
Dimas yang diam-diam melihat pergerakan Heru dan keluarganya merasa sangat senang saat mengetahui kepergian Heru dari ruang Acara.
Arabella yang melihat ekspresi wajah Dimas yang semakin cerah saat melihat kepergian Heru menjadi bingung dan mencoba mencar tau.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu sangat senang?" tanya Arabella sambil melihat ke arah Dimas dengan mata menyelidik.
"Aku akan memberi taumu nanti saat kita sudah ada di rumah. Sekarang bukan waktu dan tempat yang tepat. Banyak mata dan telinga yang terus mengawasi." ucap Dimas dengan senyum lembut sambil membelai wajah Arabella dengan lembut.
Ucapan Dimas yang penuh dengan makna seketika membuat kewaspadaan Arabella meningkat. Arabella yang terbiasa melakukan sesuatu tanpa berfikir dulu langsung mengerti dengan statusnya sekarang yang merupakan Tunangan Dimas Arthama Jaya.
"Aku bukanlah aku yang dulu. Aku tidak boleh melakukan kesalahan yang akan menjadi beban Dimas nantinya dan akan menjadi penghalang untuk rencana balas dendamku nanti." ucap Arabella dalam hati sambil melihat ke arah bawah dengan ekspresi wajah yang datar.
Dimas yang memiliki urusan lain meminta izin Arabella untuk pergi sebentar. Arabella yang tidak ingin mengganggu kepentingan Dimas pun memilih untuk membiarkan Dimas pergi.
"Aku ada urusan sebentar. Aku akan segera kembali!" ucap Dimas sambil tersenyum melihat ke arah Arabella sambil memeluk pundak Arabella.
"Ya!" jawab Arabella dengan singkat sambil tersenyum lembut melihat ke arah perginya Dimas.
Dimas yang pergi menjauh dari Arabella segera dihampiri Edo. Edo yang datang dengan wajah yang bahagia langsung memberikan laporannya.
"Tuan Muda, semuanya sudah berjalan dengan lancar!" ucap Edo yang sedang berdiri di belakang Dimas dengan senyum bahagia karena telah berhasil melaksanakan tugasnya.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi siapa yang telah mengirim mereka untuk menghancurkan Acara Pertunanganku?" tanya Dimas dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius sambil melihat ke arah Edo dengan dua tangan berada di dalam saku celananya.
"Saya sudah mencari tau tapi tidak menemukan petunjuk apapun sepertinya orang yang ada dibalik semua ini bukanlah orang sembarangan!" jawab Edo dengan ekspres wajah yang serius seolah sedang berfikir sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan keringat yang menetes ke pipinya.
"Tentu saja kau tidak akan menemukan jejak apapun karena orang yang ada di balik semua ini adalah Sepupuku, Heru. Orang yang telah mengambil semua milikku di kehidupan yang lalu!" ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang marah sehingga membuat suasana sekitar menjadi dingin hingga membuat Edo menjadi sangat cemas.
Setelah melaporkan hasil kerjanya, Edo pun pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri di sudut ruangan sambil melihat ke arah Arabella yang sedang berbicara dengan beberapa Wanita Muda.
Dimas yang telah mengulang waktu merasakan efek sampingnya setelah beberapa kali menggunakan Jam Arloji.
"Tubuh ini tidak bisa menggunakan kekuatan ini terlalu sering jika tidak mungkin nyawaku yang akan menjadi taruhannya!" ucap Dimas dalam hati sambil melihat ke arah Jam Arloji yang telah dikeluarkannya dari dalam saku celananya.
__ADS_1
Dimas yang mengingat semua yang terjadi satu jam lalu menjadi sangat marah dan ingin sekali menghajar Heru saat ini juga tapi dia tidak memiliki bukti apapun.
*Flashback*
Dimas yang sedang merasakan kebahagiaan karena lamarannya diterima tiba-tiba menjadi sangat terkejut saat sekelompok orang berjumlah lebih dari dua puluh orang membawa alat pemukul datang menghancurkan Acara.
Orang-orang tersebut menghancurkan gelas dan piring yang berisi makanan yang ada di atas meja tampa ampun hingga membuat semua tamu yang datang ketakutan dan berlari sambil berteriak-teriak.
"Prang!"
"Krak!"
"Brak!"
"Aarrrggghhh!"
"Tolong!"
Tamu undangan yang ketakukan akan menjadi sasaran selanjutnya dari orang-orang itu pun segera pergi dan meninggalkan tempat Acara sehingga membuat Acara Pertunangan Dimas menjadi hancur berantakan.
Dimas dan Edo yang bisa berkelahi segera bergerak menghajar orang-orang itu tapi karena kalah jumlah membuat Dimas dan Edo kewalahan dalam menghadapi orang-orang itu.
Di saat bersamaan, Arabella yang sedang berdiri di ujung sudut bersama Pak Antoni mengalami penyerangan. Ada beberapa orang yang datang dengan membawa Pemukul kayu seperti Pemukul dalam Permainan Baseball menghajar Pak Antoni.
Pak Antoni yang tidak memiliki kemampuan berkelahi yang hebat terpaksa menjadi samsak gratis untuk orang-orang itu sehingga membuat Arabella sendiri tanpa ada yang menjaga.
Dimas yang marah tidak bisa menggunakan akal sehatnya dan langsug berlari ke arah Arabella setelah melihat orang-orang yang menghancurkan Acaranya mencoba membawa Arabella pergi dengan paksa.
"Tidak! Lepaskan aku!" ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang ketakutan dengan dua tangan yang ditarik paksa ke arah pintu keluar.
Dimas yang mencoba mengejar dan menyelamatkan Arabella ternyata di hadang oleh banyak sekali orang-orang yang membawa pemukul dan mulai menghajar Dimas satu per satu.
Dimas yang tidak bisa melawan akhirnya dipukuli oleh orang-orang tersebut hingga akhirnya terjatuh bersamaan dengan Edo dan Pak Antoni sementara Arabella yang tidak mendapatkan pertolongan dibawa pergi orang-orang tersebut.
__ADS_1
Dimas yang dipukuli hingga pingsan akhirnya terbangun setelah berbaring di atas sofa di dalam Ruang Kamar Eksklusif di Hotelnya selama satu jam dengan Edo dan Pak Antoni yang berdiri di sampinya dengan wajah cemas.
Dimas yang sadar langsung duduk dan memegang kepalanya dengan satu tangan karena tiba-tiba merasakan sakit dikepalanya tapi Dimas yang sangat mencemaskan Arabella segera mencari tau tentang keberadaan Arabella.
"Dimana Arabella?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang menahan sakit dengan wajah yang cemas sambil memegang kepalanya sambil bersandar di sofa.
"Nona Arabella di tangkap oleh orang-orang yang mengacaukan Acara, Tuan Muda." ucap Edo dengan ekspres wajah yang bersalah dengan luka lebam di beberapa bagian di wajah dan tubuhnya.
"Saya juga menemukan petunjuk apapun tentang dalang dari semua yang terjadi di Acara Pertunangan Tuan Muda!" ucap Edo dengan sangat menyesal dan ekspresi sedih karena gagal melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Ini bukan salahmu! Seharusnya aku mencari tau apa yang dilakukan musuhku apalagi saat mereka tidak melakukan apapun. Seharusnya aku sudah harus merasa curiga!" ucap Dimas dengan sorot mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.
"Maksud Tuan Muda ..." ucap Edo yang terpotong karena merasa jika ada sesuatu yang terlewatkan olehnya namun Dimas sudah mengetahuinya tanpa bantuannya.
"Aku sudah tau siapa dalang dari semua ini. Dia adalah sepupuku, Heru Arthama Jaya, dengan bantuan pamanku, Bambang Arthama Jaya." ucap Dimas yang langsung berdiri sambil melihat keluar jendela dengan tatapan mata yang tajam.
"Ja-jadi ..." ucap Pak Antoni yang akhirnya membuka suara setelah diam dan hanya menyimak apa yang dibicarakan Dimas dan Edo.
"Benar Pak Antoni. Kita terlalu santai menghadapi mereka hingga akhirnya kita kecolongan dan ini adalah pelajaran yang sangat berharga terutama untukku sendiri!" ucap Dimas dalam hati sambil berbalik melihat kedua orang terdekatnya dengan tatapan pilu.
Dimas yang melihat keadaan dua orang terdekatnya terluka karena mencoba bertarung bersamanya sementara yang lain meninggalkannya menjadi sangat marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi orang-orangnya.
"Sial! Kenapa semua terjadi seperti ini?" ucap Dimas dalam hati dengan perasaan menyesal dan ekspresi marah pada diri sendiri yang tidak peka dengan keadaan yang akan terjadi nantinya.
Dimas yang juga tidak bisa menepati janjinya untuk menjaga dan melindungi Arabella menjadi sangat malu tapi Dimas merasa jika perasaannya saat ini tidaklah penting karena yang penting saat ini adalah keselamatan Arabella.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1