
Tiga hari berlalu, Dimas yang telah terbaring di Rumah Sakit selama tiga hari penuh pun kembali ke Rumahnya.
Pak Antoni yang melihat Dimas yang tersenyum bahagia saat berbaring di atas tempat tidurnya pun tersenyum senang.
“Tuan Muda sepertinya sangat merindukan rumah!” ucap Pak Antoni dengan senyum yang lembut dan nada suara yang santai.
Dimas yang menyadari sikapnya yang kekanak-kanakan pun langsung duduk dan bersikap dingin kembali dengan ekspresi wajah yang datar.
Pak Antoni yang melihat itu pun tertawa kecil lalu mengubah kembali ekspresi wajahnya kembali profesional dalam pekerjaan.
“Tuan Muda, apakah anda ingin makan malam di kamar atau meja makan?” tanya Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang datar dengan nada suara yang santai.
“Di kamar saja!” jawab Dimas dengan singkat dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang kosong.
Pak Antoni yang mendengar perkataan Dimas pun menganggukkan kepala lalu keluar dari dalam kamar dengan tenang.
“Semenjak Nona Arabella pindah, Tuan Muda tidak pernah lagi makan di ruang makan. Tuan Muda pasti merasa kesepian jika harus makan sendirian di ruangan dan meja yang sangat besar!” ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang sedih.
Dimas yang telah terbaring di tempat tidurnya dalam waktu yang lama merasa sangat gelisah dan tidak bisa tidur.
“Apa yang terjadi padaku? Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku merasa sangat gelisah?” tanya Dimas pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang bingung sambil meletakkan satu lengannya di atas kedua matanya.
“Hah! Tidak! Aku tidak bisa tidur. Aku sudah berusaha tidur selama berjam-jam tapi tidak berhasil. Aku akan membuka laptop dan menyelesaikan beberapa pekerjaan saja lalu saat aku telah merasa lelah. Aku akan segera tidur!” ucap Dimas yang telah terbangun dari tempat tidurnya sambil berjalan menuju meja kerja yang ada di dalam kamarnya.
Dimas yang membuka laptopnya pun mengingat kejadian yang terjadi padanya beberapa waktu lalu saat dirinya harus terbaring di Rumah Sakit selama tiga hari.
Dimas yang tidak mendapatkan informasi apapun mengenai yang terjadi padanya setelah insiden itu pun menghubungi Ketua Ma.
“Apa ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?” tanya Ketua Ma dengan nada suara yang tegas meskipun waktu telah menunjukkan pukul 1 malam.
“Aku ingin laporan penyelidikanmu mengenai kecelakaan yang aku alami!” ucap Dimas dengan pandangan yang tajam menatap keluar jendela kamarnya yang terbuka karena dirinya tidak bisa tidur.
__ADS_1
“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak mendapatkan informasi apapun. Semua jejak yang ditinggalkan oleh Penjahat itu telah menghilang. Seperti ada orang lain yang membantu untuk menghilangkan semua bukti dan jejak!” ucap Ketua Ma dengan nada suara yang bingung.
“Baiklah. Teruskan pencarianmu!” perintah Dimas dengan ekspresi wajah yang berubah dingin mendengar perkataan Ketua Ma.
“Jika tidak ada jejak ataupun bukti yang tersisa di tempat kejadian ataupun ditubuh pembunuh itu maka itu hanya berarti satu hal bahwa kecelakaanku adalah rencana yang telah dibuat oleh seseorang dengan sangat teliti!” ucap Dimas dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.
Waktu pun berlalu dengan cepat, Dimas yang telah memutuskan untuk kembali bekerja pun segera turun ke bawah menuju ke parkiran mobil.
Dimas yang melihat mobilnya telah disiapkan pun segera membuka pintu mobil di kursi belakang sendiri lalu tiba-tiba Pak Antoni datang dengan terburu-buru.
“Tu-tunggu, Tuan Muda!” panggil Pak Antoni dengan suara yang keras sambil sedikit berlari dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
“Ada apa Pak Antoni?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang bingung.
“Maafkan saya, Tuan Muda tapi Supir anda mengalami kecelakaan saat dirinya mau kemari dan saya sedang menyiapkan supir cadangan. Saya harap Tuan Muda mau menunggu dan Supir Pengganti akan segera datang.” Ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.
Tepat setelah Pak Antoni mengatakan hal itu, Supir Pengganti pun datang lalu memberikan salam kepada Dimas.
Dimas yang telah tiga hari tidak pergi ke Perusahaan tidak menyangka jika pekerjaan yang harus diselesaikannya sangatlah banyak.
“Hah! Harusnya aku mencuri waktu untuk mengecek pekerjaan yang ada di Perusahaan. Jika seperti ini aku akan segera jatuh sakit karena kelelahan!” gumam Dimas dengan ekspresi wajah yang sedih dan tatapan mata yang murung.
Dimas yang terlarut dalam pekerjaannya pun memfokuskan dirinya di depan laptopnya dan saat Dimas merasakan mobilnya tida bergerak dalam waktu yang lama pun mengalihkan pandangannya ke depan.
“Kenapa kita berhenti dan tidak bergerak sama sekali?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang datar dan nada suara yang dingin.
“Maafkan saya, Tuan Muda tapi saya tidak tau yang telah terjadi. Saya hanya melihat banyak sekali mobil yang berhenti. Tidak hanya itu bahkan Polisi dan Tentara terlihat di sekitar jalanan.” Ucap Supir dengan ekspresi wajah yang bingung dan tatapan mata yang terus melihat ke kiri dan kanan.
Dimas yang masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya pun mengambil handphonenya dan menghubuhngi Edo.
“Edo, apakah kau sudah ada di Kantor?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.
__ADS_1
“Iya, Tuan Muda.” Ucap Edo dengan singkat dari balik telepon dengan dikerumuni banyak sekali staf yang menunggu instruksinya.
“Aku ingin kau menggantikanku rapat dengan Perusahaan Indah Permata. Jika kita ingin mengembangkan bisnis di bagian Properti. Kita harus bisa membuat Perusahaan tersebut bekerjasama dengan kita!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang lurus ke depan.
“Serahkan semuanya padaku, Tuan Muda! Saya akan melakukannya dengan baik.” Ucap Edo dengan nada suara yang percaya diri dengan ekspresi wajah yang menunjukkan tekad yang kuat.
Dimas yang telah menyelesaikan satu masalah yang ada di depan matanya pun menghubungi Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang kesal.
“Apa perintahmu Tuan Muda?” tanya Ketua Ma dengan ekspresi yang tajam dan wajah yang serius serta nada suara yang tegas.
“Aku terjebak di tengah jalan dan tidak bisa bergerak. Banyak sekali Polisi dan Tentara yang berjaga. Cari tau yang telah terjadi!” perintah Dimas dengan wajah yang dingin.
Sebelum Dimas mendengar jawaban Ketua Ma tiba-tiba kaca mobil Dimas diketuk oleh Polisi dengan sangat keras.
Dimas yang merasa terganggu pun membuka pintu mobilnya tapi tidak mematikan teleponnya dan memasukkan handphonenya ke dalam kantong celananya.
“Selamat Pagi! Apakah anda pemilik mobil ini?” tanya salah seorang Polisi dengan ekspresi wajah yang bersahabat tapi nada suara yang dingin serta tatapan mata yang merendahkan.
“Benar! Ada apa? Apakah telah terjadi sesuatu?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang penasaran.
Polisi yang mendapatkan jawaban yang diinginkannya langsung menangkap Dimas pun mengunci tangan Dimas ke belakang bersama beberapa Polisi lain dan beberapa Anggota Tentara yang berjaga.
Dimas yang tidak terima diperlakukan seperti seorang penjahat tapi dirinya tidak melakukan apapun pun mencoba melakukan protes tapi tidak mendapatkan tanggapan apapun.
Polisi itu hanya fokus memeriksa mobil Dimas dengan sangat teliti bahkan Supir Pengganti yang membawa mobilnya pun ikut ditahan dan menangis ketakutan.
“Tu-tunggu! Ada apa ini? Kenapa anda langsung menangkap saya? Apa salah saya?” tanya Dimas dengan sangat keras.
“Lepaskan aku! Apakah kalian tidak tau siapa aku. Aku bisa menuntut kalian atas pasal tindakan yang kurang menyenangkan!” ucap Dimas yang mencoba mengancam Polisi yang memegang tangannya dengan sangat erat.
#Bersambung#
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Dimas selanjutnya? Apakah Dimas akan bisa bebas dari penangkapan itu? Tebak di kolom komentar ya..