CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 195. Arabella Dioperasi


__ADS_3

Meskipun Heru marah karena Arabella telah memasukkan obat tidur ke makanannya tapi perasaan yang dimiliki Heru untuk Arabella tidak pernah pudar.


Oleh karena itu, saat Heru ditelepon Bodyguard yang menjaga Arabella bahwa Arabella kabur dan tertabrak mobil seketika dunia Heru runtuh.


Heru menjadi sangat cemas dan khawatir dengan keadaan Arabella sehingga memutuskan untuk segera melihat keadaan Arabella dan saat Heru yang baru saja sampai di Rumah Sakit tempat Arabella dirawat pun melihat Dimas yang juga sedang menunggu Arabella.


“Arabella! Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja?” ucap Heru dengan nada suara yang terdengar sangat panik dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.


Dimas yang telah membenci Heru sesaat setelah Dimas menjadi sangat membenci Heru setelah mengingat kembali penjelasan dari Edo dan Ketua Ma tentang usaha Heru untuk merebut Arabella darinya.


Dimas yang tidak bisa mengendalikan dirinya pun meninju wajah Heru lalu menarik kerah bajunya dan menekan Heru ke dinding.


“Apa yang lakukan disini? Bertanya tentang keadaan Arabella! Hah! Apakah kau punya hak untuk itu? Pergi! Pergi dari sini!” teriak Dimas dengan suara yang sangat keras dengan mata yang terbuka lebar dan penuh dengan amarah.


Heru yang tau jika ini adalah salahnya yang membiarkan Alex mengurung Arabella hingga menyebabkan Arabella mengalami kecelakaan pun pasrah saat dipukuli oleh Dimas.


“Arabella tidak membutuhkan bantuanmu jadi pergilah dari sini!” teriak Dimas yang memukul Heru dengan sangat keras hingga terjatuh ke lantai dan langsung dibantu oleh Mike berdiri.


Namun saat Dimas ingin mengusirnya pergi, Heru menolak karena dirinya merasa bertanggungjawab dengan semua yang terjadi pada Arabella dan ingin menebusnya.


“Aku tau jika aku salah dan aku tidak akan melakukan hal yang sembrono. Aku hanya ingin berdamai demi Arabella. Aku ingin melihat dia baik-baik saja!” ucap Heru dengan nada suara yang memelas dengan tatapan mata yang senduh.


“Tidak ada kata damai untuk kita berdua bahkan semenjak orangtuamu memutuskan untuk mengambil semua yang menjadi milikku! Arabella adalah Tunanganku dan juga Calon Istriku. Aku tidak membutuhkan bantuanmu untuk mengurusi wanitaku!” ucap Dimas yang menegaskan status Arabella kepada Heru yang membuat Heru menggigit bibirnya karena kesal.


Dimas yang tidak ingin melihat Heru pun memanggil Anggota Badan Intelligent Khusus dan menarik paksa Heru keluar dari Rumah Sakit.


“Usir dia keluar dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!” ucap Dimas dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang marah.


“Baik, Tuan Muda!” ucap Pria berbaju hitam dengan suara yang tegas dengan sikap hormat sambil berbalik arah menatap Heru.

__ADS_1


“Maafkan saya, Tuan Muda sebaiknya anda pergi dari sini baik-baik atau saya akan mengusir anda secara paksa!” ucap pria itu dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.


Heru yang tidak punya pilihan lain pun memilih pergi sendiri dan meninggal Arabella yang sedang dilakukan tindakan Operasi.


“Aku pergi bukan berarti aku menyerah. Aku akan tetap mencari tau keberadaanmu, Bel. Semoga kau baik-baik saja!” ucap Heru dalam hati dengan kepala terangkat dengan ekspresi wajah yang dingin dengan Mike berjalan mengikutinya dari belakang.


Semua orang yang ada di Rumah Sakit tidak berani melawan ataupun berkomentar dan hanya bersikap tidak melihat apapun karena mereka telah mengetahui dari atasannya bahawa Rumah Sakit telah berpindah kepemilikan.


Dimas yang sangat mencemaskan Arabella hanya bisa menunggu di luar Ruang Operasi berdoa agar Arabella baik-baik saja dan dapat segera sembuh.


“Kau harus kuat, Bel! Maaf! Maafkan aku! Aku sunggu pria yang tidak berguna yang tidak bisa menjaga dan melindungi wanitanya! Maafkan aku, Bel! Aku mohon jangan tinggalkan aku!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang sedih dengan nada suara yang frustasi.


Waktu pun terus berjalan hingga akhirnya lampu kamar Operasi yang awalnya merah berubah menjadi hijau, Dimas yang selalu senantiasa menunggu Arabella pun berdiri dengan cemas di depan pintu Operasi menunggu Para Tim Dokter keluar.


Satu per satu Dokter pun keluar dari Ruangan dan berdiri di hadapan Dimas tanpa mengucapkan sepatah katapun dan tiba-tiba Arabella yang terbaring di atas tempat ranjang Rumah Sakit pun keluar dari Ruang Operasi dengan berbagai macam alat kesehatan yang terpasang di tubuhnya.


“Tuan Muda, tunggu! Anda tidak boleh mendekat. Nona membutuhkan ruang yang steril demi kesehatannya. Harap Tuan Muda bersabar!” ucap seorang Dokter yang mencoba menenangkan Dimas yang sedang sangat khawatir dengan beberapa Perawat yang memegang tubuh Dimas.


“Tuan Muda, ada yang ingin saya bicarakan. Bisakah anda ikut dengan saya ke Ruangan?” tanya Seorang Dokter dengan ekspresi wajah yang serius.


Dimas yang tidak punya pilihan lain pun menganggukkan kepala dan berjalan ke arah berlawanan mengikuti Tim Dokter yang berjalan di depannya sambil sesekali menoleh ke belakang tempat Arabella dibawa oleh Perawat.


“Tuan Muda, anda tidak perlu khawatir. Operasinya berhasil dan Nona pasti akan baik-baik saja!” ucap salah seorang Dokter wanita dengan senyum yang lembut.


Dimas yang tidak ingin melirik ke wanita manapun pun membuang wajahnya dan berjalan lurus ke depan dan mengabaikan dokter wanita yang mencoba mencuri perhatiannya.


Tak butuh waktu lama, Dimas pun akhirnya sampai di Ruangan Dokter dan satu per satu Dokter masuk dan berbaris di hadapan Dimas.


Dimas yang merasa sedang disidang sangat tidak suka dengan situasi dan keadaannya sehingga Dimas pun mengambil teleponnya dan menghubungi Edo.

__ADS_1


“Kemari sekarang!” panggil Dimas dengan nada suara yang dingin dan ekspresi wajah yang serius serta pandangan lurus ke depan.


Dokter yang ingin menjelaskan mengenai keadaan Arabella tiba-tiba dihentikan oleh Dimas dan tak lama kemudian Edo pun sampai dengan terburu-buru serta nafas yang tidak beraturan.


“Apa yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” tanya Edo yang telah mengatur ekspresi dan sikapnya dengan sempurna sehingga tidak akan ada seorangpun yang bisa mencelanya.


Dimas yang tidak ingin menjawab apapun pun menatap semua Dokter yang berdiri di depannya yang memandang Dimas dengan ekspresi wajah yang bingung.


“Aku tau jika kalian mencari wajah di depanku setelah aku mengusir satu dokter yang menurutku tidak profesional tapi aku tidak membutuhkan kalian semua ada di sini jadi aku hanya ingin bicara dengan Dokter yang memimpin Operasi tadi dan sisanya bisa keluar bersama Edo.” Ucap Dimas dengan nada suara yang tegas dan tangan yang terlipat di dada.


Dokter yang mendengar perkataan Dimas pun saling berpandangan dan bergerak satu per satu meninggalkan ruangan dengan ekspresi wajah yang kesal dan tangan yang terkepal erat hingga akhirnya menyisahkan Dimas dan Dokter Kepala di Ruangan itu.


“Tuan Muda, apakah aku dapat menjelaskan semua yang terjadi pada Nona Arabella pada anda sekarang?” tanya Dokter yang telah berumur itu dengan lembut dan senyum bangga.


“Ya! Katakan semuanya dan jangan ada yang ditutup-tutupi!” ucap Dimas dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.


Dokter yang mendengar perkataan Dimas pun mengatakan semuanya yang diketahuinya tentang kondisi Arabella.


“Operasi kecil yang dilakukan untuk menjadi luka akibat tabrakan pun sudah dijahit tapi tidak bisa terkena air hingga benar-benar kering!” ucap Dokter dengan ekspresi wajah yang serius.


“Nona Arabella juga menderita luka berat pada kedua telapak kakinya karena terus berjalan tanpa alas kaki selama berjam-jam dan tidak hanya itu Nona Arabella juga menderita patah kaki sehingga kakinya harus di Gips dan tidak bisa berjalan selama kurang lebih dua minggu!” ucap Dokter yang melanjutkan penjelasannya.


Dimas yang mendengarkan semua yang dikatakan Dimas pun merasa tubuhnya sangat lemah dan juga berat sehingga membuat Dimas yang sedang duduk di samping Arabella yang masih terbaring di atas ranjang menjadi sangat bersalah.


“Maafkan aku! Aku memiliki kekuatan dan aku sangat tidak berguna karena aku tidak bisa menggunakannya dengan baik untuk melindungimu! Maafkan aku!” ucap Dimas yang terus memegang tangan Arabella yang terpasang selang infus sambil meneteskan air mata penyesalan.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Dimas setelah Arabella sadar kembali? Apakah Arabella akan menceritakan semua yang dialaminya kepada Dimas? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...

__ADS_1


__ADS_2