
Semua Preman yang mendengar apa yang dikatakan Clara menjadi sangat terkejut dan sekaligus tertarik dengan tugas yang diberikan terutama saat Clara mengatakan bahwa bayaran untuk pekerjaan ini diluar dari ekspektasi mereka.
"Aku akan memberikan kalian uang seratus juta rupiah jika kalian berhasil melakukan tugas ini dengan baik." ucap Clara dengan wajah yang datar dan sorot mata yang tajam seolah menyimpan sebuah kebencian.
"Se-seratus juta!"
"Apakah aku tidak salah dengar?"
"Hei, kau! Jangan menipu kami!"
"Aku tidak menipu kalian. Aku akan memberikan kalian uang sepuluh juta sebagai perjanjian awal untuk kerjasama ini lalu jika kalian berhasil menculik orang yang dimaksud aku akan memberikan kalian uang empat puluh juta dan jika kalian benar-benar berhasil menodainya maka aku akan memberikan sisa uangnya saat itu juga!" ucap Clara dengan penuh keyakinan dan tanpa basa-basi.
"Bagaimana? Apa kalian mau bekerja untukku?" tanya Clara dengan ekspresi wajah yang tidak sabar dan sorot mata yang tajam.
Asisten Rumah Tangga yang mendengar tujuan Clara mencari preman adalah untuk menodai seorang gadis yang menjadi musuhnya mulai merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin.
"A-apa? Menodai seorang gadis? Apa aku tidak salah dengar? Nona Clara yang aku fikir hanya memiliki sikap yang buruk tidak disangka juga memiliki hati yang busuk! Aku tidak boleh menjadi musuhnya jika tidak maka aku akan mendapatkan nasib yang sama atau bahkan lebih menderita dari gadis yang dibenci Nona!" ucap Asisten Rumah Tangga yang melihat ke arah Clara dengan ekspresi wajah yang takut dan cemas dengan keringat yang mengalir deras ke dahi, pipi dan seluruh tubuhnya.
Tidak butuh waktu lama, ketiga preman itu pun langsung mengiyakan semua tugas yang diberikan oleh Clara dengan wajah yang penuh dengan ketamakan.
"Semua orang itu sama, mereka tidak akan tahan jika melihat uang didepan mata mereka apalagi dalam jumlah yang banyak!" gumam Clara dalam hati sambil mengeluarkan uang dalam sebuah amplop coklat dari dalam tasnya dengan sangat mudah dengan senyum sini.
"Aku akan memberikan uang ini sebagai tanda jadi kerjasama kita dan aku akan menghubungi kalian tentang detail pekerjaan kalian nanti. Jangan coba-coba untuk menghianatiku karena resikonya tidak akan terbayangkan oleh kalian!" ancam Clara setelah berbalik badan dan menoleh sedikit ke arah ketiga preman dengan senyum mengerikan dan sorot mata seperti elang.
"Anda jangan khawatir Nona, Anda dapat menghubungi kapanpun dan kami akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya asalkan bayaran kami setimpal dengan pekerjaan yang kami lakukan!" ucap salah seorang preman dengan senyum bahagia sambil memegang uang sepuluh juta.
Clara yang tidak memiliki niat untuk mengurusi preman-preman itu pun langsung pergi masuk ke dalam mobil meninggalkan Asisten Rumah Tangganya mengurusi semua hal yang diperlukan untuk membuat preman itu patuh.
Sementara itu, Arabella yang sangat senang akan kembali ke rumah kedua orangtuanya setelah beberapa minggu tidak bisa kembali setelah masalah penculikan yang terjadi. Arabella pun mengemasi barang-barang yang akan dibawanya kembali bersama Ria dalam suasana bahagia.
"Ria, apa kau yakin akan ikut aku pergi? Rumah kedua orangtuaku tidak sebesar Rumah milik Dimas." ucap Arabella dengan ekspresi sedih sambil melihat ke bawah dan menggenggam tangan Ria dengan sangat keras.
__ADS_1
"Nona bilang apa? Saya pasti akan ikut Nona karena saya adalah Pelayan Pribadi Nona dan maaf jika saya harus mengatakan ini tapi Tuan Muda sudah memerintahkan saya untuk mengikuti kemanapun Nona pergi dan terus melayani semua keperluan Nona." ucap Ria dengan senyum jujur di wajahnya.
Arabella yang mendengar perkataan Ria merasakan sedikit kekecewaan dihatinya tapi tidak bisa mengatakan apapun karena memang itulah tugasnya sebagai orang yang telah dibayar.
"Aku tau Ria melakukan semua itu karena itu tugasnya karena telah dibayar oleh Dimas tapi aku merasa sedikit kecewa!" ucap Arabella dalam hati sambil memaksakan senyum di bibirnya.
Ria yang merasa jika cuaca sangat indah mengajak Arabella untuk pergi jalan-jalan ke taman. Arabella yang jarang keluar merasa sangat senang dengan saran Ria hingga Ria pun bergegas membantu Arabella untuk bersiap-siap pergi.
"Nona, lihatlah keluar! Cuaca saat ini sangat bagus. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan ke taman!" ucap Ria dengan senyum cerah sambil menunjuk ke luar balkon.
"Wah, kau benar! Cuacanya sangat bagus!" ucap Arabella dengan senyum cerah dan mata berbinar saat melihat ke arah luar.
"Ta-tapi... Apa Dimas akan mengizinkan aku untuk keluar?" ucap Arabella tiba-tiba lalu memasang wajah sedih sambil mengingat bertapa posesifnya Dimas padanya bahkan dirinya harus berdebat terlebih dulu baru bisa kembali pulang ke rumah orang tuanya dan tentu saja dengan segudang syarat.
"Hah!" ucap Arabella yang menghembuskan nafas dengan lemah dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan tapi Ria yang tidak tega melihat kesedihan Arabella pun memberikan saran yang membuat Arabella menjadi ceria kembali dalam waktu singkat.
"Nona tidak boleh sedih. Nona kan belum mencobanya. Tuan Muda kan sangat menyayangi Nona jadi saya fikir Tuan Muda pasti akan mengizinkan Nona pergi apalagi hal ini akan membuat Nona bahagia bukankah kebahagiaan orang yang kita cintai adalah yang paling penting dari apapun!" ucap Ria sambil memberikan semangat dan dukungan kepada Arabella sambil mengepalkan kedua tangannya ke depan dengan ekspresi wajah yang serius.
"Semangat Nona!" teriak Ria dari belakang sambil melambaikan tangan ke arah kepergian Arabella dengan senyum cerah dan tulus.
Arabella yang ingin bertemu Dimas pun pergi menuju Ruang Kerja Dimas tapi dirinya tidak menemukan keberadaan Dimas lalu tiba-tiba Pak Antoni pun datang menyapa Arabella yang membuat Arabella menjadi terkejut.
"Tap! Tap! Tap!" suara langkah kaki.
"Aku akan pergi ke Ruang Kerjanya. Dimas pasti ada disana!" ucap Arabella dalam hati sambil berjalan dengan langkah besar dengan perasaan optimis akan mendapatkan izin dengan mudah.
"Tok! Tok! Tok!" suara ketukan pintu.
"Kriiittt! suara pintu terbuka perlahan.
"Di-dimas! Apa kau ada di dalam!" ucap Arabella dengan suara pelan sambil membuka pintu secara perlahan dengan ekspresi wajah yang cemas.
__ADS_1
"Hah! Kemana Dimas? Kok dia tidak ada disini. Biasanya dia selalu ada di sini!" gumam Arabella sambil membuka pintu yang setengah terbuka dengan satu tangan diletakkan di dagunya seolah sedang berfikir dan tangan lainnya masih memegang gagangan pintu dengan keras.
"Nona!" panggil Pak Antoni yang berdiri tepat dibelakang Arabella dengan ekspresi wajah yang datar namun bingung dengan sikap Arabella.
"Aaagghh!" teriak Arabella dengan sangat keras sambil membalik tubuhnya lalu berlari mundur menjauhi sumber suara dan akhirnya menyadari bahwa suara yang memanggil namanya adalah Pak Antoni.
"Oh Tuhan! Jantungku rasanya mau copot karena terkejut! Kenapa juga Pak Antoni datang tanpa bersuara seperti itu!" ucap Arabella dalam hati dengan ekspresi wajah terkejut dengan keringat yang mengalir di dahinya.
"Pak Antoni! Kau mengagetkanku saja!" ucap Arabella yang kesal sambil meletakkan kedua tangannya di dadanya sambil memajukan bibirnya ke depan seolah sedang mengambek.
"Saya minta maaf karena telah membuat Nona menjadi takut dan terkejut. Saya sungguh tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin memanggil Nona dan bertanya apa yang sedang Nona lakukan sambil mengendap-ngendap seperti itu!" ucap Pak Antoni dengan ekspresi wajah yang datar dan nada yang terdengar sanga tulus dan tidak dibuat-buat.
"A-aku hanya terkejut tapi Pak Antoni tidak perlu meminta maaf sampai seperti ini padaku!" ucap Arabella yang perasaannya telah berubah 180 derajat dengan ekspresi wajah yang canggung.
"Aku kemari ingin mencari Dimas tapi tidak menemukannya disini. Apa Pak Antoni tau dimana Dimas sekarang?" tanya Arabella sambil tersenyum dan menggaruk-garuk pipinya dengan satu jari dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Ah! Tuan Muda sedang bertemu dengan salah satu Clientnya saat ini dan sepertinya Tuan Muda sedang melakukan negosiasi kerjasama." ucap Pak Antoni sambil menjelaskan kepada Arabella dengan ekspresi wajah yang datar.
"Ah! Jadi aku tidak bisa bertemu Dimas dan hancur sudah rencanaku! ucap Arabella dalam hati dengan suasana hati yang tidak baik dengan sorot mata seperti seorang tikus yang menolak menjadi bahan uji coba.
"Nona tidak bisa bertemu secara langsung tapi bisa bertemu secara virtual. Nona bisa menghubungi Tuan Muda dan mengatakan tujuan Nona." ucap Pak Antoni sambil memberikan saran kepada Arabella.
"Anda benar. Baiklah aku akan menghubungi Dimas kalau begitu" ucap Arabella dengan senyum bahagia sambil berjalan keluar dari Ruang Kerja dan pergi ke kamarnya.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
😊😍😘
Terima kasih
__ADS_1