
Dimas yang telah menghentikan waktu pun berjalan menuju salah satu orang yang mencoba menyerangnya dan langsung merebut pedang yang ada di tangannya dengan sangat cepat. Lalu setelah pedang berpindah tangan, waktu yang ada di sekitar pun berputar kembali.
Dimas yang melihat adanya kesempatan untuk menyerang balik keempat pembunuh itu terkejut dengan sesuatu yang terjadi tidak sesuai kehendak mereka pun menyerang pembunuh yang ada di depannya.
Dimas pun menggerakkan pedang itu dengan sangat cepat seperti dirinya di masa lalu yang merupakan seorang Raja yang selalu menang dalam perang melawan musuhnya.
Dimas pun memotong lengan pembunuh tersebut tanpa berkedip dalam sekali gerakan yang menunjukkan betapa tajamnya pedang tersebut.
Pembunuh yang kehilangan tangannya itu pun tidak bisa mengatur ekspresi wajahnya yang merasakan sakit yang amat sangat.
“Aaagghhhhh!” teriak pembunuh dengan sangat keras yang menghentikan ketiga temannya yang lain untuk menyerang Dimas.
Dimas yang membunuh satu orang pembunuh tanpa berkedip bahkan saat darah segar dari pembunuh mengenai wajahnya pun membuatnya terlihat sangat berbeda di mata ketiga pembunuh lainnya.
Ketiga pembunuh yang awalnya terkejut dengan terjadinya perubahan dalam situasi pun tiba-tiba merasakan sebuah ancaman dalam setiap tatapan mata Dimas yang membuat ketiganya kesulitan untuk memutuskan untuk melanjutkan misi atau menyerah.
Lalu tiba-tiba, Ketua Ma yang telah mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi bahkan menerobos lampu merah pun akhirnya sampai dalam waktu yang sangat singkat.
__ADS_1
Ketua Ma yang melihat Dimas sendirian melawan tiga orang yang bersenjata pun kehilangan kesabarannya dan langsung keluar dari dalam mobil menghajar salah seorang pembunuh dengan tangan kosong.
Ketiga pembunuh yang tidak menyangka adanya bantuan yang datang dengan sangat cepat pun memberika kode satu sama lain untuk mundur tapi Dimas tidak mengizinkan hal itu terjadi.
Di saat ketiganya ingin meninggalkan tempat tersebut dengan membuat bom asap, Dimas dengan cepat menghentikan waktu dan membunuh dua orang pembunuh yang di luar jangan Ketua Ma dengan pedangnya.
Sementara itu, Ketua Ma yang dengan cepat bergerak pun menangkap pembunuh tersisa yang masih hidup dengan membuatnya terkunci di tanah dengan tangan dan kaki di dalam genggaman Ketua Ma.
Edo yang buru-buru keluar dari dalam mobil pun akhirnya menemui Dimas yang dalam keadaan yang tidak bisa dilihat sebagai Tuan Mudanya yang tampan dan berwibawa.
“Apakah aku terlihat baik-baik saja sekarang?” tanya Dimas dengan nada suara yang terdengar sarkastik dan ekspresi wajah yang dingin.
Edo yang mendengar jawaban Dimas pun tersenyum kaku dengan ekspresi wajah yang canggung lalu menatap Ketua Ma yang berhasil menangkap salah satu pembunuh yang selamat dari tangan Dimas.
Edo dan Dimas yang berjalan menuju ke arah Ketua Ma yang sedang memegang tangan pembunuh tersebut dengan sangat keras pun membuka penutup wajah pembunuh dan bisa melihat wajah salah satu pembunuhnya yang masih hidup dengan sangat jelas.
Dimas yang menatap dingin ke arah Pembunuh tersebut pun mencoba mencari informasi tentang kejadian yang dialaminya tapi sayang hal itu tidak seperti yang diinginkannya.
__ADS_1
“Siapa orang yang telah membayarmu? Apakah kalian yang telah merencakan kecelakaanku ini?” tanya Dimas dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata membunuh.
“Jawab! Kenapa kau diam saja?” tanya Edo dengan ada suara yang tinggi dan ekspresi wajah yang kesal dan marah saat melihat ekspresi pembunuh tersebut yang sangat cuek.
“Hah! Apa yang kau harapkan dariku? Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun karena aku tidak akan mengatakan apapun padamu!” ucap Pembunuh tersebut dengan tawa kecil yang keluar dari mulutnya dengan nada suara yang menghina serta tatapan mata yang merendahkan.
Edo yang kesal pun kehilangan kesabarannya dan menghajar pembunuh itu dengan memukup pipi kanan dan kirinya dengan sangat keras hingga membuat pembunuh tersebut mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
“Sialan! Apakah kau pikir masih bisa bernego dengan nyawa kecilmu itu? Hah!” teriak Edo dengan suara yang keras dengan nada suara yang terdengar sangat kesal.
“Lalu kenapa dengan nyawaku? Bunuh saja aku! Aku tidak tau mati! Aku lebih baik mati daripada harus mengatakan sepatah kata kepada kalian! Cuih!” ucap Pembunuh tersebut dengan wajah yang sombong sambil meludahkan air liurnya keluar ke hadapan Edo.
Edo yang telah dikuasai amarah pun menghajar pembunuh tersebut dengan sangat keras hingga wajah dari pembunuh tersebut menjadi sangat sulit untuk dikenali lagi tapi meskipun begitu Edo tidak beniat membunuhnya karena masih harus mendapatkan informasi yang diinginkan Dimas.
#Bersambung#
Apakah pembunuh tersebut akhirnya mengatakan nama orang yang telah membayarnya atau tidak? Silahkan readers yang menebaknya. Tebak di kolom komentar ya...
__ADS_1