
Tiga bulan berlalu sejak kematian Clara dan kepergian Heru ke Amerika membuat kehidupan Dimas merasakan sedikit ketenangan.
Dimas yang selalu menjalankan kehidupannya yang sibuk seperti biasa tidak pernah lupa untuk selalu menyempatkan waktunya untuk bersama Arabella.
“Bagaimana dengan Bella? Apakah Bisnisnya berjalan lancar?” tanya Dimas dengan nada penasaran sambil tetap fokus dengan puluhan berkas yang memenuhi meja kerjanya.
“Nona Arabella menjalani harinya dengan penuh semangat karena saat ini pesanan untuk jajanan pasar miliknya ternyata sangat diminati &*(.” Ucap Edo dengan ekspresi wajah yang serius sambil duduk di sofa ujung di tempat Dimas biasanya menerima tamu.
“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Aku segera bertemu dengannya jadi batalkan semua janjiku malam ini.” Ucap Dimas dengan tatapan mata yang tajam.
“Baik, Tuan Muda.” Ucap Edo yang langsung mengambil ipadnya dan menghubungi beberapa orang untuk membatalkan janji dengan mereka.
Dimas yang sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dengann Arabella pun memfokuskan dirinya dengan beberapa file pekerjaan yang ada di depan matanya.
Sementara itu, Arabella yang sedang berdiri di dapur di depan puluhan karyawannya pun memasang wajah yang sangat bahagia.
__ADS_1
“Apakah pesanan untuk Pelanggan nomor 117 telah dikirim?” tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang serius sambil melihat ke layar handphonenya sambil menuliskan beberapa catatan di buku Note miliknya.
“Ya, Nona. Saya sudah meletakkan pesanannya di keranjang Kurir nomor 3.” Jawab seorang karyawan wanita dengan ekspresi wajah yang serius.
“Bagus!” ucap Arabella dengan senyum yang bahagia sambil menepukkan tangannya sebagai tanda keberhasilannya.
“Waktunya bersih-bersih semua dan kita akan lanjutkan kembali besok!” ucap Clara dengan wajah yang ceria sambil menatap semua karyawan dengan perasaan bahagia.
Arabella yang menjalankan Bisnis Makanan Ringan dengan penjualan online menggunakan Sosial Media dengan bantuan pemasaran dari Dimas membuat Bisnis Pertama yang dibuat oleh Arabella sangat laris di pasaran.
Di saat Arabella sedang menghitung rekapan pesanan yang ada di hari itu tiba-tiba Ria datang menemuinya dan mengatakan sesuatu yang membuat Arabella langsung menghentikan aktivitasnya.
"Benarkah? Kalau begitu aku serahkan ini padamu." ucap Arabella dengan wajah yang ceria dengan nada suara yang sedikit naik dengan senyum yang lembut.
Arabella yang dapat bertemu Dimas pun merasa sangat senang sambil membawa beberapa makanan bersamanya.
__ADS_1
Sementara itu, Pak Bambang yang merasa semakin hari jika kekuasaannya di Perusahaan Arthama Jaya Group semakin melemah pun melampiaskannya pada Pelayan yang ada di Kediamannya.
"Apakah ini kau sebut minuman?" teriak Pak Bambang dengan ekspresi wajah yang emosi sambil melemparkan satu set cangkir yang berisi kopi panas ke depan Pelayan Muda yang melakukan kesalahan.
"Ma-maafkan saya Tuan! Saya bersalah!" teriak Pelayan tersebut dengan wajah yang ketakutan dengan tubuh yang bergetar yang siap mengeluarkan air matanya kapanpun.
Bu Selena yang menyadari yang terjadi pada suaminya pun mengajukan sesuatu yang membuat Pak Bambang terdiam.
"Kau! Bersihkan ini dan pergi dari sini sekarang!" ucap Bu Selena dengan nada suara yang dingin dan tatapan mata yang merendahkan dengan aura yang mengintimidasi.
"Suamiku! Apa yang terjadi padamu? Tenanglah! Tidak ada gunanya kau terus seperti ini. Kau harusnya tenang dan mencari solusi untuk masalahmu!" ucap Bu Selena dengan senyum lembut sambil berjalan dengan elegan menuju Pak Bambang.
"Mudah jika hanya mengatakannya!" sindir Pak Bambang dengan ekspresi wajah yang sinis dengan sikap yang dingin dan kata-kata yang pedas.
"Apa maksudmu? Aku tentu saja memiliki solusinya!" ucap Bu Selena dengan penuh percaya diri sambil dengan suara yang keras.
__ADS_1
Bu Selena yang tidak ingin Pak Bambang menganggap rendah dirinya pun mengatakan rencananya untuk mengambil alih Perusahaan Arthama Jaya Group dengan senyum jahat layaknya Iblis yang memiliki rencana jahat.
#Bersambung#