
Heru yang mendapatkan arahan dari Pak Bambang pun mulai melaksanakan rencana yang telah disusun keduanya dengan matang.
Heru yang tidak ingin mudah dikenali orang pun mengganti warna rambutnya menjad pirang dan memakai kacamata hitam lalu menutup wajahnya dengan masker.
Heru yang berjalan dengan percaya diri sambil memakai jas putih khusus dokter pun berjalan dengan santai menuju kamar Arabella.
Heru yang melihat Arabella sedang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit dengan damai menjadi sangat tidak tega tapi keadaan yang memaksanya untuk melakukan hal buruk.
Heru yang berdiri di samping Arabella pun mengeluarkan suntikan kecil yang sudah disiapkannya lalu menatap Arabella denagn wajah yang bersalah.
“Maafkan aku! Jangan salahkan aku, salahkanlah keadaan yang memaksaku untuk menyakitimu!” ucap Heru dengan nada suara yang rendah.
Heru yang meletakkan obat tidur di dalam suntikan itu pun membuat tidur Arabella menjadi sangat nyenyak lalu dengan cepat Heru memindahkan Arabella menuju pintu keluar Rumah Sakit.
__ADS_1
Heru yang tidak ingin ada orang lain yang mengenali Arabella pun memasangkan jilbab ke atas kepala Heru lalu memakaikannya kacamata hitam yang kecil.
Rencana Heru berjalan mulus hingga akhirnya Arabella telah kembali diculik oleh Heru untuk kedua kalinya.
Heru yangg langsung membawa mobilnya menuju ke tempat yang telah ditentukan pun menghubungi Pak Bambang.
“Ayah! Aku sudah melakukan semuanya dengan baik bahkan aku dalam perjalan menuju Kediaman Keluarga di Kota yang kecil!” ucap Heru yang memberikan laporan kepada Pak Bambang.
“Aku telah melaksanakan tugasku dan sekarang aku serahkan semuanya kepadamu!” ucap Heru dengan nada suara yang tegas sambil menatap Pak Bambang dengan tajam.
Di tempat yang lain, Dimas yang mendapatkan telepon dari Pak Bambang pun langsung mengangkatnya dan sangat mengharapkan hadiahnya.
“Arabella telah ada di tanganku sekarang dan jika kau ingin melihat wanitamu kembali selamat lagi temui aku di Kediaman Keluarga Arthama Jaya di Kota sebelah!” ucap Pak Bambang yang langsung mematikan teleponnya.
__ADS_1
Dimas yang langsung panik pun berlari dengan sangat kencang menuju kamar Arabella dan saat dirinya ada di dalam ruangan lalu mendapatkan sesuatu yang sangat menarik.
“Sial! Lagi-lagi aku telah gagal dalam melindungi Arabella!” ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang kesal dan nada suara yang emosi sambil menghajar ranjang Rumah Sakit dengan sangat kuat.
Dimas yang sangat khawatir dengan Arabella pun langsung berlari menuju ke parkiran dan menemui Pak Bambang dan Heru untuk menyelamatkan Arabella.
Namu sesaat Dimas ada di lantai awal, Edo melihat Dimas yang sedang tersulut emosi pun langsung menghampirinya dan menolak memberikan jalan kepada Dimas yang ingin pergi sendiri dengan buru-buru.
“Minggir!” teriak Dimas dengan suara yang keras dengan ekpsresi wajah yang marah dengan dan tatapan mata yang tajam.
“Tidak! Tuan Muda harus tenang! Tarik nafas Tuan Muda lalu hembuskan secara perlahan. Tian muda tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini. Ini akan memberikan musuhmu kesempatan untuk menjebak Tuan Muda!” ucap Edo yang langsung menyadarkan Dimas dari emosi sesaatnya.
Sementara Dimas yang mendapatkan teguran dari Edo pun kembali sadar kembali yang membuatnya memahami jika dirinya harus bisa berpikir jernih menghadapi musuhnya.
__ADS_1
“Tunggu aku, Bel! Aku pasti akan menyelamatkanmu!” ucap Dimas dengan ekpsresi wjah yang serius dengan tekad yang membara.
#Bersambung#