
Dimas yang tidak bisa membiarkan Arabella tetap dalam pengaruh Obat Perangsang telah menghubungi Dokter Keluarga untuk segera datang ke Apartemennya lalu memintanya untuk membawa dua orang perawat bersamanya untuk merawat Arabella.
Lima menit setelah Dimas dan Arabella sampai di Apartemen, pintu Apartemen itu pun berbunyi yang langsung membuat Dimas bergerak membuka pintu dan mempersilahkan orang yang ada di luar untuk masuk.
"Tok! Tok! Tok!"
"Dokter Simon! Masuklah!" ucap Dimas dengan ramah sambil membukakan pintu dengan hanya memakai kemeja putih dengan lengan baju yang tergulung sampai ke siku dengan rambut berantakan namun terlihat sangat tampan dan berkarisma dimata dua orang Perawat yang datang bersama Dokter Simon.
"Terima kasih, Tuan Muda!" ucap Dokter Simon dengan senyum ramah sambil berjalan mengikuti Dimas dari belakang.
"Dokter, aku ingin kau memeriksanya. Dia terkena obat perangsang dan merasa seluruh tubuhnya panas karena itulah aku merendamnya di dalam bathup yang berisi air dingin tapi aku khawatir dia akan jatuh sakit jika dibiarkan terus seperti ini." ucap Dimas sambil menerangkan kondisi Arabella sementara Dokter Simoj memeriksa kondisi Arabella.
Disaat Dimas dan Dokter Simon mulai berbicara dan fokus mengobati Arabella, dua orang Perawat yang dipanggil untuk membantu Arabella malah sibuk bergosip dan terus membicarakan ketampanan Dimas.
"Aku baru pertama kali bertemu dengan Tuan Muda Dimas dan ternyata Tuan Muda sangat tampan."
"Kau benar sekali. Aku jadi jatuh cinta pandangan pertama pada Tuan Muda."
"Tapi sayang sekali Tuan Muda sudah punya Tunangan dan akan segera menikah. Hah!"
"Jangan putus asa. Selagi janur kuning belum melengkung, Tuan Muda Dimas masih milik bersama. Hahaha..."
"Kau benar sekali, jangankan yang bertunangan, yang sudah menikah saja bisa cerai. Hahaha..."
Tuan Muda tidak hanya tampan tapi juga kaya raya, calon suami idaman nomor satu. Jika Tuan Muda mau menjadikanku sebagai yang kedua, aku pasti tidak akan menolak."
"Hahaha... Aku juga mau. Siapa juga yang mau menolak Tuan Muda? Hanya orang bodoh yang akan melakukan itu."
Dokter Simon pun mengeluarkan kotak obat dan alat suntik lalu menusukkan obat penahan rasa sakit ke tangan Arabella dengan hati-hati.
"Srak!"
__ADS_1
"Sruk!"
"Syuh!"
Setelah mendapatkan penangan raut wajah Arabella perlahan mulai membaik dan tidak memiliki kerutan rasa tersiksa lagi tapi perasaan panas itu tidak bisa hilang begitu saja sehingga Dokter pun memilih memikirkan cara lain.
"Bel, kau akan segera sembuh! Percayalah!" ucap Dimas dengan suara rendah sambil terus memegang tangan Arabella yang telah menjadi dingin tapi raut wajahnya telah berubah lebih baik.
Dokter yang tidak bisa membiarkan pasiennya terkena sakit lain saat ditangani olehnya. Dokter pun memerintahkan kedua Perawat yang sedari awal hanya berdiri sambil berbisik satu sama lain itu untuk mengganti pakaian Arabella dan memindahkannya.
"Kalian berdua ganti pakaian Nona Arabella dan letakkan Nona ke dalam kamar! Saya dan Tuan Muda akan menunggu keluar." ucap Dokter Simon dengan tatapan sinis sambil melihat ke arah dua Perawat Muda yang tidak memperhatikannya dan hanya fokus menatap Dimas yang hanya duduk di samping Arabella yang sedang menahan sakit.
"Baik!" jawab kedua Perawat itu bersamaan sambil terus menatap Dimas dengan tatapan kagum.
"Ayo, kita keluar Tuan Muda. Biarkan mereka mengurus Nona Arabella." ucap Dokter Simon sambil mengulurkan tangan mengajak Dimas untuk membiarkan Arabella ditangan Perawat.
"Baiklah, Dokter!" ucap Dimas dengan patuh sambil melepaskan tangan Arabella dengan lembut dan mengelus rambutnya lalu beranjak pergi.
"Tuan Muda mau kemana? Kami bisa membantu mengganti pakaian Nona tapi untuk memindahkan Nona ke kamar itu pasti akan sulit." ucap salah seorang Perawat dengan nada rendah yang gemulai dan tatapan mata serta sikap yang menggoda.
"Benar, Tuan Muda. Sepertinya kami akan membutuhkan bantuan Tuan Muda nantinya." ucap salah seorang Perawat lainnya dengan sikap yang sama.
"Dua orang Perawat ini sedang mencoba menggodaku. Mereka mengambil kesempatan saat Arabella sedang tidak sadarkan diri dan mencoba merayuku. Aku jadi curiga, apakah mereka benar-benar bisa merawat dan menjaga Arabella?" tanya Dimas dalam hati.
Namun sebelum Dimas mengatakan sesuatu, Dokter Simon telah membentak dua Perawat tersebut sehingga membuat keduanya terdiam dan bergegas melaksanakan tugasnya.
"Brak!" suara pukulan pintu
"Kalian ini seorang Perawat atau seorang wanita Penghibur! Beraninya kalian menggoda Tuan Muda saat Nona sedang sakit. Apa kalian ingin kehilangan pekerjaan kalian selamanya?" teriak Dokter Simon dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang marah dan mata yang melotot tajam sambil memukul pintu kamar mandi hingga berbunyi sangat keras.
"Ayo kita pergi Tuan Muda. Biarkan mereka berdua menyelesaikan tugasny." ucap Dokter Simon sambil mengajak Dimas keluar kamar sambil menatap tajam ke arah dua orang Perawat yang sedang merawat Arabella.
__ADS_1
Dimas pun menurut dan berjalan bersama Dokter Simon keluar dari kamar dengan perasaan was-was.
"Sepertinya aku hanya akan membiarkan mereka mengganti pakaian Bella lalu memerintakan mereka pergi dari sini." ucap Dimas dalam hati sambil berjalan keluar dengan perasaan cemas sambil menghela nafas yang cukup panjang.
"Haahhh!" helaan nafas Dimas.
Setelah berada di luar kamar, Dokter Simon langsung meminta maaf dan menundukkan kepalanya karena telah salah memilih Perawat.
"Maafkan penglihatan saya yang tidak akurat ini, Tuan Muda. Saya sungguh tidak tau jika keduanya punya niat terselubung dan tidak baik. Saya fikir mereka adalah Perawat yang profesional karena hasil kerja mereka sangat rapi dan juga cepat tapi tidak disangka..." ucap Dokter Simon yang berhenti sejenak lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah yang sangat kecewa.
"Itu bukan salahmu. Rambut sama hitam tapi hati siapa yang tau!" ucap Dimas sambil menggelengkan kepala dengan tatapan kecewa lalu duduk di sofa bersama Dokter Simon.
Dokter Simon pun dengan cepat mengeluarkan kertas resep dan menuliskan resep obat yang harus dibeli untuk membantu Arabella agar cepat pulih.
"Tuan Muda, ini adalah obat yang harus ditebus untuk membuat Nona semakin baik tapi..." ucap Dokter Simon sambil menyerahkan selembar kertas resep obat dengan suara terputus.
"Tapi apa dokter?" tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang bingung sambil menatap Dokter Simon dengan tatapan bertanya-tanya.
"Resep ini hanya untuk membuat tubuh vit kembali dan bukan menghilangkan efek obat perangsang. Efeknya harus Tuan Muda sendiri yang membantu menghilangkannya." ucap Dokter dengan ekspresi wajah yang serius dengan nada tegas sambil melihat ke arah Dimas yang dilema.
"Saya sebagai seorang pria sangat mengagumi sifat dan sikap Tuan Muda dan Nona sangat beruntung dapat dicintai oleh Tuan Muda tapi Tuan Muda harus memilih." ucap Dokter Simons dengan wajah pasrah dan tak lama kemudian Edo pun datang.
"Tuan Muda!" panggil Edo yang telah berdiri di belakang Dimas dengan kepala tertunduk dan wajah tanpa ekspresi.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1