakukan Klarifikasi!" ucap Alea dengan nada panik dan kebingungan dengan keringat yang mengalir dari dahi ke pipinya sambil memegang handphone di tangannya.
"Kau fikirkan sendiri solusinya. Kau adalah Managerku jadi kau harus mengurus semuanya." ucap Clara dengan nada kesal yang kemudian berlari pergi dengan meletakkan kedua tangannya di dada.
Alea yang tidak tau harus melakukan apapun akhirnya terduduk bersandar di sofa sambil memijat pelipisnya yang sakit.
Namun, saat Alea sudah mulai merasa lebih baik, Clara telah keluar dari dalam kamarnya dengan mengganti pakaiannya memakai baju kaos berwarna putih dengan lengan pendek, celana jins berwarna biru, sepatu olahraga berwarna putih serta jam tangan, topi, kacamata dan tak lupa tas kecil yang isinya adalah dompet, handphone serta kunci mobil.
Alea yang melihat Clara yang bersiap untuk pergi keluar sementara banyak sekali wartawan yang datang dan menunggunya di Lobby Apartemen.
"Kau mau kemana? Apa kau lupa jika dibawah banyak sekali wartawan yang datang menunggumu?" tanya Alea yang langsung berdiri menemui Clara dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Aku mau pergi ke Butik untuk memesan Gaun yang akan aku pakai di Acara Penghargaan Internasional. Apa kau lupa jika aku diundang di acara itu?" ucap Clara dengan ekspresi wajah yang tidak bersalah.
"A-apa?" teriak Alea yang terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Clara.
"Apa kau tidak perduli sama sekali dengan berita yang tersebar di luar sana? Kau harusnya tenang di sini hingga berita itu meredah." ucap Alea yang mencoba menghentika Clara untuk keluar sambil menarik satu tangan Clara.
Clara yang kesal karena dihalangi oleh Alea pun menjadi semakin emosi dan marah Clara pun menarik paksa tangannya lalu mendorong Alea kebelakang hingga Alea terjatuh ke lantai menabrak sofa.
"Burgh!" suara tabrakan.
"Argh!" erangan Alea yang merasa sakit
"Jangan ganggu aku! Kau yang harus mengurus masalah kecil ini. Kau adalah Managerku! Ingat itu!" ancam Clara yang langsung berbalik arah dan berjalan menuju pintu dan pergi meninggalkan Alea yang kesakitan.
Alea yang diperlakukan seperti bukan manusia menjadi semakin membenci Clara dan bersumpah akan membalas semua yang dilakukan Clara padanya.
"Kau tidak perduli sama sekali dengan masalah yang kau buat sendiri. Jadi kenapa harus aku sendiri yang perduli? Baiklah, lihat saja bagaimana aku akan membalasmu Clara." ucap Alea dengan eskpresi wajah yang gelap dan marah hingga urat nadi itu terlihat jelas di dahi Alea.
#Bersambung#
__ADS_1