CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 98. Kebenaran dari Kebohongan


__ADS_3

Pak Antoni dan Edo yang ingin mengatakan sesuatu langsung dihentikan Dimas sehingga keduanya kembali ke tempatnya kembali.


"Apa kalian tidak bisa berhenti bicara?" teriak Edo yang kesal bersama Pak Antoni yang sudah mulai bergerak maju untuk ikut berbicara.


"Tidak!" ucap Dimas dengan melebarkan satu tangannya ke arah Pak Antoni dan Edo memberi kode untuk kembali ke tempatnya semula.


"Tapi Tuan Muda.." ucap Pak Antoni yang mencoba melawan tapi berhenti saat melihat Dimas menggelengkan kepalanya sehingga membuat Pak Antoni dan Edo kembali mundur ke belakang.


Dimas yang diam saja dari awal akhirnya mulai bicara dan membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu menjadi diam seketika.


"Apakah kalian bertiga telah selesai bicara?" tanya Dimas dengan tekanan disetiap katanya sambil melihat ketiga orang yang sedang duduk dengan kepala tertunduk.


"Ria, kau adalah Pelayan Pribadi yang saya tugaskan untuk melayani Arabella tapi apa yang terjadi. Arabella diculik didepan matamu. Apa kau mengerti salahmu?" tanya Dimas dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang datar tanpa ekspresi sambil melihat ke arah Ria yang terus menangis dengan suara pelan.


"Saya mengaku salah Tuan Muda. Maafkan saya Tuan Muda. Ini salah saya yang tidak bisa menjaga Nona dengan baik." ucap Ria dengan suara tegas diikuti dengan isak tangis yang tiada hentinya seolah memberi tau semua orang betapa sedih dan menyesalnya dirinya.


Namun tak disangka saat Dimas sedang berbicara dengan Ria, kedua bodyguard yang hanya diam saat Dimas mulai bicara ternyata dengan semangat semakin menyalahkan Ria sehingga Ria tidak bisa mengatakan apapun.


"Benar sekali Tuan Muda ini semua adalah salahnya!"


"Tuan Muda harus menghukum pelayan rendahan ini dengan sangat keras karena dialah Nona diculik!"


Edo yang sudah sangat kesal dari awal akhirnya menjadi semakin emosi setelah mendengar ucapan kedua Bodyguard itu yang terus menyela pembicaraan.


"Jika tidak mendapatkan pelajaran sepertinya kedua Bodyguard bodoh ini tidak akan bisa diam!" gumam Edo dalam hati dengan sorot mata yang tajam dengan dua tangan mengepal dengan sangat erat.


Akhirnya Edo pun menendang dada keduanya dengan sangat keras hingga keduanya mundur ke belakang ke arah dinding dengan suara yang keras.


"Brak!"


"Bugh!"


"Agh!"


"Brak!"


"Bugh!"

__ADS_1


"Agh!"


"Siapa bos disini? Tuan Muda atau kalian berdua? Beraninya kalian menyela Tuan Muda yang sedang bicara." ucap Edo yang sudah mulai geram dengan sikap kedua Bodyguard yang terus berbicara akhirnya dapat meluapkan kemarahannya.


Dimas yang melihat sikap Edo tidak menanggapi apapun karena menurut Dimas kedu Bodyguard itu memang pantas mendapatkan hukuman itu.


Sementara itu, Ria yang melihat apa yang telah dilakukan Edo pun berhenti menangis dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan dengan mata yang melotot tajam.


"Apa kau punya bukti jika kedua Bodyguard itu telah melakukan kelalaian dalam bertugas?" tanya Dimas dengan nada yang semakin dingin dan tatapan yang tajam seperti pisau ke arah dua Bodyguard yang terduduk bersandar di tembok sambil memegang dadanya yang sakit karena tendangan Edo.


"I-iya!" jawab Ria dengan terbata-bata dan cepat seketika itu tersadar dengan pesan terakhir dari Arabella sebelum dirinya kehilangan kesadaran.


Ria pun berlari ke tempat tidurnya dengan terpincang-pincang dan mengambil Handphone Arabella dari bawah bantalnya lalu menyerahkannya kepada Dimas.


"No-Nona merekam pesan suara... yang isinya tentang percakapannya dengan dua Bodyguard bodoh itu dan..." ucap Ria dengan terbata-bata sambil menyerahkan sebuah Handphone kepada Dimas dengan tangan bergetar dan keringat yang mengalir ke pipinya.


"Dan Nona juga bilang kalau Tuan Muda pasti dapat melacak keberadaan Nona dengan Handphone ini!" ucap Ria dengan sekuat tenaganya yang kemudia terjatuh ke lantai karena kehabisan tenaga akhirnya Edo pun mengangkat Ria duduk di atas tempat tidurnya kembali sementara Dimas memutar isi percakapan yang sempat direkam oleh Arabella.


Apa kalian hanya akan tetap menonton? Lalu melihat aku dan pelayanku mati baru kalian mau bergerak!


Dimas yang mendengar rekaman suara Arabella yang terdengar sangat putus asa dan dengan nada suara yang bergetar membuat hati Dimas merasa sangat sakit seketika itu juga suara ruangan berubah turun semakin drastis.


Dimas yang sangat marah pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah dua orang Bodyguard yang masih terduduk sambil memegang dadanya memasang wajah takut dan pucat seperti selembar kertas.


Dimas yang sangat ingin menghajar dan menyiksa kedua Bodyguard itu pun langsung mengurungkan niatnya saat melihat lokasi keberadaan Arabella dari sinyal GPS yang ada di handphonenya.


"Pip! Pip! Pip!" suara alarm GPS.


Dimas yang sangat trauma karena pernah kehilangan Arabella satu kali akhirnya memberikan Arabella jam tangan pintar yang dilengkapi dengan GPS dan pemakaian batreinya bisa bertahan satu minggu jika tidak digunakan untuk hal lain.


"Tunggu aku. Aku akan segera menyelamatkanmu, Bel!" ucap Dimas dalam hati sambil menggenggam handphone Arabella dengan sangat kuat.


Dimas yang tergesa-gesa ingin menemukan Arabella secepatnya segera berhenti di depan pintu lalu menoleh kebelakang dan memberikan perintah kepada Pak Antoni.


"Urus dua orang bodoh ini dengan baik. Aku sendiri yang akan menanganinya setelah aku berhasil membawa Arabella kembali!" ucap Dimas kepada Pak Antoni dengan nada tinggi dan sorot mata yang tajam seolah tidak sabar menjadi Dewa Yama.


"Lalu, urus dia dengan baik. Jangan sampai Arabella sedih saat melihat Pelayan setianya terluka parah." perintah Dimas lagi sambil melihat ke arah Pak Antoni dengan tatapan melunak.

__ADS_1


Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya Dimas dan Edo pun segera pergi dari Kediaman Arthama Jaya menuju ke lokasi Arabella berada.


"Kita pergi!" ucap Dimas dengan nada datar dan sedikit perintah lalu berjalan di depan semua orang diikuti Edo dan beberapa Anggota Badan Inteligen Khusus dengan tatapan yang tajam lurus ke depan.


"Tap! Tap! Tap!"


Edo yang pergi sama Dimas segera memberikan informasi tentang keberadaan Clara dan apa yang akan dilakukannya dalam waktu dekat.


"Tuan muda, saya mendapatkan informasi bahwa Nona Clara saat ini sedang berada di Apartemennya dan dalam waktu dua hari Nona Clara akan datang ke Acara Penghargaan Internasional yang diselenggarakan di salah satu Gedung terbesar dan termega di Indonesia." ucap Edo dengan ekspresi wajah yang datar sambil melihat layar tabletnya dengan sangat fokus.


"Terus amati gerak-geriknya nanti baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan untuk membalasnya setelah kita berhasil menyelamatkan Arabella." ucap Dimas dengan emosi dengan wajah yang merah karena menahan amarah dengan tatapan mata yang tajam ke depan.


"Siap laksanakan Tuan Muda." ucap Edo dengan patuh lalu melanjutkan pekerjaannya yang fokus pada layar tabletnya.


Tak hanya itu, Edo juga memberitaukan bahwa lokasi GPS tentang keberadaan Arabella adalah benar adanya yang membuat Dimas memerintahkan Supir untuk membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


"Tuan Muda, saya mendapatkan kabar dari salah satu kamera CCTV yang berhasil kita retas bahwa mereka melihat keberadaan Nona menuju ke salah satu Perumahan Alet." ucap Edo dengan ekspresi yang cerah sambil memperlihatkan video yang telah diterimanya.


"Saya juga mengetahui bahwa lokasi GPS di handphone Nona Arabella dan lokasi CCTV itu sama persis dan saya juga sudah mengirim beberapa orang untuk segera kesana untuk menyelamatkan Nona Arabella." ucap Edo dengan ekspresi wajah yang datar sambil mencuri lihat reaksi Dimas dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Kalau begitu kita harus segera sampai ke lokasi tujuan." ucap Dimas sambil melihat ke arah Edo dengan tatapan tajam sehingga membuat Edo menelan ludahnya karena takut.


Edo pun mendekati supir dan memberikan instruksi yang langsung membuat supir bersemangat meningkatkan kecepatan mobilnya.


"Srak!"


"Jika kau bisa sampai di lokasi tujuan dalam waktu kurang dari 10 menit maka gajimu bulan ini akan bertambah tiga kali lipat!" bisik Edo dengan suara rendah dengan senyum sarkastik.


Edo yang berfikir Dimas tidak akan mendengar apa yang dikatakannya langsung duduk kembali ke tempatnya dengan pundak yang perlahan rileks tapi tidak disangka Dimas mendengar semuanya.


"Ah, Tuan Muda. Ini adalah strateginya! Hehehe..." ucap Edo dengan senyum yang lebar dan sikap yang salah tingkah yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Dimas.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


😊😍😘

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2