
Arabella yang mencoba mengintip melihat Dimas yang terduduk dalam posisi memejamkan mata. Arabella yang tidak tau apakah Dimas tertidur di depan pintu kamarnya atau tidak, tidak bisa melakukan apapun.
Arabella yang dilema segera kembali ke dalan kamar dan mengunci pintu kamarnya kembali lalu berjalan menuju tempat tidurnya.
Namun, Arabella malah berhenti di depan foto kedua orang tuanya yang telah meninggal. Arabella pun mengambil foto dan memeluknya dengan sangat erat kemudian menangis tersedu-sedu.
"Hu..Hu..Hu.." suara tangisan.
"Ayah, Ibu apa yang harus aku lakukan?" tanya Arabella dengan nada lirih dan air mata yang teru mengalir.
Sementara itu, Dimas yang tertidur terbangun saat mendengar suara pintu terbuka tapi ketika tersadar tidak ada orang namun samar-samar mendengar ada suara tangisan dan Dimas pun mengetuk pintu mencoba membujuk Arabella lagi.
"Bel, apa kau sedang dalam masalah? Kau bisa katakan padaku, aku janji tidak akan memberi tau siapapun dan mungkin saja aku bisa membantu menyelesaikannya." bujuk Dimas yang sedang berdiri di pintu dengan dahu menempel di pintu dan kepala yang menunduk ke bawah.
Arabella yang tidak ingin mendengar perkataan siapapun memilih mengabaikan semua ucapan Dimas. Dimas yang tidakingin menyerah pun berbicara dari balik pintu.
"Maaf! Aku sudah dengar semuanya dari Pak Antoni dan semuanya. Aku tau kau pasti akan marah pada mereka karena mengatakan yang terjadi padaku tapi percayalah jika mereka sangat perduli padamu dan sangat mengkhawatirkanmu." ucap Dimas sambil menatap ke depan dengan tangan kanan tegak lurus diletakkan di atas lutut yang sedang ditekuk.
"Maaf karena tidak memberi taumu tentang Clara tapo Clara adalah masalah laluku dan kau adalah masa depanku. Aku tidak ingin melihat kebelakang dan yang aku inginkan hanya menata hidupku bersamamu nantinya. Jika kau ingin mengetahui semua kebenarannya, kau bisa membuka pintu ini dan aku janji akan mengatakan semuanya dengan jujur bahkan dengan bukti agar kau percaya." ujar Dimas yang sudah putus asa sambil menghela nafas yang dalam.
Arabella yang mendengar perkataan Dimas sebentar lalu memikirkan semuanya dengan wajah muram sambil melihat ke foto kedua orang tuanya yang ada ditangannya saat ini.
"Aku tidak bisa seperti ini terus. Cepat atau lambat aku harus mengetahui semuanya, apa bedanya tau itu sekarang atau nanti!" ucap Arabella dalam hati sambil meneguhkan hatinya.
Arabella pun meletakkan bantal yang ada di pelukannya kemudian turun dari tempat tidurnya dan meletakkan foto keduanya kembali ke tempatnya semula. Lalu, Arabella berjalan dengan penuh rasa percaya diri ke arah pintu dan membuka pintu.
"Huff..." suara nafas.
"Klak!" suara pintu terbuka
"Masuklah." ucap Arabella sambil membuka pintu lalu segera masuk kembali dan duduk di atas tempat tidurnya.
Dimas yang mendengar ada suara pintu yang terbuka segera menoleh dan saat Arabella mengizinkannya masuk Dimas menjadi sangat senang
Dimas pun berdiri dan langsung segera masuk ke dalam kamar Arabella sambil menutup pintu agar tidak ada orang yang bisa mendengar apa yang mereka katakan.
__ADS_1
Dimas menarik kursi yang ada di dekat jendela kamar Arabella dan meletakkannya tepat di samping kanan tempat tidur Arabella.
Dimas yang dapat melihat Arabella kembali menjadi sangat senang meskipun di dalam keadaan yang sangat canggung.
"Akhirnya kesabaranku membuahkan hasil meskipun Arabella masih marah paling tidak dirinya sudah mau mendengarkanku. Akhirnya aku dapat merubah takdirku!" ucap Dimas dalam hati sambil duduk dengan wajah tersenyum ke arah Arabella.
Arabella yang menyadari jika Dimas terus melihat ke arahnya menjadi sangat tidak nyaman.
"Apa kau akan terus melihatku dan tidak mengatakan apapun? Dan jika begitu maka tidak usah masuk. Keluarlah!" teriak Arabella dengan wajah marah dengan tangan yang bergerak seolah-olah sedang mengusir orang.
Dimas yang menyadari kesalahannya segera meminta maaf dan melanjutkan penjelasannya.
"Maaf, maaf! Aku akan menjelaskan semuanya. Jadi apa yang ingin kau ketahui?" tanya Dimas sambil melirik ke arah Arabella.
"Aku ingin tau semuanya dan jangan coba berbohong karena aku pasti akan mengetahuinya." ucap Arabella sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuk ke wajah Dimas.
"Tenang saja. Aku akan mengetakan semuanya dengan jujur." jawan Dimas sambil menghela nafas.
"Clara adalah mantan kekasihku yang telah berhubungan lama denganku. Aku sangat mempercayainya tapi ternyata kepercayaanku disalahgunakan. Saat aku sakit, Edo menemukan bukti bahwa Clara memiliki hubungan dengan Heru dibelakangku bahkan hubungan mereka lebih lama daripada hubunganku dengan Clara." ucap Dimas sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi lalu melihat ke atas ke arah langit-langit rumah.
Arabella yang mendengarnya terdiam sebentar dan mencerna semua yang dikatakan Dimas sambil menganalisa mimik wajah Dimas.
Dimas yang melihat jika Arabella akan sulit percaya jika tanpa bukti maka Dimas segera mengambil handphonenya dan menelepon Edo.
"Segera ke kamar Arabella dan bawakan semua bukti yang sudah kau kumpulkan!" ucap Dimas dengan tegas dengan raut wajah serius dan sorotan mata yang tajam.
Tidak butuh waktu lama, Edo yang mendengar panggilan dan perintah mendadak dari Dimas segera bergerak mengambil semua buktinya dan berlari ke kamar Arabella dengan terburu.
"Tok..Tok..Tok.." suara pintu.
Dimas yang tau jika itu adalah Edo segera memberi perintah untuk masuk tanpa memint persetujuan Arabella. Arabella yang merasa diabaikan langsung memalingkan wajahnya dengan mulut yang manyun.
"Masuklah!" ucap Dimas dengan keras dan tegas.
Edo yang mendengar perkataan Dimas segera berdoa agar semua yang dibawanya adalah hal yang diinginkan Dimas karen Edo tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya jika gagal menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan Nyonya Masa depannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, bantulah hamba!" ucap Edo dalam hati dengan keringat yang mengalir ke pipinya.
Arabella yang mendengar ada suara pintu terbuka segera melirik dan melihat ke arah Edo datang yang kemudin menyerahkan sebuah map beserta tablet yang berisi rekaman video.
Arabella pun mengambil semuanya lalu melihat ke arah Dimas yang sedang duduk santai sambil tersenyum padanya.
Edo yang merasa tugasnya segera menyingkir dan keluar dari dalam kamar Arabella. Edo tidak ingin tinggal lebih lama di antara keduanya.
"Aku harus seger keluar dari situasi yang sangat tidak menyenangkan ini. Jika lebih lama lagi mungkin aku akan dalam bahaya." ujar Edo dalam hati sambil berjalan dengan hati-hati tanpa ada suara dan Dimas yang melihat tindakan Edo hanya diam dan berpura-pura tidak tau.
Arabella kemudian membuka semua bukti itu satu per satu dan semakin banyak Arabella melihat bukti semakin Arabella menyadari jika dirinya telah ditipu dan dimanipulasi oleh Clara demi kepentingannya.
Arabella akhirnya percaya dengan semua yang dikatakan Dimas. Arabella pun segera meminta maaf atas tindakannya yang kekanak-kanakan.
"Maaf!" ucap Arabella sambil memeluk bantalnya yang hanya menyisahkan mata dengan sangat erat.
Dimas yang merasa legah saat mendengar perkataan Arabella segera berdiri dan berjalan ke arah Arabella.
"Tidak apa. Ini bukan salahmu!" ucap Dimas sambil tersenyum sambil mengelus-elus kepala Arabella dengan lembut.
Arabella yang diperlakukan demikian merasa tidak enak hati lalu berbalik melepakan bantalnya dan memeluk Dimas.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku begitu. A-Aku sunguh ..." ucap Arabella yang terpotong karena Dimas mengangkat kepala Arabella dan sambil tersenyum berkata "Aku tidak marah padamu justru aku senang karena tidak ada rahasia lagi di antara kita." ucap Dimas dengan nada lembut dan menenangkan.
Arabella yang merasa malu menurunkan kembali wajahnya dan memeluk Dimas kembali yang kemudian dibalas pelukan oleh Dimas.
Namun tiba-tiba, Arabella yang tersadar akan tindakannya segera mendorong Dimas dan menyuruhnya keluar dari dalam kamar sambil melempar bantal yang ada di sampingnya.
"Keluar!" teriak Arabella dengan nada tinggi.
Saat Dimas keluar Arabella menyadari ada sesuatu yang aneh terjadi padanya sambil memegang dadanya.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku menjadi degdegan?" ucap Arabella dalam hati dengan wajah memerah seperti tomat.
#Bersambung#
__ADS_1