
Ketua yang berencana ingin membawa Heru dan dua pengikutnya serta orang-orang suruhannya ke Markas Badan Intelligent Khusus untuk diinterogasi lalu di hukum pun memutuskan untuk menyerahkannya ke Polisi.
“Yang kalian katakan itu benar. Segera hubungi Polisi dan minta mereka segera kemari dan jangan lupa panggil Reporter datanng. Kita harus meluruskan semua yang terjadi.” Ucap Ketua Ma dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.
Tak butuh waktu lama, Puluhan mobil polisi pun datang ke Kediaman Keluarga Arthama Jaya yang telah lama ditinggalkan.
“Minggir! Biarkan Polisi bekerja!” teriak beberapa Polisi yang datang dengan suara yang lantang sambil memasang Polisi Line ke seluruh Kediaman Arthama Jaya.
“Cepat tangkap semuanya dan bawa mereka ke Penjara!” teriak Kepala Polisi yang datang menyapa Ketua Ma dengan senyum yang lembut sambil saling berjabat tangan.
Tidak hanya Polisi tapi juga wartawan datang meliput berita dan mengambil gambar Heru dan orang-orangnya yang sedang dibawa ke Kantor Polisi.
“Jangan tinggalkan satu orangpun. Rekam semua wajahnya. Kita harus menjadikan ini Berita Utama!” ucap salah seorang Reporter kepada Kameramennya dengan suara yang ceria dengan senyum yang sangat lebar.
Ketua Ma yang tidak ingin satu orangpun bisa keluar pun memutuskan mengeluarkan semua bukti-bukti kejahatan Heru dan Pak Bambang ke Seluruh Dunia.
“Aku akan mengakhiri semua ini dan memberikan Tuan Muda Dimas ketenangan yang sebenarnya. Aku harap setelah ini Tuan Muda akan bisa menemukan kebahagiaannya!” ucap Ketua Ma dengan suara yang rendah dengan senyum yang tulus mendoakan kebahagiaan Dimas.
Di sisi lain, Dimas yang mendapatkan tembakan di tulang rusuk pun terpaksa harus menjalankan Operasi pengambilan Peluru.
__ADS_1
“Segera siapkan peralatan dan Ruang Operasinya!” ucap salah seorang Dokter Senior dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam.
“Baik, Dok!” ucap Dokter lainnya yang juga berjalan mengikuti di belakang dengan suara yang patuh.
Arabella yang berdiri di luar Ruangan melihat Dokter yang keluar masuk ke Ruangan tempat Dimas dirawat pun hanya bisa diam melihat.
“Tuhan! Tolong selamatkan Dimas! Jangan ambil Dimas dariku, Tuhan!” ucap Arabella dalam hati dengan air mata yang tidak bisa dibendung dengan ekspresi wajah yang sedih serta tatapan mata yang khawatir.
Edo yang selalu berada di samping Arabella dan mengurusi keperluan Dimas selama dirawat di Rumah Sakit pun menjadi tidak tega melihat Arabella terus menangis.
“Nona! Jangan khawatir. Tuan Muda pasti akan selamat dan kembali kepada kita!” ucap Edo dengan senyum yang lembut sambil menyerahkan sapu tangan untuk menghapus air mata Arabella.
Arabella yang ingin melihat Dimas dipindahkan pun mengikuti dari Belakang dengan Edo selalu ada di sampingnya.
Namun saat Dimas telah masuk ke dalam Ruang Operasi, Seorang Perawat yang membawa tubuh Dimas keluar dan menghentikan Arabella lalu melarang Arabella untuk mendekat.
“Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk. Tolong tunggu di luar dengan tenang. Serahkan semuanya kepada Tim Dokter!” ucap Perawat tersebut dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang dingi sambil menundukkan kepala sebentar sebagai permintaan maaf.
Arabella yang mengerti pun menunggu di luar selama berjam-jam tapi tidak ada tanda-tanda Dimas akan segera keluar bahkan lampu di Ruang Operasi tidak sekalipun berganti warna menjadi hijau.
__ADS_1
“Dimas! Kau harus selamat! Kau sudah berjanji akan hidup bersamaku untuk selamanya! Kau tidak boleh melanggar janjimu itu!” ucap Arabella yang berdiri terdiam di depan pintu Operasi dengan tatapan mata yang lurus ke depan.
Edo yang tidak bisa melakukan apapun hanya bisa melihat dan mengawasi semuanya lalu tiba-tiba seseorang datang dan melaporkan sesuatu yang penting.
“Bos, bisa kita bicara sebentar!” ucap seorang Pria yang masih muda datang menemui Edo dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang panik.
Edo yang paham jika dirinya harus segera pergi dan mengurusi urusan penting itu pun meminta izin kepada Arabella yang dijawab dengan beberapa kata.
Tepat setelah Edo pergi, Ruang Operasi terbuka. Seorang Perawat keluar dari Ruangan dan menemui Arabella dan menyampaikan sebuah berita yang sangat mengejutkan.
“Maafkan saya, Pasien mengalami pendarahan yang sangat hebat dan saat ini membutuhkan trasfusi darah. Namun sayang stok darah di Gudang kita habis. Apakah ada saudara yang memiliki darah yang sama dengan Pasiern?” tanya Perawat tersebut dengan sikap yang sopan dengan suara yang lembut.
“Kalau boleh tau, apa golongan darah Dimas?” tanya Arabella dengan nada suara yang penasaran dengan tatapan mata yang tidak sabaran menunggu jawaban.
“Golongan Darah A Rh negatif!” ucap Perawat dengan suara yang tegas dengan tatapan mata yang menatap lurus ke arah Arabella.
#Bersambung#
Dimas yang memiliki darah yang langka ternyata membutuhkan transfusi darah. Apakah Dimas akan menemukan Darah yang sama? Tebak di kolom komentar ya..
__ADS_1