CEO Stops The Time

CEO Stops The Time
BAB 124. Serangan Pembunuhan


__ADS_3

Sementara itu, Arabella dan Dimas yang telah berada di Villa Pribadi pun beristirahat. Meskipun Arabella tidak bisa berhenti memikirkan nasib Clara tapi di hati kecilnya ada perasaan senang dengan semua yang terjadi.


"Ayah dan Ibu mengajarkanku untuk menjadi wanita yang pemaaf dan baik hati tapi tidak tau apa yang terjadi di dalam hati kecilku ada perasaan senang melihat Clara menderita." ucap Arabella dengan nada rendah dan ekspresi wajah yang bingung sambil melihat keluar balkon kamarnya yang menghadap langsung ke arah pantai.


"Aku tau semua yang dilakukan Clara padaku adalah sesuatu yang sangat kejam bahkan dia sampai mencelakai Ria yang tidak ada hubungannya dengan masalah kami hingga terluka parah." ucap Arabella dengan ekspresi wajah yang sedih dan marah secara bergantian sambil menatap lurus ke arah laut pantai.


"Aku tidak bisa memaafkannya. Sejujurnya aku tidak marah pada Dimas yang telah membalas Clara tapi saat melihatnya sampai seperti itu sore tadi rasanya aku tidak tega." ucap Arabella kembali dengan nada rendah dan tatapan mata yang senduh.


Arabella yang masih belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri hanya duduk diam melamun sambil berbaring di atas sofa hingga tertidur.


Sementara itu, Dimas yang merasa sangat lelah pun akhirnya tertidur tapi Dimas tidak menyangka jika ada sekelompok orang yang datang menyusulnya.


"Argh!" teriak Dimas dengan suara rendah sambil terduduk di atas tempat tidurnya sambil memegang lengannya yang telah berdarah.


"Sepertinya malam ini aku tidak bisa tidur dengan tenang. Siapa yang telah mengirim kalian? Apakah pamanku atau salah satu saingan bisnisku?" tanya Dimas yang mencoba mengulur waktu sambil meraih Arloji yang selalu di simpan di dalam saku celananya.


"Tidak ada gunanya jika tau siapa yang mengirim kami karena kau akan segera menjadi mayat." ucap salah seorang pria dengan pakaian serba hitam sambil memasang penutup kepala dengan senjata tajam di tangannya.


"Aku sudah sangat sering mendengar kata-kata itu dan tak ada satu pun yang berhasil mencabut nyawaku. Bahkan orang-orang yang selalu menyerangku akan selalu berakhir menjadi santapan hewan buas peliharaanku." ucap Dimas dengan senyum missterius.


Kaisar Franz yang telah bereinkarnasi dan masuk ke tubuh Dimas telah berulang kali mengalami penyerangan secara mendadak meskipun terluka di awal semuanya akan berakhir baik-baik saja karena Kekuatan yang dimilikinya.


Namun setiap Kekuatan yang hebat selalu memiliki harga mahal yang harus dibayar.


Pembunuh bayaran yang telah mendapatkan sejumlah uang yang besar tidak pernah memberikan kesempatan lawannya untuk hidup tidak terkecuali Dimas Arthama Jaya yang menjadi targetnya kali ini.


Pembunuh itu pun maju secara bersamaan untuk menyerang Dimas. Dimas yang terpojok dalam posisi terduduk di atas tempat tidur tidak bisa pergi melarikan diri dan bahkan tidak bisa berteriak meminta tolong.


"Sepertinya aku benar-benar dalam situasi yang sangat tidak diuntungkan. Aku bahkan dijepit di semua arah agar tidak memiliki jalan untuk melarikan diri. Aku bahkan tidak bisa berteriak meminta tolong karena akan menyebabkan Arabella dalam bahaya." ucap Dimas dalam hati sambil melihat ke empat pembunuh bayaran yang telah berdiri di empat penjuru mata angin memblokir jalan kabur Dimas.

__ADS_1


"Sepertinya kali ini aku akan membayar harga untuk keselamatan nyawaku" guman Dimas saat melihat ke empat pembunuh bayar bergerak bersamaan ke arahnya.


Dimas yang tidak memiliki senjata dan bahkan terluka menekan tombol menghentikan waktu lalu memutar ulang waktu.


"Akhirnya semuanya berhenti bergerak tapi ini tidak akan bertahan lama dan bahkan aku terluka saat ini jika Arabella tau aku terluka akan sulit menjelaskannya." ucap Dimas sambil menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


"Sepertinya aku harus memutar ulang waktu dan sepuluh menit sebelum penyerangan terjadi sepertinya tidak akan jadi masalah." ucap Dimas sambil memegang dagunya yang tidak gatal.


Dimas yang melihat waktu akan berputar kembali pun menekan tombol memutar waktu dan mulai menyiapkan semuanya lalu memberikan hadiah yang menakjubkan untuk mereka.


Dimas yang telah kembali ke waktu sebelum penyerangan pun bersikap seolah tidak mengetahui apapun.


"Sekarang pukul 23.45 dan penyerangan itu akan terjadi sepuluh menit lagi. Sepertinya orang-orang yang akan menyerangku telah berada di sekitar sini dan siap melakukan serangan setelah aku tertidur." ucap Dimas dalam hati sambil berdiri di depan jendela kamarnya dimana menjadi jalan masuk ke empat pembunuh bayaran masuk ke dalam kamar Dimas.


Dimas yang tidak ingin bermain-main dengan nyawanya pun menutup jendela kamarnya lalu menyelipkan pistol di bawah bantal tempat tidurnya.


"Aku harus bisa menyelesaikan ketiganya dengan cepat dan menyisakan satu orang untuk di interogasi. Aku harus tau orang di balik semua ini dan mencari tau siapa penghianatnya." ucap Dimas dalam hati dengan mata tertutup.


Tak butuh waktu lama, waktu yang telah diperkirakan Dimas pun tiba. Keempat pembunuh bayaran itu pun menyelinap masuk ke dalam kamar lalu menyebar ke empat penjuru dan mengepung Dimas.


Dimas yang tidak ingin menunggu sampai pembunuh bayaran itu maju, Dimas pun menyerang ketiganya bersamaan dengan menembak ketiganya dengan pistol dalam keadaan gelap.


"Dor! Dor! Dor!" suara pistol berbunyi menembak ketiga pembunuh bayaran secara bersamaan tanpa bisa mengelak setiap serangan datang.


Setelah ketiga pembunuh bayaran itu terbunuh, salah seorang pembunuh bayaran yang selamat merasa nyawa terancam dan berencana menarik diri dari misi yang telah diterimanya.


"Si-siapa itu?" tanya salah seorang pembunuh bayaran yang selamat setelah melihat ketiga rekannya terbaring di lantai dengan darah yang mengalir keluar dari tubuhnya.


"Misi gagal! Aku harus kabur dan melapor! Aku tidak boleh sampai tertangkap." ucap seorang pembunuh bayaran dalam hati dengan ekspresi wajah ketakutan dan kecemasan yang terlihat jelas di balik sinar bulan yang masuk dari sela-sela jendela yang terbuka.

__ADS_1


Dimas yang melihay pergerakan tidak biasa dari pembunuh bayaran yang selamat pun segera melakukan sesuatu agar pembunu itu tidak kabur.


Dimas yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki siapapun pun melempar pistolnya menjauh lalu menghentikan waktu.


Dimas yang telah menggunakan kekuatannya lebih dari tiga kali pun mulai merasakan harga yang harus dibayarnya.


"Hah! Sepertinya aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan ini saat ini juga." ucap Dimas dengan nafas yang tidak beraturan dan keringat yang terus mengalir ke dahinya.


Dimas pun memukul tengkuk leher pembunuh bayaran itu hingga membuatnya pingsan lalu mengikatnya dengan tali tambang yang sangat kuat dantak lupa Dimas menyumpal mulut pembunuh itu dengan kaos kaki yang busuk.


"Hah, akhirnya selesai juga. Sepertinya aku sudah mencapai batasnya. Aku harus segera menghubungi Edo untuk membereskan pembunuh bayaran ini." gumam Dimas yang sudah terduduk bersandar di lantai di samping tempat tidur dengan wajah yang putih pucat.


Dimas yang hanya memiliki sedikit tenaga pun mengambil handphonenya lalu menelpon Edo yang sedan tertidur lalu tak butuh waktu lama Dimas pun telah kehilangan kesadarannya


"Temui aku di Villa pribadiku di Pantai Parantritis dan bereskan lalat yang tidak berguna ini segera." ucap Dimas dibalik telepon dengan suara yang sangat berat hingga tidak memiliki tenaga lagi untuk bicara.


"Tuan muda! Halo, Tuan muda!" panggil Edo yang langsung terbangun dengan mata yang terbuka lebar tapi tidak mendapatkan respon apapun.


"Sial! Ini sudah yang ke lima kalinya dalam bulan ini. Aku sudah tidak sanggup lagi tenagaku sudah terkuras habis dan sepertinya aku akan pingsan selama beberapa hari ke depan tapi kali ini harus mendapatkan informasinya!" ucap Dimas dalam hati yang telah memejamkan matanya dan perlahan kehilangan kesadarannya.


Sementara itu saat matahari telah terbit, Heru yang telah bersiap dengan penerbangannya telah berada di dalam pesawat.


"Aku pergi bukan berarti menyerah untuk semuanya Dimas. Aku akan kembali dan merebut semuanya darimu." ucap Heru dalam hati dengan ekspresi wajah marah yang penuh dengan dendam.


#Bersambung#


Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love ya..


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2