
Arabella dan Dimas pun pergi berkeliling di Taman Hiburan dan saat berada di Roller Coaster, Arabella pun mengajak Dimas menaiki itu.
"Wah, disini ramai sekali. Lihat! Itu Roller Coaster! Ayo naik itu!" ucap Arabella dengan semangat yang menggebu-gebu dan ekspresi wajah yang ceria sambil menunjuk ke arah Roller Coaster berada.
"Apa kau yakin mau naik itu? Itu tinggi sekali dan juga sangat curam." ucap Dimas mencoba bertanya berulang kali berharap agar Arabella mengubah keputusannya.
"Tidak! Aku mau naik itu. Ayo kita kesana." ucap Arabella dengan keputusan yang telah dibulatkan dengan ekspresi bahagia Arabella pun menarik Dimas berjalan menuju Roller Coaster.
"Tu-tunggu. Aku bisa jalan sendiri." ucap Dimas mencoba menghentikan Arabella dengan wajah tanpa ekspresi.
"Hmmm, Kenapa kau seolah menghindar dan terus meyakinkanku untuk naik wahana yang lain saja? Apa jangan-jangan kau takut naik Roller Coaster, Tuan Muda Arthama Jaya?" tanya Arabella dengan senyum jahilnya yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tidak takut hanya saja aku mengkhawatirkanmu. Tempat itu sangat tinggi dan curam. Bagaimana terjadi sesuatu padamu nanti? Aku hanya tak ingin kau kenapa-kenapa." ucap Dimas dengan tegas dan nada bicara yang santai lalu terdengar penuh dengan perhatian.
"Benarkah? Tapi aku tetap ingin naik. Kau sudah berjanji akan membelikanku apapun dan menuruti semua permintaanku. Apakah sekarang kau sedang menarik kata-katamu?" tanya Arabella dengan ekspresi wajah yang kesal dan sikap yang seperti anak kecil.
"Hah! Baiklah. Kau menang. Kita akan naik itu sekarang. Ayo beli tiketnya." ucap Dimas sambil menghela nafas lalu membujuk Arabella agar tidak marah lagi dengan senyum lembut dan nada bicara penuh perhatian.
"Ayo!" teriak Arabella dengan penuh semangat dan senyum yang lebar lalu berjalan dengan langkah besar menuju Roller Coaster dengan satu tangan terkepal terangkat ke atas.
Arabella menunggu di depan pintu dan Dimas mengantri membeli tiket. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Arabella dan Dimas pun menaiki Roller Coaster.
Arabella yang tidak merasa takut sama sekali pun selalu tertawa dan tersenyum menikmati permainan sementara Dimas hanya duduk diam di tempatnya dengan perasaan takut.
"Hanya satu kali ini saja. Aku harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah. Aku bisa." ucap Dimas dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar.
Setelah Permainan Roller Coaster berhenti, Arabella pun menarik Dimas dan berjalan menuju ke wahana selanjutnya.
Dimas yang tidak punya pilihan lain hanya bisa menuruti kehendak Arabella.
Arabella yang melihat Turangga Rangga (Kuda-kudaan berputar) pun membuat Dimas merasakan firasat buruk.
__ADS_1
"Wah itu Turangga Rangga! Aku sudah lama sekali tidak bermain itu." ucap Arabella dengan senyum lebar sambil melihat ke arah kuda yang terus berputar.
"Ayo kita naik itu." ucap Arabella lagi dengan ekspresi wajah yang ceria yang membuat Dimas langsung melihat ke tempat wahana.
"Ini hanya dinaiki anak kecil. Lihatlah disana." ucap Dimas mencoba membujuk Arabella sambil menunjuk ke tempat wahana yang dinaiki anak-anak dibawah 10 tahun.
"Tapi aku mau naik itu, aku sudah lama sekali tidak naik itu. Terakhir aku naik itu ketika ayah dan ibuku masih hidup dan sekarang mereka sudah tidak ada lagi." ucap Arabella dengan nada suara sedih dan rendah dan ekspresi wajah yang siap menangis.
Dimas yang mendengar apa yang dikatakan Arabella pun menyerah dan menuruti keinginannya.
Dimas yang menaiki Wahana Turangga Rangga hanya bisa diam menahan malu dilihat oleh anak-anak yang ada di sana.
Sementara itu, Arabella yang bahagia dapat menaiki wahana yang diinginkannya menjadi sangat senang.
Setelah beberapa jam berlalu, Dimas yang terus mengikuti Arabella mencoba menaiki semua wahana merasa jika lelah sekali dan seluruh tenaganya telah terkuras habis.
"Aku senang sekali hari ini. Terima kasih." ucap Arabella sambil memeluk boneka beruang berwarna cokelat yang telah didapatkan dari memenangkan salah satu permainan dengan ekspresi gembira.
Dimas yang tidak punya tenaga apapun pun mengajak Arabella untuk pulang kembali ke Kediaman Arthama Jaya.
"Syukurlah jika begitu. Ayo kita pulang." ucap Dimas dengan ekspresi wajah yang lelah dan tanpa ekspresi.
Sementara itu, Alexa yang telah selesai dengan urusannya di salon pun pergi ke Toko Bunga untuk menemui Shaha.
Alexa yang datang dengan dress mini berwarna navy dan rambut ikal terurai yang membuat Alexa terlihat sangat cantik dan anggun.
Alexa yang tidak bisa menunjukka identitasnya yang asli pun datang dengan memakai topeng dengan warna yang senada dengan dress mini miliknya.
"Maaf sudah membuat anda menunggu." ucap Alexa yang datang dengan senyum lembut dan cara jalan yang anggun dengan kaki jenjang yang indah.
"Agh, ti-tidak. I-ini salahku yang datang terlalu cepat." ucap Shaha dengan terbata-bata dan ekspresi wajah yang sangat gugup.
__ADS_1
"Jangan gugup santai saja dan maaf saya harus memakai topeng di pertemuan ini karena semakin sedikit anda tau tentang identitas saya maka semakin aman anda dan keluarga." ucap Alexa dengan senyum lembut dan sorot mata yang tajam di balik topeng.
"Apakah Nona ini berasal dari Keluarga yang sangat kaya raya jadi tidak bisa sembarangan bertemu dengan orang tapi melihat semua yang dapat dilakukannya membuatku mengerti." ucap Shaha dalam hati dengan ekspresi yang tidak terlihat gugup lagi.
"Silahkan duduk, Nona Shaha." ucap Alexa dengan senyum sambil memberikan kode lalu duduk di sofa pertama kali.
"Terima kasih." ucap Shaha dengan sopan sambil duduk kembali di tempatnya dengan cara duduk yang kaku.
"Santai saja dan jangan takut. Anda pasti penasaran alasan saya menolong anda dan sekarang saya akan mengatakannya dengan jujur." ucap Alexa dengan mengubah posisi duduknya dan terlihat lebih santai yang membuat Shaha menjadi lebih rileks.
"Saya menolong anda karena kita punya musuh yang sama dan saya membutuhkan bantuan anda untuk membalasnya." ucap Alexa dengan penuh semangat dan penakanan di setiap katanya sehingga membuat Shaha dapat dengan mudah mengetahui orang yang dimaksud.
"Apa maksud Nona Muda adalah Clara?" tanya Shaha tanpa fikir panjang dan ekspresi wajah yang penuh emosi yang menggebu-gebu penuh kebencian dan amarah.
"Benar sekali. Saya ingin meminta bantuan anda untuk membalasnya dan jangan khawatir masalah keluargamu. Saya akan menjamin keselamatan mereka dan saat tujuan saya telah terpenuhi saya akan memberikan kompensasi yang sesuai. Bagaimana?" tanya Alexa dengan nada santai tapi terdengar sangat meyakinkan.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa ayah saya dari genggaman Clara dan Nona Muda tidak perlu meminta tolong seperti itu karena jika Nona Muda ingin membalasnya maka saya akan melakukannya dengan senang hati." ucap Shaha dengan nada bicara yang sopan dan tersirat amarah dan dendam yang dalam pada setiap kata-katanya.
"Nona Muda bisa mengatakan saja apa yang harus saya lakukan dan asalkan itu dalam kemampuan saya maka saya pasti bersedia asalkan saya dapat menghancurkan keseombongan dan wajah angkuhnya." ucap Shaha dengan berapi-api dan ekspresi wajah yang marah dengan tangan yang terkepal dengan sangat erat.
"Tenang saja, Clara akan merasakan akibat dari perbuatannya dan anda hanya perlu melakukan dua hal yang pastinya dapat anda lakukan dengan mudah." ucap Alexa dengan ekspresi wajah yang senang dan puas.
"Kalau seperti itu maka saya menerima kerjasama ini."ucap Shaha dengan mudah dengan ekspresi wajah yang ceria.
"Selamat bergabung dalam Tim Penghancuran Clara." ucap Alexa dengan senyum cerah sambil berdiri dan berjabat tangan dengan Shaha.
"Kali ini aku akan pasti akan membalas semua perbuatanmu Clara. Kau membuat nyawa keluarga sebagai mainan dan tidak tau apa yang pernah kau lakukan pada Nona ini hingga kau berhasil memprovokasinya!" ucap Shaha dalam hati dengan sorot mata yang tajam dan senyum yang licik.
#Bersambung#
Jangan lupa Like, Komen dan tekan Love
__ADS_1
Terima kasih