
Arabella yang tidak ingin diketahui identitasnya pun menyamar dengan cara mengganti cara berpakaiannya dan dandanannya dengan bantuan Ria.
Setelah selesai berdandan Arabella dan Ria pun pergi ke sebuah Mal yang tanpa disadari oleh Arabella bahwa Mal tesebut telah diakuisisi oleh Dimas karena Dimas tau jika Arabella suka bermain di Mal tersebut.
"Ria! Ayo kita kesana! Sepertinya ada menu baru." ucap Arabella dengan penuh semangat sambil menarik tangan Ria dengan keras.
"Nona pelan-pelan nanti menabrak orang!" ucap Ria yang mencoba memperingatkan Arabella yang ternyata tidak mendengar perkataannya dan untunglah tidak terjadi apapun.
Saat berada di sebuah Tenant yang menjual berbagai macam makanan, Arabella dengan antusias melihat setiap jajanan yang dijual dan memberli semua yang menurutnya enak dan beda.
Di sisi lain, Clara yang telah mengetahui bahwa Dimas telah setuju untuk bertemu dengannya besok hari pun memutuskan untuk pergi ke salon untuk mempercantik diri tapi dilarang oleh Ibunya.
"Clara! Mau kemana kamu?" tanya Ibu Clara dengan suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Aku mau pergi ke salon. Aku ingin terlihat cantik dan fresh saat bertemu Dimas besok agar dia terpesona denganku lagi dan bersedia membantu Keluarga kita." ucap Clara dengan penuh percaya diri sambil berjalan keluar membawa kunci mobil dan tas kecilnya.
"Kau tidak boleh keluar sekarang! Kau panggil saja orang salon itu ke rumah. Apa kau lupa dengan beritamu yang sedang menjadi skandal panas di seluruh dunia saat ini?" ucap Ibu Clara dengan suara yang keras sehingga menyadarkan Clara yang telah terlupakan akan masalahnya sendiri.
Clara yang teringat akan kejadian yang menimpanya hanya bisa pasrah dan berbalik arah dan masuk ke dalam kamarnya.
Ibu Clara yang melihat perubahan sikap putrinya merasa sedih dan khawatir tapi tidak bisa melakukan apapun karena semua telah terjadi.
"Clara! Are you okay?" tanya Ibu Clara dengan suara yang lirih dan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.
"I'm okay. I want alone." ucap Clara dengan suara yang rendah sambil mengurung dirinya di dalam kamar sambil memeluk boneka beruang besar miliknya.
Ibu Clara yang tau jika putrinya masih membutuhkan waktu untuk berdamai dengan hatinya di saat ini pun memutuskan untuk memberi ruang kepada Clara untuk sendiri.
"Okay if you need something just call me, baby!" ucap Ibu Clara dengan nada bicara yang terdengar sangat perhatian dengan ekspresi wajah yang sedih.
__ADS_1
Clara yang tidak ingin melihat siapapun atau mengatakan apapun pun hanya diam duduk di atas tempat tidurnya di depann kaca besar di dalam kamarnya.
"Semua yang aku banggakan sekarang telah hancur! Tidak ada seorangpun yang berada di sisiku saat aku dalam keadaan terpuruk seperti ini bahkan Manager lama dan Manager baruku bekerja sama untuk menjebakku!" ucap Clara dalam hati dengan air mata yang mengalir tanpa henti dari mata Clara yang telah terbaring di tempt tidur.
Clara yang menangis karena rasa sedih dan penyesalan yang berkecambuk di dalam hatinya pun akhirnya tertidur dengan kondisi yang menyedihkan.
Ibu Clara yang cemas akan kondisi Putrinya yang tidak keluar-keluar kamar pun masuk secara diam-diam dan mengecek keadaan Clara dan membantunya mengganti posisi tidur serta memasangkan masker wajah lalu mentimun agar keesokan harinya wajah Clara tidak menjadi kusam.
"Kau bilang ingin membuat Dimas terpukau tapi lihat apa yang kau lakukan sekarang. Aku harus melakukannya sendiri. Clara harus bisa menarik perhatian Dimas lagi agar bisa membantu keuangan Keluarga. Aku tidak mau menjadi gembel dan hidup di jalanan." ucap Ibu Clara dalam hati dengan tangan yang terus bergerak membersihkan wajah Clara.
Sementara itu, Arabella yang telah merasa puas jalan-jalan dan mencicipi semua makanan yang ada di dalam Mal pun memutuskan untuk pulang ke Kediaman Arthama Jaya sambil menunggu kepulangan Dimas dari kantor.
Dimas yang telah selesai meeting masih harus menyelesaikan banyak sekali pekerjaan yang tertunda hingga memutuskan untuk menghentikan waktu.
"Hah! Memiliki kemampuan menghentikan dan memutar waktu adalah hal yang sangat berguna tapi sayang kemampuan ini tidak dapat dipakai terlalu sering." gumam Dimas dengan nada bicara yang kesal sambil terus bergerak menandangi semua dokumen yang ada di depannya.
Waktu yang berjalan sangat lambat bagi Dimas memberika Dimas keuntungan dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu singkat padahal membutuhkan waktu beberapa hari agar dapat menyelesaikan semuanya hingga membuat Edo tercengang.
"Apa maksudmu? Apa kau fikir aku ini hantu?" tanya Dimas dengan nada bicara yang terdengar sarkastik sambil menatap tajam ke arah Edo yang masiih berdiri di depannya.
"Bukan hantu tapi Alien atau mungkin Robot? Bagaimana mungkin Tuan Muda dapat menyeesaikan semuanya dalam waktu yang singkat. Aku bahkan tidak yakin dapat melakukan semuanya dalam waktu satu hari." ucap Edo dengan wajah yang kebingungan sambil menatap tajam Dimas yang duduk di depannya sambil memainkan handphone.
"Aku bukan dirimu yang pemalas. Semua sudah selesiai bukan? Kau urus sisanya, aku mau pulang karena ingin makan malam bersama Arabella dan kau jangan coba-coba mengganggu malam romantisku jika tidak ingin honormu ku potong setengah." ancam Dimas dengan nada suara yang dingin sambil berjalan keluar memakai jasnya.
"Hah! Tuan Muda jika sudah urusan Nona Arabella maka semuanya akan menjadi dunia terbalik. Perasaan saat Tuan Muda masih bersama dengan Nona Clara, Tuan Muda tidak sebucin ini." ucap Edo yang memiringkan kepalanya karena tidak mengerti perubahan sikap Dimas yang sangat drastis.
"Semoga Tuan Muda dan Nona Arabella dapat menemukan kebahagiaannya." ucap Edo yang mendoakan kebahagiaan Dimas dalam hati.
"Hah! Nasibku yang jomblo ini yang perlu bantuan. Ya Tuhan, tolong kirimkanlah aku wanita yang baik hati!" ucap Edo sambil bernyanyi di akhir kalimat.
__ADS_1
Dimas yang telah sampai di Kediaman Arthama Jaya disambut dengan senyum cerah dan bahagia di wajah Arabella membuat mood Dimas menjadi semakin baik.
"Selamat datang. Bagaimana pekerjaanmu? Apakah semua berjalan lancar?" tanya Arabella dengan senyum manis sambil berdiri di depan pintu masuk rumah.
"Apakah aku sedang bermimpi? Aku seperti seorang suami yang sedang disambut istri saat pulang kerja." goda Dimas kepada Arabella yang wajahnya langsung berubah menjadi merah seperti tomat karena malu.
"Apa kau tidak bisa untuk tidak menggodaku sehari saja?" ucap Arabella yang kesal karena selalu digoda oleh Dimas.
"Apakah kau tidak suka aku goda? Kalau begitu aku akan menggoda wanita lain saja." ucap Dimas dengan tampang yang jahil sambil tersenyum manis di hadapan Arabella.
Arabella yang mendengar perkataan Dimas pun menjadi kesal dan mencubit pinggang Dimas hingga Dimas menjerit kesakitan.
"A-a-a-adu-du-du-duh!" teriak Dimas dengan ekspresi wajah kesakitan sambil tersenyum jahil ke arah Arabella yang wajahnya sudah kesal karena rasa cemburu.
"Jangan coba-coba untuk mengambil wanita lain saat aku masih hidup jika tidak maka aku akan pergi dan meninggalkanmu selamanya." ucap Arbella yang telah melepaskan cubitannya sambil membuang wajahnya ke arah lain dengan tangan yang di letakkan bersilang di dada dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi meninggalkanku dan aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi." ucap Dimas dengan terburu-buru sambil memeluk Arabella yang masih kesal padanya.
"Aku berjanji jika aku berani mengambil wanita lain sebagai istri atau simpananku maka aku rela mati tidak diterima langit dan bumi." ucap Dimas sambil mengangkat tiga jari telunjuk, tengah dan manis di hadapan Arabella seperti melakukan sumpah.
Arabella yang mendengar sumpah menyeramkan dari Dimas menjadi takut dan langsung menutup mulut Dimas dengan tangannya dan menurunkan tangan Dimas dengan segera.
"Apa yang kau katakan? Apa kau ingin membuatku menjadi janda sebelum resmi menikah?" ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang kesal sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Dimas.
"Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku kan belum merasakan malam pertama." ucap Dimas dibalik telinga Arabella dengan suara yang rendah.
Arabella yang mendengar pernyataan Dimas menjadi terkejut dan wajah Arabella seketika berubah menjadi merah. Arabella yang malu pun mendorong tubuh Dimas menjauh lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
Dimas yang melihat sikap Arabella yang salah tingkah pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
#Bersambung#