
Arabella yang mendengar semua penjelasan Dimas akhirnya mengerti alasan Dimas selalu mengirim Bodyguard untuk bersamanya kemanapun dirinya pergi.
"Lalu kenapa kau bisa tidak sadarkan diri selama beberapa hari?" tanya Arabella dengan ekspresi wajah penasaran sambil menatap wajah Dimas dengan rasa ingin tau yang tinggi.
"Karena aku menggunakan kekuatanku terlalu berlebiha jadi aku harus membayar harga untuk itu semua." ucap Dimas dengan kata-kata yang jujur dengan tatapan mata lurus ke depan lalu menoleh dan tersenyum ke arah Arabella.
"Jadi saat kau menggunakan kekuatanmu maka kau akan pingsan seperti orang tidur selama berhari-hari seperti itu?" tanya Arabella yang mencoba mengkonfirmasi informasi yang didapatkannya.
"Tidak selalu seperti itu, hanya saat aku menggunakan kekuatanku lebih dari 3 kali sehari maka aku akan menjadi seperti tadi tapi kau jangan khawatir aku pasti akan segera pulih." ucap Dimas mencoba menenangkan Arabella yang melihatnya dengan ekspresi wajah cemas.
"Aku terpaksa menggunakan kekuataku berlebihan semalam karena salah seorang pembunuh itu berhasil melukai tanganku dan aku terkepung sehingga tak memiliki tempat untuk melarikan diri." ucap Dimas lagi dengan senyum jahil mencoba membuat Arabella tersenyum tapi gagal.
"Berhenti tersenyum seperti itu, jangan fikir aku akan melupakan kejadian ini begitu saja. Lalu apa yang terjadi denga pembunuh itu" tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang penuh amarah.
"Tentu saja mereka semua telah mati dan mayatnya telah diurus Edo." ucap Dimas dengan santai tapi malah mendapatkan tatapan sinis dari Arabella.
"Jadi itu sebabnya dari pagi-pagi sekali aku sudah melihat Pak Edo disini." ucap Arabella sambil mengaggukkan kepala tanda mengerti semua yang telah terjadi.
"Apakah Pak Edo juga tau tentang kekuatanmu?" tanya Arabella yang penasaran sambil menatap Dimas.
"Tidak. Dia tidak tau apapun. Hanya kau orang yang aku beri tau." ucap Dimas sambil tersenyum lembut.
Saat suasana telah menjadi nyaman tiba-tiba Edo datang sambil mengetuk pintu kamar berulang kali.
"Tuan muda, kau sudah sadar bukan? Apa aku boleh masuk?" tanya Edo dari balik pintu sambil mengetuk pintu berulang kali.
"Orang ini benar-benar jomblo yang mengenaskan. Apa dia tidak tau jika tidak boleh mengganggu orang yang sedang berduaan?" gumam Dimas dengan ekspresi wajah yang kesal sambil mengepalkan tangannya seolah siap memukul Edo dengan tangannya.
"Jangan seperti itu. Bukalah pintunya. Siapa tau berita itu benar-benar penting. Kau kan sudah berhari-hari tidak mengurusi pekerjaan di kantormu." ucap Arabella sambil tertawa kecil melihat sikap Dimas yang seperti anjing kecil yang mengambek.
__ADS_1
"Hah! Aku Benar-benar tidak bisa melawanmu. Sepertinya setelah kita menikah nanti, aku akan menjadi suami takut istri." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang pasrah.
"Bukan suami takut istri tapi suami sayang istri. Hehehe!" ucap Arabella sambil tertawa kecil.
"Tentu saja. Itu berarti kau telah benar-benar menerimaku dan bersedia menjadi istri kesayangan tuan muda ini." ucap Dimas dengan senyum jahil dan mencium pipi Arabella lalu berlari menuju pintu menemui Edo.
"Dasar! Beraninya dia mencuri ciuman!" ucap Arabella yang kesal tapi senang di dalam hati dengan ekspresi wajah yang tersipu malu.
Edo yang datang menemui Dimas di saat yang tidak tepat langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Dimas sehingga membuat Edo mulai merasa terancam.
"Apa aku salah waktu? Tatapan Tuan Muda seperti Predator yang siap memakan buruannya. Menakutkan!" gumam Edo dalam hati sambil menelan salivanya setelah melihat tatapan mata Dimas yang tidak bersahabat.
"Ehem, Tuan Muda saya mendapatkan informasi tentang Skandal Clara Pricilia." ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius sambil mengubah sebutannya untuk Clara.
"Baiklah. Kita bicarakan di tempat lain." ucap Dimas sambil berjalan keluar bersama Edo lalu menutup pintu.
Dimas dan Edo pun bicara di pinggir pantai yang penuh dengan suara deburan ombak sehingga akan sulit bagi orang lain untuk mendengar perketaan mereka.
"Ini adalah semua informasi yang terjadi selama tiga hari selama Tuan Muda tidak sadarkan diri." ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius.
Edo yang tidak ingin melihat Dimas menatapnya dengan tatapan amarah terus menerus pun memberikan beberapa lembar kertas berita Clara dan juga beberapa video dari beberapa pihak yang bekerjasama dengan Clara.
Dimas yang melihat informasi itu satu per satu pun mengubah ekspresi wajahnya menjadi ceria.
"Bagaimana dengan Perusahaan Keluarga Clara?" tanya Dimas sambil terus melihat berita yang ada di tangannya.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan Muda. Semua investor dan beberapa Perusahaan yang melakukan kerjasama dengan Perusahaan itu telah menarik semua dananya dan membatalkan kerjasamanya." ucap Edo dengan nada penuh dengan arogansi tapi tidak mendapatkan tanggapan buruk dari Dimas.
"Tidak hanya itu Tuan Muda, Kerjasama Besar yang dilakukan Perusahaan itu terakhir kali telah kita hentikan. Semua barang yang akan dikirim ke Perusahaan lain telah kita bajak dengan semua orang yang ada di dalam kapal telah kita ungsikan ke pulau lain." ucap Edo dengan wajah yang serius dan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Apa kau yakin mereka tidak akan kembali dan membuat masalah ke depannya?" tanya Dimas yang mencoba berhati-hati dalam bertindak.
"Saya yakin Tuan Muda karena sebelum mereka semua dibebaskan mereka semua telah memakan obat yang membuat mereka melupakan semua yang terjadi pada hari itu dan jika mereka mencoba mengingatnya maka orang tersebut akan meninggal seperti terkena serangan jantung." ucap Edo dengan penuh percaya diri sambil melihat mata Dimas.
"Bagus! Apa ada berita lainnya?" tanya Dimas yang merasa kurang puas dengan semua informasi yang diberitaukan oleh Edo.
"Perusahaan itu sekarang sedang mengalami krisis keuangan disebabkan karena tidak ada dana dari investor tapi juga dari kerugian yang dialami serta ganti rugi terhadap Perushaaan lain yang melakukan kerjasana besar dengan mereka." ucap Edo dengan nada bicara yang stabil sambil terus berjalan beriringan dengan Dimas.
"Ah, saya juga mendapatkan kabar bahwa Perusahaan milik Keluarga Clara telah menghubungi kita dua hari yang lalu. Mereka meminta untuk bertemu dengan Tuan Muda." ucap Edo dengan ekspresi wajah terkejut seolah mengingat sesuatu yang penting.
"Apa kau sudah mencaritau tujuannya?" tanya Dimas yang berhenti berjalan dan menatap tajam ke arah Edo.
"Clara dan Ibunya ingin meminta bantuan Tuan Muda untuk menyuntikkan dana ke Perusahaan miliknya dan memohon kepada anda untuk menjadi investor baru mereka." ucap Edo dengan penuh keyakinan.
"Hah! Apakah dia fikir aku akan memenuhi semua permintaannya setelah semua yang dilakukannya padaku dan Arabella?" tanya Dimas pada dirinya sambil tertawa mengejek dengan ekspresi wajah seolah mendengar sebuah lelucon yang sangat lucu.
"Apa dia tidak bisa menebak orang yang telah merencanakan semua ini? Apa otaknya masih berfungsi?" tanya Dimas sambil tertawa dengan nada keras dan sangat lepas sehingga membuat Edo yang berdiri di samping Dimas pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya itu juga yang saya fikirkan Tuan Muda. Wanita licik yang dapat memikirkan berbagai macam cara yang jahat untuk menyiksa orang lain bahkan tidak bisa menggunakan otaknya untuk situasi genting." ucap Edo dengan ekspresi wajah yang kecewa sambil menggelengkan kepala berulang kali.
"Apa kau telah membuat janji temu untukku dengan mereka?" tanya Dimas dengan senyum penuh dengan fikiran yang jelek.
"Saya belum menjawabnya karena saya ingin bertanya kepada Tuan Muda terlebih dahulu." ucap Edo sambil menundukkan kepala memberi hormat kepada Dimas.
"Baiklah. Konfirmasi padanya untuk temui aku di Perusahaan lusa pukul 8 pagi." ucap Dimas sambil tersenyum penuh misteri.
#Bersambung#
Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..
__ADS_1
Terima kasih